Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Archive for May, 2008

Coretan Di Hari Ulang Tahun

Posted by freddysetiawan on May 31, 2008

Tulisan kehidupanmu terus berganti di setiap lembar demi lembar
Goyangkan penamu tulis segalanya jangan ragu
Teruslah berbuat lebih baik dan bergerak maju
Raih segala impian dan gapai semua hasrat yang kau mampu

Hari berjalan, pekan berputar, bulan berganti, tahun pun berlalu
Haruslah selalu ada dalam kemajuan dan terus memperbaiki diri
Jangan pernah puas dan teruslah berjuang
Karena di depan masih banyak rintangan

Di Hari ulang tahun ini, aku berjanji pada cintamu
Tuk dampingimu, selalu ada untukmu
Bersama kita raih segala mimpi dan raih semua harapan
Kita pasti mampu kalau bersatu bergandeng tangan

Posted in Hanya Sebatas Coretan | Tagged: | 1 Comment »

Pasangan Hidup

Posted by freddysetiawan on May 30, 2008

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapan pun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.” Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. “Tentu saja tidak,” jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?”. Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan,”Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu”. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu”. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya di sana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapa pun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang akan terbawa kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal belakangan.

Sumber: Kumpulan kisah cinta tanpa batas

Posted in Cinta Adalah Misteri, Kajian Islam | Tagged: | 1 Comment »

2 Tahun Lumpur Lapindo

Posted by freddysetiawan on May 29, 2008

Mereka dihinakan, tanpa daya… Ya tanpa daya…..(Kesaksian, Iwan Fals-Kantata Takwa)

Hari ini, 29 Mei 2008, dua tahun sudah, saudara-saudara kita ini menjadi pengungsi. Sebagian dari saudara-saudara kita itupun kini ada yang menjadi pengemis bahkan ada yang mengalami ganguan jiwa akibat beban kehidupan yang terlalu berat setelah tanah, rumah, harta dan harapan mereka terkubur lumpur Lapindo.

Namun tak terasa, dua tahun sudah pula Lapindo membohongi kita semua. Pada awalnya, mereka (Lapindo) bilang kepada warga sidoarjo, bahwa perusahaannya adalah sekedar perusahaan pakan ternak, bukan perusahaan pengeboran.

Selanjutnya, para Insinyur dari ITS yang telah dibayar menjadi konsultan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) oleh Lapindo bersikeras mengatakan bahwa perusahaan tambang Lapindo boleh beroperasi di kawasan yang kini telah menajdi kubangan lumpur itu. Padahal sebelumnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Sidoarjo menyebutkan bahwa kawasan itu sejatinya hanya diperbolehkan untuk kawasan pemukiman dan budidaya pertanian.

Kini dua tahun sudah berlalu, warga Sidoarjo telah kehilangan segalanya termasuk harapannya kepada pemerintah rejim neoliberal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Jusuf Kalla (JK) yang justru meninggalkan korban Lapindo dan membiarkannya berjuang sendiri berhadapan dengan korporasi besar.

Ya..dua tahun telah berlalu. Dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat bagi Lapindo untuk menenggelamkan Sidoarjo. Dua tahun adalah waktu yang sangat singkat bagi Lapindo untuk memaksa dwi tunggal komprador SBY-Kalla untuk bersujud kepadanya. Namun, dua tahun adalah waktu yang terlalu lama bagi kita semua untuk membiarkan kebohongan Lapindo. Dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk membiarkan kuasa dan wibawa negara dilucuti oleh Lapindo.

berantaslapindo.wordpress.com

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Cintalah Yang Mesti Bicara

Posted by freddysetiawan on May 28, 2008

Alkisah, Suatu Ketika, seorang wanita tampak sedih. Wajahnya kusut masam. Air mukanya letih menahan tangis.
Rupanya, ia baru saja kehilangan anak tercintanya untuk selama-lamanya.

Atas petunjuk orang di desa, ia menemui seorang tua bijak dipinggir hutan.
Mereka berkata, “siapa tahu orang bijak itu dapat membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahanmu.
Karena rasa cinta kepada sang anak, ia berharap agar segera dapat bertemu dengan orang bijak itu. Ditempuhlah perjalanan yang jauh dengan bergegas.
Sesampainya disana, ia bertanya, “Guru, apakah Anda memiliki ramuan ajaib untuk mengembalikan anakku?

Sang bijak tidak berusaha berargumentasi atau mengusir wanita itu karena permintaan yang tidak masuk akal.
Dia cuma berkata, “Carilah bunga merah dari rumah yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah menemukan benda itu, kita sama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan putramu.
Selesai mendengar itu, wanita tersebut segera berangkat mencari.

Dalam perjalanan, ia tampak bingung. Tak ada satu petunjuk pun tentang dimana dan bagaimana bentuk rumah itu. Hingga, ia tiba didepan rumah mewah.
Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,” ucap wanita itu dalam hati.
Setelah mengetuk pintu, ia berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?” Wajah sang wanita masih memperlihatkan raut merana.

Dari dalam wajah, terlihat wajah yang tak kalah sedih.
Pemilik rumah itu menjawab, “Kamu datang kerumah yang salah.
Pemilik rumah itu bercerita tentang tragedi yang dialami keluarganya . Ia tak hanya kehilangan seorang anak, tapi juga suami dan kedua orangtuanya karena kecelakaan. Sang wanita kecewa.

Namun, ia menjadi larut dengan cerita tuan rumah.
Ia berfikir, “Siapa yang bisa membantu orang yang nasibnya lebih malang dari saya ini?
Dia memutuskan untuk tinggal disana dan menghibur pemilik rumah itu. Beberapa hari lamanya, ia bersama wanita pemilik rumah itu, membantu menjalani hidup.

Beberapa minggu berlalu, wanita itupun merasa rumah itu sudah terlihat lebih baik. Lalu, ia berangkat lagi mencari rumah berikutnya. Tetapi, kemanapun dia pergi, selalu menemukan kesedihan. Akhirnya, ia lagi-lagi terlibat upaya menghibur semua orang yang dikunjunginya. Hingga, ia pun melupakan misinya.

************

Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam gendongan. Kedua belah tangannya sibuk menisik selimut sang bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sejumput padi dan setuang air setelah seharian berterik-terik diladang. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.

Karena cinta bukan hanya sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh dayu. Kita belajar apa itu cinta dari apapun yang ada dimuka bumi. Dari cahaya matahari. Dari sepasang merpati. Dari sujud dan tengadah doa.
Dari apapun!

Pada semua kelahiran yang tersambut dengan cinta, hingga kematian yang terlarung dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta. Karena itu, tiada yang pantas kita lakukan selain atas nama cinta kita
yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT. Apapun keputusan-NYA buat kita.
cintalah yang mesti bicara….

Sumber: Kumpulan kisah motivasi

Posted in Motivasi dan Inspirasi | Tagged: , | Leave a Comment »

1 semester = 1 malam

Posted by freddysetiawan on May 27, 2008

1 Semester adalah nama lain dari 6 bulan. Namun dalam dunia pendidikan yang sering kita geluti, 1 semester hanya mencapai angka efektif sekitar 4,5 bulan. Angka yang sudah cukup untuk membabat sebuah matakuliah dengan 3 sks ataupun 4 sks. 6 sks bahkan juga pernah kok

Namun apa jadinya kalo 1 matakuliah dengan 4 sks yang seharusnya ditempuh dalam 1 semester, hanya dilalui oleh kerja keras 1 malam? Sebuah angka yang nihil dan sulit dipahami. Orang-orang tentu akan bertanya “Kemana aja loe menghilang sob?

Mungkin itu hanya imajinasi, namun kenyataannya, itu adalah sesuatu yang terjadi.

Sebut saja setengah semester pertama, ketika dosen yang mengajar masih cukup menyenangkan dalam membimbing dan memberi pengetahuan. Para Pendekar masih selalu datang, namun tidak mendengar, tanpa berusaha memahami dan mengisi absen karena dosen yang kritis dalam masalah kehadiran. Tidak ada ilmu yang terserap. Hanya angin lalu.

Setengah semester selanjutnya, ketika dosen berganti, dosen muda yang tidak kalah cerdas, namun minim pengalaman dan tidak mampu menarik semangat belajar, tidak mempermasalahkan kehadiran, dengan prinsip “asal mengerti dan bisa”. Para Pendekar yang malas pun tentu akan semakin malas, tidak pernah datang dan masuk kuliah, namun absensi masih tetap mengalir melalui proses penitipan. Akhirnya, tidak ada apa-apa yang didapat .

Bayangkan pula bila 3 sks yang 1 semester diambil dalam semester pendek.
Jatah 4,5 bulan bisa hanya menjadi 2 bulan. Sebuah waktu yang sempit, mahal dan penuh penyia-nyiaan.

Muncul pertanyaan. Bagaimana dengan ujian?
Besok ujian, malam ini perjuangan. Belajar mati-matian, mencari semua ilmu yang didapat oleh rekan-rekan selama 1 semester. 1 semester = 1 malam. Sebuah kehancuran dan kegagalan . Mungkin kita bisa menjawab soal-soal itu, namun kita tidak mendapat ilmu apa-apa dari hasil kuliah tersebut. Benar-benar sebuah hal yang mengecewakan.

Mungkin itu hanya mimpi dan imajinasi yang berlebihan, mungkin juga itu hanya khayalan dan sebuah ide untuk dituliskan menjadi sebuah cerita fiksi untuk dibukukan dan dijadikan bahan untuk menghasilkan uang atas nama penulis kreatif.

Mungkin saja aku adalah seorang mahasiswa rajin yang selalu mendengar, memahami dan belajar banyak hal.

Mungkin dan mungkin…

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Info | Tagged: , , | Leave a Comment »

Kemenangan Masa Lalu

Posted by freddysetiawan on May 26, 2008

Sebuah pertempuran besar, memperebutkan mahkota terindah, bahkan sahabat-sahabat menyebutnya terlalu tinggi, kelas atas. Bagiku tidak, biasa saja, standar. Tidaklah beda mahkota indah ataupun mahkota biasa-biasa saja, yang membedakannya hanyalah cara kita meraihnya, menggapainya dan memperjuangkannya .

Anggaplah ia memang sesuatu yang terlalu berharga, sebuah klub papan atas di liga negaranya, yang diincar oleh banyak investor-investor kaya dari berbagai negara, aku dan mereka bersaing dalam pertempuran besar merebut hatinya, bukan perkara mudah tentunya, memilih 1 diantara 1001 pilihan. Dan aku yang terpilih memenangkan gelar juara. Sebuah perjuangan yang luar biasa, meraih dan menggapai keberhasilan dengan mengalahkan saingan-saingan tangguh secara terhormat, merengkuh hati yang indah dan rupa yang menawan. Sungguh suatu kemenangan yang fantastis. Sebuah Kemenangan masa lalu.

Suka cita, kepuasan dan rasa bangga membalut seluruh raga yang sederhana ini, jujur, aku tidak menyangka. Mungkin hati yang berbicara, itulah kenapa sang pengembara penuh dosa ini mampu meraih sesuatu yang selalu dianggap sangat sulit dan berat oleh rekan-rekan seperjuangan.

Aku selalu mencoba menyembunyikan apa yang kuraih ini dari dunia terbuka, takut aku kenapa-kenapa. Terlalu banyak ancaman. Aku tahu, aku meraih permata, terlalu banyak orang-orang yang tertarik dan berniat merebutnya, bahkan dengan cara-cara haram dan memusnahkan aku. Tapi, mereka yang merasa tahu segalanya, padahal yang mereka tahu hanyalah sampah-sampah organik yang memenuhi mulutnya yang banyak bicara, menguak dengan kesoktahuan dan fitnahnya, mengikis dan menggusur dari tahtaku.

Waktu, ketidakpastian, gantung dan jarak memang mengakhiri segalanya. Namun itu adalah akhir dari usaha yang biasa, ketika ia mulai tidak yakin dengan ikatan gantungan yang tidak mengikat dengan pasti, itu sebuah kesalahan dalam komitmenku. Tapi jarak, ketidakyakinan dan mungkin pengkhianatan memang merupakan salah satu akhir dari bagian yang merupakan karma bagi aku yang tidak berdosa, aku yang lugu tanpa tahu apa-apa.

Semua hanya menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi aku untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Setidaknya aku dapat bercerita kepada mereka yang selalu memiliki rasa ingin tahu dan sok tahu, aku pernah meraih sesuatu yang sangat indah dan tinggi dengan mengalahkan saingan-saingan berat dan tangguh. Aku dengan perkasa meriah kemenangan. Sebuah Kemenangan masa lalu.

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Ketika Mereka Menyebut Mei Sang Bulan Kemenangan

Posted by freddysetiawan on May 25, 2008

Kemarin aku baru saja berpesta dalam kemenanganku yang sangat berarti, kemenangan dalam tangis kekalahan, kekalahan dalam euforia kemenangan. Kemenangan yang aku lewati dalam masa-masa sulit nan mencekam. Sebuah pilihan yang menentukan nasib.

***

Aku teringat perjalananku 2 tahun yang lalu, ketika mereka menyebut mei sang bulan kemenangan, aku juga tentunya. Aku melewati kemenangan dengan berbagai pesta dan gemerlap rasa suka cita, bahkan saat ini aku tidak mampu melukiskan dengan lisan maupun kata-kata, karena itu hanya sebuah kenangan yang hilang bersama waktu, sebuah rasa yang tertinggal dan sebuah catatan sejarah yang tak akan usang dimakan waktu.

Lagi-lagi 6 bulan, mereka menyebutnya sebuah masa-masa yang sulit, begitu juga dengan aku. “Sosok mana yang mampu bersabar menanti tanpa pasti” itu kata sahabatku mencoba membantuku menemukan sebuah kepingan kesalahanku, aku tahu aku salah, aku tak mampu menjadi penjaga gawang yang baik, bahkan bisa dikatakan aku tidak menjaganya, karena aku tidak mengikatnya, karena komitmenku memegang kata lain. Aku salah? Komitmenku salah? Apapun itu.

Aku melepas sesuatu yang dapat aku cegah, aku membuang sesuatu yang masih terlalu indah dan terlalu berharga. Mungkin ada hikmah dibalik itu semua. Aku mencoba meyakinkan atas semua yang telah terjadi. Mungkin akan datang sesuatu yang lebih baik dan indah. Itulah kata-kata yang menjadi landasan semangat atas semua yang terjadi.

Orang yang tepat adalah orang yang mau mendukung komitmenku, atau setidaknya orang yang mampu menghancurkan komitmen yang aku jaga dengan baik ini.

Lagi-lagi 6 bulan, mereka masih menyebutnya masa-masa yang sulit, aku pun masih menganggap begitu. Tapi 6 bulan itu bertepatan dengan bulan ini, mei, dan mereke menyebut mei sang bulan kemenangan, aku pun masih. Namun apa yang akan terjadi ketika masa-masa sulit itu bertepatan dengan bulan kemenangan?

Aku memang sudah mulai melihat tanda-tanda itu muncul, tanda-tanda bulan keenam, aku hanya pasrah, aku sudah siap dengan apa yang terjadi, aku harus menjaga hal tersebut baik-baik. Sampai ada yang mampu memecahkan… Dan ia pun pecah…

Ketika langit berteriak (Mawar putihku)

Di tepi kebingunganku
Harum sang mawar ku cium selalu
Di saat ku jadi bimbang
Kau terbayang selalu

Ketika hatiku resah
Pikirkan yang terjadi
Ketika langit berteriak keras
Kau dengan tulus selalu mencintaiku

Berkat si mawar putih
Tulus cintamu
Ku rasakan itu semua
karena bunga mawar putih

Di atas keraguanku atas cintamu
Semua ku tepis
Ku berusaha percaya
Namun ku tau tak mudah

Akhirnya ku sadari
Perasaanku ini mencintaimu
Berkat mawar putih
Ku akui semua
Aku pun percaya tulus cintamu

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Antara Kemenangan Dan Kekalahan

Posted by freddysetiawan on May 24, 2008

Kisah ini bermula beberapa bulan yang lalu, ketika musim panas masih datang padahal sudah saatnya hujan turun.

Udah fred, nunggu apalagi? loe tembak aja dia!

Gak sob, gue gak akan bisa jadian sama dia, gue emang suka sama dia, tapi gue gak akan pernah jadi pacarnya

Kenapa?

Gue takut menyakiti wanita yang gue cintai, lagi!

Ini saatnya memperbaiki diri bos, kesempatan untuk berubah

Lebih baik jangan. Lebih baik dia tidak pernah tahu perasaan gue sama dia

Ngemeng loe!

Itu yang terbaik dan itu komitmen gue sekarang. Liat aja, gue cuma akan jadi teman bagi dia dan akan selalu menjadi teman bagi dia

oke, gue pegang kata-kata loe

Sip, pegang!

Oke. Gue yakin, loe bakal nelan kata-kata loe sendiri, bentar lagi, loe bakal bilang kalo loe suka dia

Jangan sepelekan tekad gue kali ini. Gue gak mau lagi nyakitin wanita yang gue cintai, lebih baik gue sendiri aja sekarang

Aku teringat kata-kata yang sempat aku katakan kala itu, aku yang bertekad untuk cukup mencintai dalam hati saja saat itu, namun seiring waktu, terlalu berat untuk aku lakukan, akupun kalah, kalah oleh tekad baja. Ya, mungkin aku jadi berpikir dan berkilah, katakankah kata cinta sebelum semuanya terlambat. Aku hanya mencoba membela diri dalam kekalahanku. Antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan hati dan kekalahan tekad.

Itu hanya sebuah kisah lama yang telah terukir dalam perjalanan panjang, hanya sebuah kekalahan kecil tanpa makna, sebuah kekalahan tekad yang dipertaruhkan atas dasar perasaan . Namun hari ini, aku akui, aku kalah telak, kalah dalam pertempuran sebenarnya yang aku perjuangkan selama 19,5 tahun. Padahal kemenangan tekad sejati ini hanya menyisakan 5,5 tahun lagi. Aku menamainya Sebuah perjalanan panjang 1/4 abad.

Antara kemenangan dan kekalahan. Begitu aku menyebutnya.
Kemenangan dalam menemukan cahaya yang benar-benar aku cari untuk menghiasi malam-malamku, seterang bintang-bintang, kemenangan dalam memberi sesuatu yang pertama dan spesial kepada sesuatu yang tepat. Sebuah mahkota gelar juara yang tidak kalah dengan gelar scudetto maupun juara Liga Champions, sebuah karier kepelatihanku yang sangat luar biasa.
Kekalahan dalam komitmen, tekad dan niat tulus yang selama ini mengikat dan membatasiku, bahkan sempat aku tahan dalam 2 tahun yang lalu, 4 tahun yang lalu, bahkan tahun lalu dan mungkin juga sejak 19 tahun yang lalu. Namun hidup memang merupakan pilihan dan aku memilih untuk kalah, kalah dan euforia kemenangan.

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Burung Besi

Posted by freddysetiawan on May 23, 2008

Sebuah Kisah Nyata, Anna Marie Fatimah Jacquet. Dalam tulisannya:

Setelah Papa lulus dari sekolah penerbangan Perancis, beliau menikah dengan mamaku. Papa seorang kulit hitam, namanya Charles Jacquet, mamaku seorang kulit putih, namanya Isabell Louvrett. Keluargaku cukup demokratis, oleh karena itu, bagi Papa, pernikahan tidak memandang perbedaan kulit. Cara berpikir itu pula yang mendorong Papa untuk pindah ke Amerika. Baginya dunia itu luas, di manapun kita berada, asal mau berusaha, pasti kita menjadi seseorang. Oleh karena itu kami pindah ke Portland . Papa ditawari menjadi penerbang di suatu perusahaan. Di sana beliau menjadi Pilot pesawat Air Bus dan menerbangkan pesawat ke banyak wilayah di Amerika.

Papa mempunyai sebuah cita-cita. Ada sebuah pesawat yang sangat dicintainya. Kecepatannya luar biasa, selain itu bodinya sempurna. Pesawat kebanggaan Amerika ini menjadi cita-cita papaku. Namanya F-16. “Voir ma dear, lihat sayang,” Ujar Papa suatu kali di pangkalan pesawat terbang, tempatnya bekerja. Beliau menunjuk ke sebuah pesawat indah. Itulah F-16. “Suatu hari, Papa akan menaikinya, begitu pula dengan Mama dan kamu ma pouppette.” Saat itulah aku tahu, betapa tingginya cita-cita Papa. Beliau bukan berasal sekolah militer, dan bukan warga negara asli Amerika. Hampir tidak mungkin baginya untuk menjadi anggota AU Amerika. Tapi cita-cita itu tetap dipegangnya dengan teguh dalam hati. Ya, cita-cita indah tentang menaiki burung besi yang bagaikan seekor rajawali. Tujuh tahun telah berlalu sejak kepindahan kami. Usiaku sudah 12 tahun. Papa kini menjadi salah satu pegawai yang disegani di perusahaannya. Mama juga meneruskan kuliahnya, dia mengambil jurusan sastra Perancis. Jelas terlihat pada dirinya, betapa ia masih mencintai Perancis. Di rumah pun, bahasa Inggris masih terbatas pemakaiannya. Hampir sepanjang hari mama berbicara dengan bahasa Perancis. Terkadang kalau kami bepergian dengan taksi, mama suka tiba-tiba berkata, “Conduisez-moi a…ups, I mean, take me to…” Kalau sudah begitu, papa dan aku hanya bisa tertawa kecil.

Teman-temanku di sekolah pun cukup heran dengan keberagaman keluargaku. Apalagi kalau ada pertemuan orangtua murid di sekolah. Guru-guruku selalu memanggil nama mamaku bekali-kali, padahal beliau sudah ada di hadapan mereka. Maklum, kulitku hitam seperti Papa, walaupun mataku biru seperti mama. Tapi ini semua membuatku bangga. Tidak semua anak beruntung sepertiku. Ya, kan ?

Segala sesuatunya berjalan normal, Papa bekerja, Mama kuliah, dan aku sekolah. Tapi suatu hari, sesuatu yang benar-benar merubah kami sekeluarga. “Jai faim, Mama. Saya lapar, Mama,” ujarku kepada Mama ketika tiba-tiba Papa masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Karena Papa baru pulang setelah seminggu penuh bekerja, aku segera berlari menujunya, biasanya, Papa akan langsung menggendongku sambil mengajakku bercanda. Tapi hari itu, dia hanya mengelus kepalaku, sambil tersenyum, dalam sekali. Lalu, tanpa basa-basi, Papa memeluk Mama, dan mulai menangis, pelan. Saat itu, pertama kalinya aku melihat laki-laki yang paling kubanggakan menangis seperti itu. Saat itu, aku hanya memandangi, dan tidak tahu apa yang terjadi. Ketika melihatku, Mama segera berkata, “Aller pour tranguille, dear, I’ll bring your dinner, in a few minutes, okay?” ujar Mama lembut. Aku lalu naik ke atas dengan perasaan bingung. Selama 3 jam Mama dan Papa ngobrol di bawah, sepertinya menggunakan bahasa Perancis yang “complicated” sekali. Perutku yang lapar tidak terasa lagi, aku hanya ingin tahu, ada apa di bawah sana.

Esok paginya aku terbangun. Rupanya semalam aku ketiduran. Cepat-cepat aku turun ke bawah. Hari ini hari Sabtu, sekolah libur. Begitu sampai di bawah,sudah ada Papa dan Mama menunggu di meja makan. Wajah mereka cerah sekali, bahkan jauh lebih tenang dari biasanya. Seperti ada jiwa baru di mata mereka yang membuat segala sesuatunya lebih baik. “Bonjour, ma pouppete,” Ujar Papa sambil menenggak kopi hangatnya. “How’s your sleep dear? Waktu mama ke kamarku semalam, kamu sudah tertidur.Jadi, pagi ini ada masakan istimewa, omelet kesukaanmu.” Keduanya tampak berseri. Tapi kebingunganku, belum juga reda. Papa melihat itu, lalu menyuruhku duduk di dekatnya.

Siapa Tuhanmu, Anna?” Pertanyaan Papa yang aneh dan tidak biasa itu mengejutkanku. Papa belum pernah bertanya seperti itu, bahkan menyinggung- nyinggung hal itu pun jarang. Iya, kami merayakan natal setiap tahun, seperti orang lain. Setiap Paskah selalu ada ayam kalkun di meja makan. Terkadang kami ke gereja, di rumahku juga ada Bible. Tapi mempelajarinya? Membukanya pun, hanya pada saat-saat khusus itu. Papa atau Mama, yang memang sangat demokratis, benar-benar tidak peduli tentang itu. Aku pun tidak, selama kami bahagia, itu sudah cukup. Tapi kujawab juga pertanyaan papa, sepanjang pengetahuanku.

Yesus, Papa,” Jawabku.
Lalu bagaimana dengan Tuhan Bapa?” Pertanyaan Papa benar-benar membingungkanku.
D-Dia juga, Papa,” jawabku ragu.
Lalu, Roh Kudus?” Hatiku gelisah,
apa maksudmu Papa? Iya! Dia juga Tuhan!
Lalu, ada berapa Tuhan kalau begitu?

Aku teringat kata pastur yang masih membingungkanku sampai sekarang.
Semuanya satu Papa, hanya satu!
Kamu yakin Anna? Apa tiga sama dengan satu?
Aku terdiam. Aku gelisah dan heran, apa maksud papa bertanya ini. Lalu Papa merubah pertanyaannya.

Menurutmu, kalau ada, misalnya, dua yang sempurna, diberi kesempatan untuk menguasai dunia, apa yang mereka lakukan?” Tanya Papa.
Bi-bisa saja mereka berebut atau bekerja sama, Papa,” jawabku.
Misalnya mereka bekerja sama, dan yang satu tidak setuju dengan yang lainnya apa yang bakal terjadi?
Me-mereka akan bertengkar Papa.
Tepat, my little, pouppete, satu lagi kalaupun mereka bekerja sama bukanlah pola pikir mereka sama, sehingga dalam menciptakan sesuatupun sama. Apakah perlu dua orang kalau begitu?” tanya Papa.
Tidak Papa, satupun cukup.” Papa lalu tersenyum mendengar ucapanku.
Kalau begitu, apa perlu Tuhan yang banyak?

Aku terdiam. Jauh di dalam hatiku seperti ada sinar terang. Ya, aku memang baru berumur dua belas tahun, tapi perasaan itu benar-benar terasa di dalam hatiku.

Tidak Papa, cukup satu,” jawabku mantap.

Tiba-tiba air mata Papa tumpah,Mama juga.
Dengan suara bergetar, Papa bertanya.”Terakhir dear, apa kamu percaya Tuhan?

Saat itu, bagaikan sekelilingku benar-benar sunyi senyap. Aku teringat betapa indah semua pertanyaan yang pernah kualami. Melihat bintang-bintang di planetarium, alam Perancis yang luar biasa, bukan hanya itu, segala sesuatu yang pernah kulihat selama ini. Pasti ada yang membuat. Di pelajaran Biologi di sekolah, benda hidup tidak mungkin berasal dari benda mati. Kalau begitu, pasti segala sesuatu ini ada yang meciptakan, dan itu adalah…

Ya, Papa. I believe in God.

Kedua orang tuaku tesenyum. Damai sekali. Tanpa sadar aku menitikan air mata, seperti aku baru terbangun dari mimpi panjang, dan pertama kali melihat cahaya. Rupanya ini yang membuat Papa menangis. Kembalinya keyakinan dalam dirinya. Ya, Papa telah menemukan Tuhannya. Dan kini aku ingin mengetahuinya.

Allah, Tuhan kita, Anna.

Perlahan Papa mulai bercerita,

Papa menemukan Dia saat mendengar seorang teman Papa, muslim yang membaca kitabnya dengan bahasa yang asing sekali bagi Papa. Tapi hati Papa bergetar, walau tidak tahu artinya, hati Papa benar-benar tergetar. Saat Papa menanyakan artinya, teman Papa menjawab, ‘Sesungguhnya bumi Allah itu luas, dan rezeki Allah berlimpah di mana-mana’. Papa kaget. Itu prinsip hidup Papa selama ini! Papa tidak menyangka, prinsip hidup Papa yang selama ini banyak ditentang, ada di suatu kitab. Apa itu kebenaran? Lalu papa meminta teman Papa membacakannya ayat-ayat lain, dan hati Papa seperti disiram air sejuk.

