Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Sebuah Kata Yang Tulus

Posted by freddysetiawan on March 10, 2008

Pagi ini mood-ku benar-benar diluar performa biasa, hati yang tidak karuan, aku pun berangkat kampus dengan perasaan malas dan setengah hati null. Belum lagi bila mengingat kuliah yang terlalu pagi, mata masih mengantuk null, mimpi indah yang kandas di tengah pertualangan null dan pelajaran yang membosankan. Apalagi tadi malam aku dan teman-teman juga habis pulang dari acara party ulang tahun kecil-kecilan, karaoke-an dan sedikit bersenang-senang sampai larut malam. Badan pun masih terasa sangat lelah. Suasana kampus mulai terasa tidak kondusif belakangan ini. Aku tidak bersemangat setiap memulai hari-hari. Hal itu semakin terasa setelah beberapa orang teman berencana keluar dari kampus dan mengambil SNMPTN bulan Juli ke depan dikarenakan berbagai alasan. Belakangan aku pun terhanyut dengan situasi itu. Apalagi aku juga berencana memasuki fakultas psikologi, dimana ada beberapa bagian ilmu yang membuat aku benar2 sangat tertarik. nullLoe harus semangat Dey, kalau kita semangat, ilmu bisa masuk dengan cepat dan mudah, loe kan jadi bisa menangkap banyak ilmu, hingga sukses nanti di hari ke depan. Jangan tertinggal dengan orang lain” Sahabatku yang berbeda fakultas langsung tanggap ketika melihat gerakanku yang lamban dan tidak bersemangat ketika akan berangkat. **** Pagi ini aku di jemput oleh seorang sahabat yang tinggal di dekat rumah, meski berbeda fakultas, namun kami sering pergi bersama, apalagi jalur yang kami lewati jelas sama. Suasana ibukota semakin sesak, jam-jam segini jalanan sangat padat. Debu berterbangan, knalpot mengeluarkan asap yang menyesakkan. Mobil merayap lambat di sepanjang jalan, sepeda motor yang asal nyelonong benar-benar menunjukkan kesemberawutan ibukota Negara Republik Indonesia tercinta ini. Dalam perjalanan menuju kampus, lalu lintas makin terhambat dan tidak bergerak. Aku sempat berpikir bakal masuk terlambat hari ini. Kucoba melihat jauh ke depan untuk melihat sumber kemacetan, namun tidak jelas terlihat penyebabnya. Sambil membeli sebuah surat kabar olahraga, aku pun mencoba bertanya kepada si penjual koran yang daritadi mondar-mandir menawarkan bacaan berita segar hari ini. Ternyata dan lagi-lagi ulah angkot alias mikrolet yang memperparah kemacetan. Suara klakson bersahut–sahutan melengking tinggi memekakkan telinga. Mereka tak sabar meminta jalan. Semuanya berusaha sampai ke tujuan masing-masing tepat waktu. Suasana keruh ini ikut menyeret perasaanku, aku pun menjadi begitu kesal melihat kejadian yang bising dan ruwet tersebut null. Sambil mengumpat “Dasar supir angkot, selalu saja begitu, nge-tem disembarang tempat” Polisi berjalan menuju sumber kemacetan. Aku berpikir : “sopir angkot itu pasti akan ditilang. Dan menurutku itu sudah sewajarnya untuk dilakukan” Perlahan, mulai terlihat, mobil angkot kosong itu melaju sangat pelan sekali. Ternyata tidak ada yang mengemudikan. Dan si sopir sedang terengah–engah mendorong mobil tersebut. Oh! Ternyata mobil tersebut mogok, dia bukan dengan sengaja membuat kemacetan. Yang lebih menakjubkan, pak polisi tadi ikut membantu mendorong mobil tersebut dari arah belakang dengan sekuat tenaga. Mereka berdua bekerjasama agar mobil bisa dibawa ke tepi secepatnya, agar jalanan kembali normal. Sementara itu, dibelakang mereka suara klakson masih melengking tinggi, seolah tak mau peduli dengan kesulitan yang menimpa dihadapannya. Aku telah salah menduga. Dalam lubuk hati yang paling dalam aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf null telah berprasangka buruk dan negatif tentang suatu peristiwa. Sopir itu tak sengaja membuat kemacetan, dan polisi tersebut tidaklah hendak memberikan surat tilang. Beliau malah memberikan suatu pertolongan. Kebaikan yang tidak aku duga sebelumnya. null Pada pagi yang ruwet menurut versiku itu, beliau telah bersedekah dengan tenaganya. Jabatan yang dimilikinya tidaklah mengunci hatinya untuk berlelah–lelah membantu seseorang yang tidak dikenalnya. Tulus! Kata itulah yang tepat dilekatkan pada hatinya. Aha! Mungkin ini yang menjadi penyebab kemalasanku null. Aku harus memeriksa sudut–sudut hatiku. Mungkin kekurangtulusanku yang menyebabkan aku enggan berangkat ibadah menjemput rizki. Belakangan ini aku tidak enjoy menjalani hari–hari pada aktifitas dan kuliah. Aku lebih tertarik mendengarkan gossip tentang mahasiswa lain, tentang keadaan-keadaan sekitar, tentang situasi terbaru, aku melupakan kepentingan dan kewajibanku. Aku terlarut dalam suasana yang tidak terkendali, dalam kekhawatiran yang seharusnya aku paham untuk menghindarinya. Aku tidak tulus menerima suasana kampus yang sedang berubah. Padahal, kemungkinan besar adalah bukan iklim kuliah saja yang berubah, itu hanya proses di tiap semester yang kian menantang, menyesuaikan dengan ilmu yang harus kita peroleh, justru sebenarnya sudut pandang aku yang mengalami pergeseran. Aku harus bergerak untuk menggeser sudut pandangku kepada posisi yang tepat. Meyakinkan kembali kepada tujuan hakikatnya BELAJAR null. Kemudian, aku harus mengawal terus keyakinan itu. Setelah itu, biar Allah memilihkan yang terbaik untukku.

One Response to “Sebuah Kata Yang Tulus”

  1. well done, dude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: