Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Mencoba Menggapai Reruntuhan Solidaritas

Posted by freddysetiawan on March 3, 2008

Hari itu hari yang cukup cerah, di pagi itu, aku dan sahabat-sahabat sedang berkumpul hendak menuju ke medan peperangan. Disela-sela itu ada seorang sahabat yang baru datang dan tidak tahu maksud dan acara tersebut bertanya “Fred, ada apa sich rame-rame gini? kok keliatan serius dan penting amat“.

Mau Demo nich”

Tumben ikut…” aku memang orang yang paling anti dan malas untuk pergi demo-demoan. karena beberapa dari demo tidak terlalu jelas, mulai dari koordinasi yang kurang, tingkat harapan keberhasilan dan berbagai pertimbangan.

“Kalo yang kali ini, maksud dan tujuan demonya jelas, terarah. Aku manfaatkan momen ini untuk bejuang bersama, bertempur meraih keadilan, dan menunjukkan solidaritas” jawabku mantap

Terserah loe aja dech” ketusnya mendengar kata-kata bijak dariku. “Yang pasti jangan sampai melewatkan hal-hal yang lebih penting, kita masih banyak kerjaan

Insya ALLAH sob, bagiku ini gak kalah penting, ini juga menunjukkan aku dan mereka bagian dari kita semua. Kita semua ada dalam satu kesatuan yang sama. Aku sadar aku bukan siapa-siapa, aku juga tak bisa apa-apa sendirian. Kebersamaanlah yang mebuat kita lebih kuat. Dan aku hanya berusaha sebisa dan semampu diriku. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan

Aku jadi teringat, Almarhum dosen filsafat tercintaku pernah berkata bahwa manusia yang baik dan berbudi adalah manusia yang seakan tidak berdaya menghadapi penderitaan yang dialami sesamanya. Nalarnya lumpuh dan tak mampu menemukan kata-kata yang tepat buat melukiskan tragedi yang sedang terjadi. Dirinya diliputi emosi yang mendalam, simpati yang menggelora, dan hasrat yang menggebu untuk menolong. Kita adalah sama saudara, kita adalah sahabat. Dalam derita sesama kita menemukan derita kita sendiri. Hal itulah yang membuat aku tersadar, meski aku bukan manusia yang berbudi pekerti luhur, aku harus mencoba, aku harus berusaha. Hal yang kita lakukan mungkin memang tidak terlalu bermakna, tapi itu cukup bernilai.

Sedikit mengulas tentang solidaritas. Solidaritas memang melenyapkan seluruh sekat dan perbedaan di antara kita. Bantuan moril dan materil akan terus mengalir ketika seseorang membutuhkan. Solidaritas diarahkan kepada orang lain karena keadaan penderitaan yang sedang dialaminya.

Solidaritas adalah “the acceptance of our social nature and the affirmation of the bonds we share with all our brothers and sisters.” Solidaritas dapat ditimbulkan oleh perasaan simpati atau bela rasa (compassionate) atas keadaan penderitaan yang dialami orang lain. Tapi perasaan ini saja tidak cukup. Solidaritas haruslah merupakan pengakuan akan hakikat diri kita sebagai mahkluk sosial yang tidak ingin membiarkan orang lain berkembang tanpa bantuan dan kerja sama kita, karena kesadaran bahwa kita pun tidak mungkin hidup dan berkembang tanpa bantuan orang lain.

Sisi lain dari solidaritas adalah penegasan bahwa kita dan orang lain, dalam situasi penderitaan atau situasi normal, berbagi ikatan yang sama sebagai saudara. Bersolider dengan orang lain menunjukkan bahwa we are all brothers and sisters. Sikap solider sekaligus menegaskan bahwa orang lain, siapa pun dia, senantiasa menampakkan diri kepada kita sebagai “wajah” yang menuntut perhatian (care), perawatan (nurturing), dan tanggung jawab.

Wajah adalah bagian tubuh yang langsung menampakan diri ketika kita berelasi dengan orang lain. Tidak peduli dalam keadaan riang bersemangat atau sedih penuh derita, wajah yang menampakan diri selalu merupakan realitas normatif yang menuntut keterlibatan dan tanggung jawab. Tentu wajah memelas penuh derita karena suatu bencana atau kesulitan hidup akan menuntut keterlibatan yang lebih besar dari pada wajah yang penuh canda dan tawa.

Solidaritas yang kita tunjukkan kepada sesama hanyalah satu sisi dari dua wajah solidaritas. Wajah pertama solidaritas adalah wajah deskriptif, yakni fakta objektif adanya penderitaan yang kemudian memicu perasaan solidaritas kita. Wajah deskriptif ini tidak akan bertahan lama, terutama ketika permasalahan telah mampu diatasi. Kalau kita hanya memiliki wajah solidaritas deskriptif, maka kita akan kehilangan rasa solidaritas dalam situasi normal ketika wajah menampakan dirinya dalam keadaan sukacita dan keceriaan.

Solidaritas tidak boleh berhenti karena orang lain adalah wajah, yakni saudara yang selalu meminta kehadiran kita untuk berkembang bersamanya. Tantangan yang kita hadapi sebagai bangsa saat ini adalah mewujudkan wajah kedua solidaritas, yakni wajah normatif. Wajah solidaritas normatif menegaskan bahwa dalam situasi dan kondisi apapun, relasi antarmanusia haruslah merupakan sebuah realitas normatif yang menuntut tindakan-tindakan yang sifatnya normatif pula. Wajah solidaritas normatif mengundang sekaligus menuntut kita untuk menerima orang lain apa adanya, tidak peduli apa suku, etnis atau agama orang itu. Wajah solidaritas normatif menantang kita untuk dapat bekerja dengan orang lain, menerima mereka sebagai saudara dan bersedia berkembang bersama, termasuk ketika salah satu dari kita mengalami bencana dan kesusahan hidup. Wajah solidaritas normatif mampu meluluhkan sekat-sekat perbedaan dan mengumpulkan seluruh umat manusia sebagai saudara yang mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama.

Sebagai sebuah keutamaan, solidaritas menuntut komitmen kepada kebebasan (freedom) dan keadilan (justice). Setiap orang yang berada dalam penderitaan, entah karena bencana alam, kemiskinan, atau karena statusnya sebagai kaum minoritas sebenarnya sedang berada dalam keadaan ketidakbebasan, paling tidak physical freedom. Wujud solidaritas kita adalah memperjuangkan atau menciptakan terwujudnya kebebasan supaya dia dapat bertumbuh dan mengembangkan seluruh potensi dirinya.

Sumber: Kumpulan catatan sifat seorang pemimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: