Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Archive for March, 2008

Ketika Surat Abraham Lincoln Menjadi Barang Lelang

Posted by freddysetiawan on March 31, 2008

Ketika sedang membaca BBC, dapat sebuah kabar yang lumayan menarik bagiku. Sebuah Surat Abraham Lincoln.

Kertasnya lusuh dan berwarna kuning karena tua dan sebagian ujungnya sudah rusak sementara tinta menetes di beberapa tempat. Tapi tanda-tangan dalam surat-surat tua itu tidak diragukan lagi, dan amat penting. Diperlukan sedikit imajinasi dan juga memperhatikan agak lebih lama supaya bisa mendapatkan gambaran tentang penulisnya.

Abraham Lincoln, mungkin, sambil mengelus-ngelus jambangnya ketika menulis surat dari ‘Executive Mansion’ di Washington tanggal April 5 Tahun 1864.

Sementara Presiden Amerika pertama, George Washington, duduk di mejanya di Mount Vernon, Virgina, pada tanggal 2 Juni 1784. Atau mungkin John Brown –yang sepanjang hidupnya berjuang untuk membebaskan perbudakan di Amerika– sedang menulis suratnya di ruang tahanan setelah ditangkap karena berupaya memimpin gerakan perjuangan perbudakan dengan menggunakan senjata.

Surat ke delapan anda yang baik hati dan amat disambut itu tiba tepat pada waktunya,” tulis John Brown kepada pendeta Herman L. Vaill. Istilah tiba tepat pada waktunya itu tampaknya benar karena 2 minggu setelah itu, John Brown dieksekusi dengan hukuman gantung.

Jawaban Lincoln
Surat John Brown itu termasuk dalam lelang surat-surat bersejarah di Balai Lelang Sotheby’s Newyork. Jelas yang menjadi inti dari lelang yang akan digelar Kamis 3 April 2008 itu adalah surat yang ditulis Presiden Abraham Lincoln.

Presiden Lincoln dilaporkan menerima surat sekitar 250 hingga 500 setiap harinya, dan sebagian besar ditangani oleh para stafnya. Menurut buku ‘Dear Mr Lincoln: Letters to the President‘ yang ditulis oleh Harold Holzer, kantung surat Lincoln berkembang sampai pada tingkat yang hampir tidak bisa ditangani lagi.

Surat-surat itu terdiri dari permohonan maaf, permintaan tanda-tangan, gagasan tentang melaksanakan perang, maupun ramalan atau mistik dan juga ancaman,” seperti tertulis dalam buku tersebut.

Lincoln sendiri jarang menyentuh semua surat-surat yang dikirim kepadanya, namun salah satu yang dibacanya adalah petisi dari sekelompok anak-anak pada Bulan April 1864. Sekitar 196 anak-anak menulis surat yang berjudul ‘Petisi anak-anak untuk meminta presiden menghentikan semua budak anak di negara ini.’

Jawaban Lincoln amat menyentuh dan seperti surat dari seorang bapak, kata ahli manuskrip di Sotheby’s, Selby Kiffer. “Ceritakan kepada anak-anak ini,” tulis Lincoln, “bahwa saya amat gembira dengan suara hati mereka yang penuh keadilan dan simpati, namun saya tidak punya kekuatan untuk memenuhi yang mereka minta. Saya yakin mereka pasti ingat Tuhan mempunyai kekuatan dan tampaknya akan melakukannya,” begitulah jawaban Lincoln.

Menurut Kiffer, Lincoln tidak bisa membalas seperti ketika dia masih menjadi seorang penasehat hukum yang dingin, karena konstitusi tidak memungkinkan hal tersebut. “Dengan suratnya itu, dia menjelaskan bahwa melalui dia maka Tuhan akan membebaskan budak anak,” kata Kiffer kepada para wartawan saat menjelaskan lelang surat-surat tersebut.

Surat Lincoln itu diperkirakan akan meraih harga antara 1,5 hingga 2,5 juta. Kita nantikan saja di acara lelang nanti.

Posted in Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , | Leave a Comment »

Tulisan Dikala Sepi

Posted by freddysetiawan on March 30, 2008

Dermaga Cinta (By : Erwin Arianto)

Laksana setitik air di sahara
Sejuk jiwa yang kehausan
Seperti itu kurindu datang sang pencinta
Untuk menyegarkan jiwa yang dahaga

Awan siang pun berarak gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cinta ini terbit laksana mentari
Yang selalu setia menunggu dan menanti tanpa salah

Bawalah aku bersama bahagia
Dalam perjalan rasa yang ada
Tak sanggup nalar ini memikirkan asa
Tentang keindahan kita

Cinta…
Ke mana kapalmu melempar sauh
Disana juga ku akan berlabuh
Kemana bidukmu kau arahkan
Disanalah Dermaga hadirmu kuinginkan
Dalam Kesendirianku, mencari makna yang ada

Posted in Hanya Sebatas Coretan | Tagged: | Leave a Comment »

Terlena Dalam Permainan Seru

Posted by freddysetiawan on March 29, 2008

Sekarang memang sedang masa-masa yang melelahkan , mulai dari tugas yang begitu banyak dan terus mengalir tanpa henti sampai-sampai aku memutuskan untuk melepasnya, masa-masa ujian tengah semester baik di ilmu komputer maupun ilmu filsafat, kondisi mata yang cepat mengantuk , kondisi budaya semester genap (budaya di masa semester genap memang membawa penyakit bagi aku dan beberapa manusia sejenis, apalagi di semester ini diisi oleh final liga champion, akhir dari perjalanan panjang liga-liga elite eropa, membuktikan bahwa memang semester ini benar-benar semester yang panjang dan penuh tantangan), sampai dengan kondisi keuangan yang sedang tidak karuan. Nasib….Nasib….

Tiba-tiba aku jadi teringat dikala dosenku menasehatiku habis-habisan gara-gara aku yang malas, “Kamu seharusnya belajar lebih giat, jangan terus jadi pemalas seperti ini, bapak tahu sebenarnya kamu berbakat dan punya potensi yang luar biasa kalau kamu rajin dan mau berusaha, tapi kalau kamu masih suka bolos seperti kemarin, kamu gak akan pernah bisa berhasil

Aku memang sudah bertekad berubah dan ingin jadi lebih rajin , aku ingin membuang jauh-jauh sifat malas yang menggerogoti tubuhku, aku benar-benar ingin lebih serius menjalani setiap tanggungjawab yang aku emban . Tapi, sekali lagi, itu telalu berat untuk dilewati, aku masih belum kuat, dan kemarin tampaknya aku akan melepas sebuah proyek yang harus aku kerjakan. Haruskah aku kalah lagi melawan sifat malas dalam diriku? Tekadku berkata tidak. “Kau adalah pejuang tangguh. Buktikanlah!“. Andai aku bukan seorang petempur, mungkin aku akan menyerah. Tapi kali ini tekadku berhasil mengalahkan malasku sehingga aku pun menyelesaikan proyek itu. Syukurlah.

Jangan mengeluh. Lakukan! Try! Try! Try! Kamu pasti bisa” tiba-tiba aku jadi mengingat nasehat seorang spesial dalam hidupku. Mungkin itulah yang membuat aku sukses kali ini.

Godaan memang tiada henti, sekarang aku sedang terlena dengan sebuah permainan seru , padahal senin depan ada ujian Teknik Multimedia, selasa ada ujian Sistem Operasi, rabu ada tugas Sejarah Para Filsuf, sabtu ada ujian Filsafat Barat yang sekuler, sedang aku belum membaca apa-apa tentang 3 bab terakhirnya, belum lagi setiap bab begitu tebalnya. Entah ada apalagi yang terlewatkan disela-sela minggu depan itu, biasa aku sering ceroboh melewatkan satu hal penting. Hidup…Hidup…

Game yang sedang kutekuni ini adalah sebuah permainan di laboratorim profesor fisika, game yang berjudul Crazy Machine, kita diharuskan menjawab permasalahan yang diberikan dengan alat-alat yang tersedia, setiap stagenya semakin menantang saja, sehingga aku benar-benar tidak pernah berhenti mencoba. Bahkan dari total 103 stage, saat ini aku sudah memasuki stage ke-60-an. Ck…ck… semoga saja, aku dapat membagi waktu antara bermain game dan belajar dengan baik. Semoga !!!

foto game Crazy Machine

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Meninggalkan Maksiat Kemudian Meninggal Malam Harinya

Posted by freddysetiawan on March 28, 2008

Meninggalkan Maksiat Kemudian Meninggal Malam Harinya, Lalu Allah SWT Karuniakan Ampunan Untuknya

Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Adalah Dzulkifli tidak pernah menahan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Suatu saat datanglah kepadanya seorang wanita, lalu Dzulkifli memberikan kepadanya uang sebesar enam puluh dinar dengan syarat dia boleh menggaulinya. Saat dia duduk seperti posisi seorang laki-laki di atas isterinya, si wanita tadi gemetar dan menangis? Apakah kau merasa aku memaksamu? Jawab si wanita, tidak. Akan tetapi perbuatan ini belum pernah aku lakukan, dan yang mendorongku melakukanya tak lain adalah tekanan ekonomi. Dzulkifli berkata, ‘Kau akan melakukanya sementara sebelumnya tidak pernah? Sekarang pergilah engaku dan ambilah uang dinar itu untukmu.’ Kemudian Dzulkifli bersumpah, ‘Demi Allah, mulai sekarang Dzulkifli tidak akan pernah lagi bermaksiat kepada Allah selamanya!’. Malam harinya Dzulkifli meninggal dunia, dan pada pagi hari terdapat tulisan di pintu rumahnya; ‘Sungguh Allah telah mengampuni Dzulkifli’.

Sumber: Kumpulan kisah islami

Posted in Kajian Islam | Tagged: | 1 Comment »

Isi Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik (UU-ITE)

Posted by freddysetiawan on March 27, 2008

Download UU ITE

Undang Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Posted in Sekilas Info | Tagged: | 6 Comments »

Sebuah Kesalahan Masa Lalu

Posted by freddysetiawan on March 27, 2008

Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu, sebuah kisah kesalahan tentang masa lalu , entahlah… apakah itu sebuah kesalahan ataupun hal yang biasa-biasa saja dilakukan, tapi aku dan sahabat-sahabatku menganggap itu adalah sebuah kesalahan, dan aku mencatat dalam kisah klasik ini sebagai kesalahan ketika pikiran dan jiwa sedang tidak jernih .

Sesuatu kesalahan yang kulakukan, tapi bukan noda dan bukan suatu kejahatan, hanya sebuah ketidaktepatan kondisi dan situasi, hanya sebuah ketidakpasan otak yang terlalu dipenuhi masalah dan rintangan, dikala gerimis sedang menghampiri , tatkala langit sedang tak berpihak kepadaku dan ketika aku sedang dalam masa-masa yang tepuruk menempuh kehidupan yang sulit ini…. Hanya itu yang boleh ku katakan.

Aku memang sedikit enggan untuk terus menyambung kisah, apalagi kalau mengingat hal itu terjadi karena memang kepalaku sedang tidak kondusif dalam berpikir, begitupula dengan hari ini , so aku hanya berusaha untuk dapat mengerem melakukan hal-hal bodoh dan mencoba untuk menjadi lebih baik.

Alam dan waktu akan tetap berputar, walau tiada apa dapat aku ceritakan di sini, tetapi benak ku tetap ku ingin untuk terus ada disini. Mungkin tidak ada yang sadar, melihat dan belum ada yang mengerti benar. Tapi aku hanya ingin sedikit menulis, meski kadang itu hanya satu bait . Sebuah kesalahan masa lalu, ketika pikiran sedang rapuh

Jeki (sebutlah itu namanya agar ia tetap seperti apa adanya) masuk ke toko obat dan membeli sebiji ko***m. Dengan riang dia bilang kepada pemilik toko bahwa sebentar lagi dia akan makan malam di rumah pacarnya. Bapak kan tahu sendiri, biasanya setelah itu kan ada kelanjutannya, tambah Jeki sambil menyeringai. Ko***m pun berpindah tangan.

Baru beberapa langkah ke luar toko, dia kembali masuk. Saya minta satu lagi, katanya. Adik pacar saya juga cantik. Agak genit pula. Saya rasa dia juga naksir saya. Siapa tahu malam ini saya mujur. Ko***m kedua pun berpindah tangan.

Jeki kembali masuk dan minta tambahan satu ko***m lagi. Begini, ibunya juga tak kalah seksi. Penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Dan kalau duduk di depan saya, dia selalu menyilangkan kaki. Saya yakin dia juga tak keberatan kalau saya dekati….

Dengan berbekal tiga ko***m tersebut, Jeki datang ke rumah pacarnya sambil tak putus bersiul. Sajian sudah siap. Pacar Jeki, adik dan ibunya sudah menunggu. Jeki pun langsung bergabung. Mereka menunggu sang ayah.

Begitu sang ayah masuk ke ruang makan, Jeki langsung memimpin doa sambil menunduk dalam-dalam. Yang lain-lain ikut menundukkan kepala.

Satu menit berlalu. Jeki makin khusuk berdoa. Dua menit. Jeki terus komat-kamit cukup panjang untuk sebuah doa sebelum makan.

Pada menit keempat, pacarnya menyenggol kakinya dan berbisik, Saya baru tahu kamu ternyata sangat religius.

Sambil terus menunduk, Jeki menjawab dengan suara hampir menangis: Saya juga baru tahu ayah kamu punya toko obat…

Bodoh………………….

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 3 Comments »

Menggeledah Secuil Tentang Sanjungan

Posted by freddysetiawan on March 26, 2008

Ada sebuah cerita menarik yang aku dapatkan dari dosen filsafatku ketika ia hendak mengakhiri kelas. Seperti biasanya dosen yang murah senyum itu selalu memberikan cerita tertentu tanpa memberikan makna dan bahan pelajaran dari kisah tersebut, argumennya cerita itu sebagai bahan renungan bagi mahasiswa, sehingga membuat kita berusaha untuk berpikir dan memahami kehidupan dunia yang luas namun sempit ini.

Sebuah cerita tentang sanjungan, menyanjung adalah seni memberi tahu seseorang dengan tepat apa yang orang itu pikirkan tentang dirinya sendiri. Sebagai tanggapan terhadap kondisi sosial, sanjungan membantu orang untuk bertindak aman. Tetapi, hal ini harus digunakan dengan bijak. Meskipun mengabaikan keburukan orang lain yang mencolok dan mengecilkan kesalahan dan kegagalannya merupakan bentuk sanjungan, melakukan dengan halus amatlah penting untuk berhasil dalam memberi sanjungan.

Alkisah setelah dinyatakan lulus seleksi ujian calon pejabat ahli, seorang pria muda ditunjuk menjabat sebagai salah satu staf ahli di suatu bidang dan ditetapkan tinggal di ibukota. Dia pergi untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mantan atasannya.
Bekerja di ibukota seperti itu tidaklah mudah. Kamu harus lebih rajin dan berhati-hati
Baiklah. Terima kasih atas nasehat dan dukungan bapak” kata anak muda ini. “Saya juga telah menyiapkan seratus ungkapan semanis madu di benak saya. Kalau nanti saya bertemu dengan atasan saya di sana, saya akan menggunakannya dengan sebaik mungkin. Dia pasti akan senang
Bagaimana kamu dapat melakukan hal ini?” Tanya mantan atasannya tidak senang. “Kita adalah pria sejati. Kita mempunyai prinsip. Kita tidak seharusnya menggunakan sanjungan
Sayangnya, pada kenyataannya kebanyakan orang senang disanjung” jawabnya putus asa. “Hanya beberapa orang pria yang benar-benar sejati seperti anda yang tidak menyukai sanjungan
Mungkin kamu benar” Ia mengangguk sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri

Dalam perjalanannya menuju ibukota, pria muda ini menceritakan kepada temannya.
Saya sudah menggunakan satu dari persediaanku. Sekarang saya memiliki sembilan puluh sembilan ungkapan yang tersisa

Terkadang, tidak ada yang lebih penting daripada diberitahu bahwa anda membenci sanjungan. Setiap orang menyukai penghargaan yang tulus dan mendapat pujian, tapi bukan sanjungan. Tetapi sanjungan, seperti kesopanan, sekalipun sudah dilakukan, tidak akan menyakiti sebesar seperti keterusterangan dan sikap kasar. Sanjungan akan sangat efektif bila si penyanjung percaya akan kebohongan dan yang disanjung tidak menyadari hal itu sebagai sanjungan.

Posted in Motivasi dan Inspirasi | Tagged: | 1 Comment »

Sebuah Ungkapan Semangat

Posted by freddysetiawan on March 25, 2008

Seorang sahabat sedang duduk termenung meratapi keadaan dirinya yang selalu kalah dalam pertempuran, ia mulai merasa rapuh dan tidak memiliki niat lagi untuk terjun ke medan perang, dimana kemenangan terasa jauh dari tangannya .

Aku hanya bisa memberi support dan meyakinkannya untuk tidak menyerah. “Perlu kamu ketahui bahwa bunga tidak mekar dalam waktu semalam, kota Roma tidak dibangun dalam sehari, kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan, cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, dan penantian kita tidaklah sia-sia. Yang penting terus berjuang

Hal tersebut mengingatkan pikiranku dikala masa-masa suram sering datang ketika aku kalah dalam pertempuran dan menelan banyak perasaan dan korban jiwa . Dimana aku terseok-seok dalam menjalani dunia nyata. Hingga aku mendapatkan nasehat dari seorang Jenderal besar dalam mimpiku yang fenomenal dan membuka cakrawala hatiku.

Ia hanya berkata beberapa hal
Cinta dan kasih sayang tidak diciptakan tapi dilahirkan. Kadang kita merasa tidak memiliki, tapi apa yang kita rasa sering salah dari kenyataan. Setiap manusia diciptakan berpasangan, jangan berhenti mencari jika belum menemukan yang tepat Kegagalan adalah cambuk untuk menang, jadikan kegagalan hari ini sebagai batu loncatan untuk kebangkitan,menjadi lebih baik dan tidak menyia-nyiakan lagi apa yang ada

Kata-kata tersebut benar-benar memacuku untuk tidak cepat menyerah dan beberapa hari yang lalu, dengan izin Allah Yang Maha Kuasa, akhirnya, aku dapat menumbangkan beberapa pohon raksasa yang selalu menghalangiku mendapatkan sinar matahari. Aku benar-benar terharu dan merasa sangat bersyukur. Terima Kasih Semangat.

Ayo… Semua dari kita pasti bisa dan akan menggapai semua mimpi, yang penting jangan pernah putus asa dan menyerah. Terus berjuang dan tetap semangat !!!

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Sebuah Tulisan Tentang Bandung Lautan Api

Posted by freddysetiawan on March 24, 2008

Kemarin aku melihat sebuah rekaman video Arsip Nasional Republik Indonesia yang diputar di salah satu televisi Swasta. Sebuah kisah tentang Bandung Lautan Api, pada tanggal 24 Maret 1946, 62 tahun yang lalu. Aku benar-benar terinspirasi.
Sedikit kita menguak cerita Tentang Bandung Lautan Api

Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu “Halo Halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. Jejak Perjuangan “Bandung Lautan Api” membawa kita menelusuri kembali berbagai kejadian di Bandung yang berpuncak pada suatu malam mencekam, saat penduduk melarikan diri, mengungsi, di tengah kobaran api dan tembakan musuh. Sebuah kisah tentang harapan, keberanian dan kasih sayang. Sebuah cerita dari para pejuang kita.

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.

Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.

Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada bangsa Indonesia yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh Bandung. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik “bumihangus”. Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala.

Seperti yang diberitakan Kantor Berita ANTARA: “Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pengalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini” (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).

Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduiduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Benar-benar sebuah kisah yang luar biasa. Mari kita sebagai bangsa Indonesia jangan sia-siakan perjuangan para pejuang-pejuang terdahulu. Betapa besar pengorbanan mereka, betapa gigih usaha mereka.
Ayo bangun bangsa ini !!!

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: | 1 Comment »

Balada di Antara Kegundahan

Posted by freddysetiawan on March 23, 2008

Kegundahan Hati

Lututku mulai gemetar
Saat dia kembali muncul.
Pikiranku dipenuhi tanda tanya
Hatiku dipenuhi rasa takut.

Kapankah perasaan ini akan berhenti?
Kapankah perasaan ini bermula?
Bagaimana aku harus mendengar pikiranku?
Tanpa menghancurkan hatiku dan hatinya?

Aku sangat bingung.
Apa yang harus kulakukan?
Aku tak dapat memikirkan apa-apa
Kecuali dirinya dan dirinya.

Haruskah aku mengabaikannya?
Atau memberinya waktu?
Aku tak dapat berpikir jernih
Hatiku mengendalikan jiwaku.

Bayangan masa lalu

Seiring waktu yang terus bergulir
Dirimu menjelma dalam mimpiku
Tiada pernah sedetik pun aku melupakan mu
Namun rasa rindu ini terkadang menjelma jadi benci
Benci dan kerinduan yang menyelimuti hatiku
Mengingat setiap goresan yang kau hadirkan

Begitu pula kebodohan masa lalu ku yang telah terjadi
Adalah cambuk derita yang membuat langit meratapi nasib retaknya bumi
Bagaimana aku bisa meyakini sejuknya embun pagi
Bahwa aku masih menyayangimu
Sementara gusarnya hatimu telah membendung lautan cintaku
Hingga tiada lagi alunan mesra yang menyapa tepian pantai

Posted in Hanya Sebatas Coretan | Tagged: | 1 Comment »