Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Ketika Surat Abraham Lincoln Menjadi Barang Lelang

Posted by freddysetiawan on March 31, 2008

Ketika sedang membaca BBC, dapat sebuah kabar yang lumayan menarik bagiku. Sebuah Surat Abraham Lincoln.

Kertasnya lusuh dan berwarna kuning karena tua dan sebagian ujungnya sudah rusak sementara tinta menetes di beberapa tempat. Tapi tanda-tangan dalam surat-surat tua itu tidak diragukan lagi, dan amat penting. Diperlukan sedikit imajinasi dan juga memperhatikan agak lebih lama supaya bisa mendapatkan gambaran tentang penulisnya.

Abraham Lincoln, mungkin, sambil mengelus-ngelus jambangnya ketika menulis surat dari ‘Executive Mansion’ di Washington tanggal April 5 Tahun 1864.

Sementara Presiden Amerika pertama, George Washington, duduk di mejanya di Mount Vernon, Virgina, pada tanggal 2 Juni 1784. Atau mungkin John Brown –yang sepanjang hidupnya berjuang untuk membebaskan perbudakan di Amerika– sedang menulis suratnya di ruang tahanan setelah ditangkap karena berupaya memimpin gerakan perjuangan perbudakan dengan menggunakan senjata.

Surat ke delapan anda yang baik hati dan amat disambut itu tiba tepat pada waktunya,” tulis John Brown kepada pendeta Herman L. Vaill. Istilah tiba tepat pada waktunya itu tampaknya benar karena 2 minggu setelah itu, John Brown dieksekusi dengan hukuman gantung.

Jawaban Lincoln
Surat John Brown itu termasuk dalam lelang surat-surat bersejarah di Balai Lelang Sotheby’s Newyork. Jelas yang menjadi inti dari lelang yang akan digelar Kamis 3 April 2008 itu adalah surat yang ditulis Presiden Abraham Lincoln.

Presiden Lincoln dilaporkan menerima surat sekitar 250 hingga 500 setiap harinya, dan sebagian besar ditangani oleh para stafnya. Menurut buku ‘Dear Mr Lincoln: Letters to the President‘ yang ditulis oleh Harold Holzer, kantung surat Lincoln berkembang sampai pada tingkat yang hampir tidak bisa ditangani lagi.

Surat-surat itu terdiri dari permohonan maaf, permintaan tanda-tangan, gagasan tentang melaksanakan perang, maupun ramalan atau mistik dan juga ancaman,” seperti tertulis dalam buku tersebut.

Lincoln sendiri jarang menyentuh semua surat-surat yang dikirim kepadanya, namun salah satu yang dibacanya adalah petisi dari sekelompok anak-anak pada Bulan April 1864. Sekitar 196 anak-anak menulis surat yang berjudul ‘Petisi anak-anak untuk meminta presiden menghentikan semua budak anak di negara ini.’

Jawaban Lincoln amat menyentuh dan seperti surat dari seorang bapak, kata ahli manuskrip di Sotheby’s, Selby Kiffer. “Ceritakan kepada anak-anak ini,” tulis Lincoln, “bahwa saya amat gembira dengan suara hati mereka yang penuh keadilan dan simpati, namun saya tidak punya kekuatan untuk memenuhi yang mereka minta. Saya yakin mereka pasti ingat Tuhan mempunyai kekuatan dan tampaknya akan melakukannya,” begitulah jawaban Lincoln.

Menurut Kiffer, Lincoln tidak bisa membalas seperti ketika dia masih menjadi seorang penasehat hukum yang dingin, karena konstitusi tidak memungkinkan hal tersebut. “Dengan suratnya itu, dia menjelaskan bahwa melalui dia maka Tuhan akan membebaskan budak anak,” kata Kiffer kepada para wartawan saat menjelaskan lelang surat-surat tersebut.

Surat Lincoln itu diperkirakan akan meraih harga antara 1,5 hingga 2,5 juta. Kita nantikan saja di acara lelang nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: