Tulisan ini hanya akan di publish dalam waktu 10 jam, karena tulisan ini akan dimasukkan ke dalam buku kumpulan cerpen milikku. Selamat menikmati….
————————————————–
Aku suka menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Melalui tulisan, aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Menulis telah menjadi hobiku sejak pertama kali aku bisa menulis dan membaca, saking cintanya pada menulis, aku suka mencoret-coret dinding kamar rumahku.
Seiring dengan waktu, aku selalu menyempatkan diri menulis sesuatu setiap hari, biarpun sedikit, entah menulis ulang sebuah kisah menarik seseorang, menuliskan kegundahan hatiku, menuliskan cerita yang tiba-tiba muncul dalam imajinasiku ataupun menuliskan sebuah dongeng yang terinspirasi dari hal-hal yang aku lihat dari sekitarku.
Dari dulu, banyak teman-teman, guru bahkan orang-orang yang bertanya,
“Fred, apa cita-cita kamu?”
“Penulis”
Penulis. Ya aku ingin menjadi penulis, karena melalui tulisan aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku. Tapi semua orang seolah ragu dengan pekerjaan penulis, masa depan tidak cerah, itu alasannya. Tapi aku bersikukuh untuk tetap menjadi seorang penulis. Karena aku suka menulis.
***
Aku suka menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Melalui tulisan, aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Semua tulisan-tulisanku aku tuliskan di sebuah buku, tanpa kecuali, hanya di sebuah buku tulis biasa, buku yang aku beli dari hasil uang yang aku sisihkan dari uang jajanku yang seadanya.
Hari berganti hari, tulisan demi tulisan aku tuliskan ke dalam buku itu. Entah sudah berapa kali aku mengganti buku karena buku-buku sebelumnya telah penuh. Tapi buku-buku sebelumnya masih tersimpan dengan baik.
“Mungkin suatu saat ini bisa dinilai sebagai sebuah karya besar”
Itulah yang selalu aku impikan dan aku harapkan, meskipun aku sadar itu hanya mimpi.
Sering pula aku meminta teman-temanku untuk membaca tulisan-tulisanku dan meminta mereka untuk memberikan sedikit komentar terhadap tulisanku, berharap mendapat ungkapan rasa puas, kritik yang bisa membuat aku dapat menulis lebih baik lagi esok dan saran-saran yang dapat menjadikan tulisan-tulisanku menjadi lebih hidup serta bermakna.
***
Aku suka menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Melalui tulisan, aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Menulis kelihatannya hanyalah sebuah hal mudah, menulis sesuatu di atas secarik kertas kemudian tinggal mencorat-coret dengan kata-kata yang terpikirkan. Tapi sebenarnya menulis tidak hanya sekedar menuangkan pikiran, tidak hanya mencetuskan gagasan, tidak hanya menyampaikan perasaan, sedikit poles sana, poles sini. Menulis itu seperti sebuah kehidupan, membentuk serangkaian cerita yang saling berjalinan, berkaitan dan bertautan, bukan sebuah kumpulan teori dan sekedar konsep.
Sebagai orang yang bercita-cita untuk menjadi penulis, aku memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang aku perlukan. Mulai dari mencari ide dan inspirasi. Menulis dan memilih dengan kata-kata yang paling sesuai dengan kegundahan hati, dan memastikan semuanya tampak indah dan sempurna, tak peduli berapa lama jadinya, ya meskipun tidak ada di dunia ini yang sempurna, tapi sebuah perasaan puas di hati apabila semua tampak sesuai dengan harapan. Akhirnya aku menyelesaikan tulisan yang coba aku bagi dan membaca berulang-ulang kali untuk mengagumi hasil karyaku.
***
Aku suka menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Melalui tulisan, aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Pernah suatu ketika aku menuliskan sesuatu, tapi entah kenapa, aku begitu tidak percaya diri dengan tulisanku. Selama ini, hampir semua tulisan-tulisanku cukup memuaskanku meskipun tidak bagus-bagus amat. Tapi tulisan yang satu ini sangat tidak sesuai harapanku. Ia terlihat jelek sekali. Seolah dengan cuma satu tulisan itu, merusak keseluruhan tulisan-tulisan di bukuku.
Aku mencoba membaca berulang-ulang, berharap mungkin aku bisa berubah pikiran dan menganggap itu sebagai tulisan yang bagus. Tapi, semakin aku baca, yang ada hanyalah perasaan semakin kecewa. Ingin rasanya merobek buku itu, membakarnya sekalian atau paling tidak merobek lembaran yang aku anggap mengecewakan. Aku merasa telah membuat sebuah tulisan yang sangat jelek dan gagal, perasaanku begitu gundah gulana. Tapi salah seorang sahabatku dengan bijak berkata, “Biarkan saja tulisan itu seperti itu dan perhatikan apa yang akan terjadi.”
Ketika aku meminta teman-temanku untuk membaca tulisan-tulisanku, aku selalu berusaha menghindarkan mereka untuk membaca tulisan itu. Aku tak suka jika ada orang yang membacanya. Aku tak sanggup mendengar komentar bahwa tulisan itu begitu jelek. Lalu suatu ketika, kira-kira satu bulan setelah itu, aku lupa untuk menghindarkan mereka untuk membaca tulisan itu, dan ia pun membacanya.
“Ini tulisan yang bagus” komentarnya dengan santai.
“Lho” aku merespon dengan terkejut, “kamu gak bawa kacamata ya? Kamu cuma mau menghibur aku atau mau nyindir aku? Tidakkah kamu lihat tulisan ini sangat jelek?”
Apa yang diucapkannya selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandanganku terhadap tulisan itu, berkenaan dengan diriku sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Ia berkata, “ya, aku bisa melihat dan menyadari kalau ini adalah sebuah tulisan yang jelek, namun aku juga bisa melihat banyak tulisan-tulisan bagus yang kamu buat dan kamu tulis di buku ini”
Aku tertegun. Untuk pertama kalinya dalam waktu satu bulan, aku mampu melihat dengan lebih baik tulisan-tulisanku yang lain selain tulisan jelek itu. Di halaman depan, di halaman tengah, di halaman sebelumnya dan di halaman sesudah dari halaman tulisan jelek itu adalah tulisan-tulisan yang bagus, bukan tulisan yang sempurna, tapi tulisan yang indah dan menarik. Selama ini mataku hanya terpusat pada tulisan jelek yang pernah aku buat, aku terbutakan oleh hal-hal lainnya. Itulah sebabnya aku tak tahan melihat tulisan itu, atau tak ingin orang lain membacanya. Itulah sebabnya aku pernah ingin merobeknya.
Sekarang aku dapat melihat dengan lebih baik tulisan-tulisan yang bagus, tulisan jelek itu pun tidak tampak terlalu jelek lagi. Buku itu pun menjadi sebuah buku yang semakin indah, penuh warna dan ragam. Sekarang, aku sudah lupa persisnya dimana tulisan jelek itu, entah dibuku yang mana, di halaman berapa. Aku benar-benar tak dapat melihat kejelekan itu lagi.
***
Aku suka menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Melalui tulisan, aku menuangkan segala kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Meskipun akhirnya bukan ini yang aku pilih untuk menjadi jalan hidupku, menulis hanya menjadi hobi dan kegiatan di waktu senggang. Tapi melalui tulisanlah aku menyampaikan kegundahan hatiku pada dunia.
Kita sering melihat, berapa banyak orang berhubungan dan menjalin kasih yang berakhir karena yang mereka lihat dari pasangannya hanyalah sebuah “tulisan jelek”. Berapa banyak orang yang menjadi depresi, putus asa, kecewa, karena yang dilihat dalam dirinya hanyalah sebuah “tulisan jelek”. Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak “tulisan-tulisan yang bagus” dalam diri kita. Malahan, setiap kali melihatnya, kita hanya terfokus pada kesalahan yang kita buat. Semua yang kita lihat hanya pada kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata.
Kita semua memiliki “tulisan jelek” dalam diri kita, namun “tulisan bagus” didalam diri kita lebih banyak daripada “tulisan jelek” . Begitu kita menyadarinya, melihatnya dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita, semuanya tidak akan tampak begitu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita.
Freddy Setiawan
29 Agustus 2009