Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Sebuah Tulisan Tentang Toleransi

Posted by freddysetiawan on March 6, 2008

Mau kemana bro?” tanyaku kepada seorang teman di sebuah perempatan, ia tampak tergesa-gesa di sore yang mendung itu.

Mau ke tour travel

Emang mau pergi kemana?

Balik ke kampung halaman

Kapan? Oleh-oleh jangan lupa tuch

Kamis sore, lagi pengen pulang aja, kalo masalah oleh-oleh sip dech. Yang penting kalo balik ke Aceh, ganja jangan lupa

???

* * *

Sebelumnya, sori bro, aku sempat berpikiran buruk kepada anda beberapa saat setelah pembicaraan tersebut, pikiran sempitku sempat berpikir “waduh, parah bener nich anak, bolos kuliah hari jumat, kayak gak bisa nunggu 1 hari lagi aja. kerjaannya pun pulang melulu, makin tajir aja nich kayaknya“.

Tapi setelah kulihat, ternyata hari Jumat ini adalah tanggal merah, baguslah null, aku jadi tidak perlu ke kampus hari jumat ini, apalagi cuma 1 matakuliah, ya, walaupun itu matakuliah Persamaan Diferensial, yang Insya Allah pada jumat depan akan diadakan ujian pertama, belajar mandiri aja dech (kalo emang ntar ada kesadaran untuk belajar, hahaha dan aku yakin itu sangat kecil kemungkinannya. Dasar pemalas null). Tapi ada apa dengan hari jumat ini? kok bisa tanggal merah. Setelah aku cek, tenyata Hari Nyepi yang merupakan hari raya buat umat Hindu.

Bagiku tidaklah penting apa itu hari nyepi, toh aku bukanlah bagian dari orang-orang yang merayakannya dan mengambil hikmah dari acara tersebut, tapi karena sedikit diliputi rasa penasaran, aku mencoba mencari tahu apa sich nyepi itu, kok kayak orang kesepian aja?

Berikut hasil petikan dari wikipedia

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat hindu yang dirayakan setiap tahun baru saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Puncak hari nyepi itu, yaitu pada panglong ping 15 (atau tilem Kesanga). Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut “Catur Brata” Penyepian dan terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Brata ini dilakukan sejak sebelum matarhari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan ‘matekep guwungan’ (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun baru pun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.

Intisari dari perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), menurut lontar”Sundari Gama” adalah “memutihbersihkan hati sanubari”, yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu.

Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah aku tuliskan barusan. Tapi ada hal menarik yang aku baca kemarin di sebuah surat kabar, tentang situasi di Bali hari Nyepi jumat besok (7 maret). Hari nyepi aktifitas di Bali (yang mayoritas hindu) sama sekali tidak ada, bandara, pelabuhan dan semua tempat-tempat umum di-nonaktif-kan selama 24 jam penuh. Hanya Rumah Sakit, Kepolisian dan Sarana-sarana yang memungkinkan terjadinya kondisi darurat yang tetap beroperasi dan itupun sangat terbatas. Nah lho…null gimana yang kaum Muslim yang hari jumat melakukan Shalat Jumat?

Ternyata, telah ada kesepakatan, untuk menghormati sesama pemeluk agama, maka umat Islam tetap melaksanakan Shalat jumat namun tidak menggunakan pengeras suara, ya.. kan gak mungkin ngelaran umat islam supaya gak melakukan ibadahnya, dan kalaupun ada itu hanya di Mesjid berukuran besar dan dengan volume yang secukupnya (tetap menjaga kesunyian). Selain itu juga dihimbau untuk tidak menggunakan transportasi dan pergi ke mesjid-mesjid terdekat yang kira-kira dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Hmm…, benar-benar keren. Toleransi umat beragama yang luar biasa. Semoga bisa berjalan lancar besok. Sedikit membahas tentang toleransi. Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.

Andaikan semua orang dapat saling menghargai dan menghormati, apalagi sampai saling menyayangi dan mencintai. Maka dunia akan lebih indah….

One Response to “Sebuah Tulisan Tentang Toleransi”

  1. Visi said

    wahh setuju! seandainya semua orang mau saling mengerti, pasti tidak ada permusuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: