Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Kesempurnaan Dalam Kelicikan

Posted by freddysetiawan on April 12, 2008

Kilah yang cerdas, kelicikan yang tiada tara dan aneka kekreatifan akan kejahilan yang tiada henti. Kalimat itu seolah paling pas dilekatkan pada diriku, setidaknya begitu kata sahabat-sahabatku, meski aku merasa tidaklah sedemikan rupa.

Freddy licik, jahil, suka iseng dLL

Ah…kata2 itu semakin sering saja berputar ditelingaku, entah dosa apalagi yang aku lakukan atau aku memang tidak pernah menyadari kalau aku demikian. Kalau memang demikian adanya, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku hanya menjalani apa yang harus aku jalani, tapi aku juga tahu kalau jalan ini tidak rata, wajar saja kalau selama melangkah aku akan bertubrukan dengan berbagai orang, sebab inilah hidup.

Aku bingung dengan kata-kata licik yang selalu divonis mati kepadaku, aku jadi berpikir apa bedanya cerdik dengan licik? Dalam bahasa Indonesia keduanya bisa berarti banyak akal. Dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan sebagai tricky.

Cerdik mempunyai konotasi yang baik, sedangkan licik itu buruk.
Dalam dunia fabel, yang cerdik itu biasanya binatang yang terzalimi, seperti kancil, kura-kura,dll
Sedangkan licik ialah kelakuan binatang-binatang zalim seperti srigala, musang,dll

Semuanya merujuk pada kemampuan akal, sama-sama menggunakan tipu daya untuk mengalahkan musuh, hanya dengan tujuan berbeda. Ada yang ingin memangsa, ada yang untuk bertahan.

Entahlah…
Lama kelamaan aku terdoktrin untuk mengakui bahwa aku memang jahil dan iseng, sehingga mau tidak mau, aku pun terdoktrin untuk berbuat jahil. Demikian pula dengan kilah-kilah luar biasa untuk menghindari malapetaka, meski belum selicin belut, aku pun menjadi licik, seperti serigala, meskupun bukan manusia serigala. Dan dengan gagah meluncurkan Kesempurnaan dalam Kelicikan, yang pernah aku tuliskan di friendsterku tempoe doeloe, dan diluar dugaan, ternyata kalimat tersebut cukup populer padahal aku sempat melupakannya.

Namun, yang paling mengherankan aku menemukan orang yang benar-benar menyebalkan, seorang yang tak kalah licik, pengagum kata-kata “kesempurnaan dalam kelicikan“, kilahnya benar-benar luar biasa di atas kesalahan yang dia lakukan, bahkan melebihi belut sekalipun, entah bagaimana, tiba-tiba justru aku yang menjadi tersangka diatas kejahatannya yang kurang ajar (apa dunia sudah terbalik? pelaku kejahatan tertawa diatas orang yang tidak salah apa-apa).

Menyibak pertarungan 2 pendekar dari kolong langit.

Ketika ia mengingkari kepercayaan dan amanah atas rahasia (kitab mantera dewa,kah?) yang diemban dan diberikan oleh orang kepercayaannya antara aku dan dia, aku pun memergokinya, namun dengan sok tahu dan mudah ia berkata
gue sebenarnya gak pernah bilang ke siapa-siapa tentang tu, gak ada yang mau tahu pun
najis… ingin rasanya aku berteriak “KALAU GAK PERNAH BILANG ITU NAMANYA APA??? goblok… jelas-jelas udah bocor dan menyebarluaskan, pake kata-kata “sebenarnya gak pernah bilang ke siapa-siapa” lagi

gw sebenarnya cuma pengen kesalin loe aja
ck..ck.. demi kesalin orang, rahasia orang dibukanya. Benar-benar gak nyangka. Jujur aja, kalo aku sich gak masalah, aku manusia yang tiada menjadikan masalah atas hal-hal “aneh”, jadi Alhamdulillah, kalo gak jadi, stress dulu, terus mencoba peruntungan di negara lain. Namun, bagaimana perasaan orang yang telah mempercayainya itu?

Tenang aja, gak akan gue kasih tahu ke dia. Damai kan?
Lihat saja kata-katanya yang satu ini, tiba-tiba ia menyudutkan aku “gak akan gue kasih tahu ke dia“, sekarang aku ingin bertanya, setidaknya pada diri aku sendiri, dia yang bocor atau aku yang bocor?
gak akan gw kasih tahu ke dia, damaikan?
gak akan gw kasih tahu ke dia, damaikan?
gak akan gw kasih tahu ke dia, damaikan?
seolah-olah, aku yang bocor, se-ember dia. Seharusnya aku yang pantas mengeluarkan kata-kata itu untuk menyelamatkan dia dari kepercayaan orang kepercayaannya (guru besar penguasa daratan tengah,kah?), tapi dengan cepat ia membalikkan suasana. Tanpa salah apa-apa, aku yang hanya mempergoki dia ber-bocor ria, dia membuat aku menjadi tersangka. What the hell?

Ditambah kalimat penipuan ini
Gw gak suka panjang-panjangin masalah,itu cuma hal gak penting,gak ngaruh apa-apa,gak usah ceritain ke dia
teringat atas peristiwa yang lalu,
Najis bener anak sok tahu ini, sekarang = gak penting, ntar kalau besok ada sesuatu, gw bakal jadi korban seperti dulu, salah karena gak ini, gak itu, basi banget…

Memang sulit untuk membedakan antara pasir dan debu, ia dapat menjadi duri dalam daging.
Puncak kekesalanku bertambah ketika di pesta akhir pekan, tiba-tiba aku menjadi tersudutkan dan menjadi tersangka yang membocorkan masalah tersebut (tersebarnya rahasia letak kitab rahasia,kah?). Aku yang memancing agar rahasia tersebut terbongkar.
Sekali lagi,najis bener… Kilah yang benar-benar melebihi belut, tiba-tiba saja, aku yang jadi tersangka, aku yang jadi pelaku, aku yang jadi korban padahal aku tak bersalah. Benar-benar menyebalkan. Ia memakai kartu AS yang merupakan titik yang tidak dapat aku lukai. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Setidaknya aku mulai dapat membedakan antara pasir dan debu, aku juga menemukan lawan yang konon katanya sepadan..
Kesempurnaan dalam kelicikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: