Aku kesal dan benar-benar merasa kecewa. 
Bagaimana tidak, tim kesayanganku Inter Milan harus tersingkir dari persaingan merebut piala paling bergengsi di benua biru Eropa. Liga Champions. Hasil pertandingan semalam benar-benar menyesakkan dada. Inter kembali kandas di tangan tim asal Inggris, Liverpool dengan angka 0-1 sehingga secara aggregat inter kalah 0-3.
Sayang keajaiban itu tidak terjadi, padahal meski tertinggal 0-2 di Anfield, aku merasa yakin dan percaya, keajaiban akan terjadi dan Inter mampu memetik kemenangan yang lebih spektakuler, seperti yang dialami tahun 1965. Tapi sekali lagi, sungguh disayangkan. Keajaiban itu tidak terjadi.
Inter, yang baru saja merayakan perayaan ultah yang telah mencapai umur 1 abad, memang tidak kalah dalam permainan tadi malam. Namun perbandingan 10-11 terlalu berat untuk dilewati. Kartu kuning
ke-dua buat Burdisso yang berujung dengan kartu merah
, membuat perjuangan Inter semakin berat dan sulit. Inter pun harus kandas. Untuk musim ini, perjuangan Inter untuk digdaya di Eropa harus pupus.
Lantunan nada-nada kecewa masih terasa, begitu dalam dan tajam. Mungkin aku terlalu berharap lebih. Tapi aku tidak menyesalinya. Seperti kata yang pernah aku ucapkan “Bermimpilah meraih bintang-bintang, biarpun gagal, setidaknya kita sudah berada di langit”. Sebuah kata yang mampu memotivasiku untuk mau menggapai hal-hal yang besar, sehingga tergeraklah hasrat di dalam dada untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dibandingkan yang sekarang aku lakukan.
Ah… biarlah kekecewaan ini menjadi bumbu bagiku untuk semakin termotivasi untuk lebih mencintai Inter. Toh, aku sendiri juga sudah terlalu sering dikecewakan
, kepercayaan dan cinta yang aku berikan dikhianati begitu saja. Ia hilang selamanya dan ia pergi. Menyedihkan. Setidaknya tidak saat ini, dengan orang yang begitu aku cintai saat ini, aku begitu yakin dan percaya dengannya, karena sekali lagi aku sudah memberikan kepercayaan kepadanya sepenuhnya…… Dan aku berharap tidak lagi dikecewakan, karena aku yakin, kalau aku jatuh lagi, mungkin aku akan hancur berkeping-keping. Jatuh dari lantai 10 sich
. Mampus dech. Apalagi batinku telah malas menyanyikan lagu “Munajat Cinta”-nya The Rock.
Aku terus berharap dapat menemukan kebahagian dan kesuksesan. Jangan sampai aku terus bermain dalam lantunan nada-nada kekecewaan.