Anna, Mama pun merasakan itu. Tadi malam Papamu menceritakan semuanya. Inilah yang Mama belum dapatkan selama ini. Islam! Menyembah Tuhan yang satu! Inilah jalan hidup yang Mama dan Papa cari. Bertahun-tahun, ya kau tahu sendiri Anna, hidup bahagia, tapi hati penuh kegelisahan. Dan kini, hanya dengan sepotong ayat saja, Papa dan Mama merasakan hidup yang sebenarnya. Anna, kau masih kecil, kami tidak memaksamu, tapi apa kau merasakan sesuatu? Coba rasakan di dasar hatimu, my little pouppete.

Aku tidak bisa berkata, tapi kepalaku kuanggukan. Dengan penuh keyakinan. Ya, aku masih kecil, tapi aku sudah merasakannya, getaran itu benar-benar menggema ke seluruh tubuhku. Pagi itu, sarapan kami terasa penuh makna. Seperti ruang-ruang kosong di relung hati, terisi sedikit demi sedikit. Bahkan sinar matahari pun terasa lebih jauh-lebih rendah.

***

Hari itu juga, kami ke rumah teman Papa, Mr.Ahmad Brown, dia sudah masuk Islam selama lima tahun. Dia Angkatan Udara Amerika Serikat yang sedang cuti. Papa bilang, di AU, perkembangan Islam sangat pesat. Terutama dari golongan orang kulit hitam.

Papa memiliki banyak kenalan dari AU, karena-seperti yang kalian tahu -kecintaannya pada pesawat F-16. Rupanya Papa mencuri-curi tahu ke mana saja pesawat itu berdinas, bagaimana onderdilnya, dan banyak lagi.

Kami bertiga diajak oleh teman Papa ke sebuah masjid sederhana di Portland. Tempat ini merupakan salah satu tempat syiar Islam yang masih jarang ditemukan di Portland . Kami bertiga masuk ke dalam dan melihat beberapa orang sedang sujud, membaca kitab, atau bergumam-gumam. Wajah mereka tenang sekali. Beberapa adalah orang Amerika asli, atau juga berkulit hitam seperti Papa. Tapi yang paling banyak adalah orang Asia . Teman Papa lalu mengajak kami bertemu pemimpin agama, pastur kalau di Kristen. Lalu secara sederhana, saat Papa minta diislamkan, dengan mata yang berkaca-kaca, dia menyuruh kami mengikuti perkataannya, “Asyhadu anla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, I witness that there is no God except Allah, and I witness that Muhammad is his messenger.” Singkat, tanpa perlu ritual berlebihan. Beliau lalu memberikan kami masing-masing sebuah kitab.

This is Koran. Bacalah, pelajari. Tidak usah terlalu di buru. Ini juga sebuah kitab fiqih untuk mempelajari Islam, banyak buku yang bisa kalian pinjam dan pelajari, dan kami semua siap membantu. Apa saja. Bersabarlah, remember, Actually God is with whom is patient.

***

Kami sekeluarga perlahan-lahan mulai mempelajari Islam. Setiap habis Maghrib, selama satu jam sampai waktu Isya’ kami belajar membaca Al-Qur’an. Kalau Papa pergi tugas, istri Mr. Ahmad yang membantu. Islam perlahan-lahan mulai menjadi tiang penyangga hidup kami.

Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Terutama bagi Mama. Beliau mulai memakai kerudung. Dan pakaiannya, benar-benar mencerminkan muslimah. Tapi, teman-teman di kampusnya mulai menjauhinya. Hanya beberapa yang, yang benar-benar demokratis mau berteman dengannya. Untunglah, teman-teman muslimah bertambah banyak. Sehingga Mama tidak merasa sendiri.

Tapi ada satu hal yang terberat. Saat Mama menceritakan keislamannya kepada orangtuanya, Grandma terutama, marah besar. Saat mama berbicara ditelepon, air matanya tumpah. Lalu tiba-tiba ia diam, kemudian memanggil-manggil, “Mama, oh Mama, mama.” Teleponnya diputuskan. Mama hanya bisa bersandar didada Papa sambil menangis.
Papa terus berkata, “Actually God is with whom is patient, Ma Cherie. He is. He is.

Di sekolah, teman-temanku tetap bersikap baik. Bahkan mereka suka bertanya yang aneh-aneh.
Seperti, “Dalam Islam, ada Santa Klaus-nya, nggak?
atau
Wah, asik dong. Kamu gak usah ke gereja lagi tiap minggu.
Dan banyak komentar lagi komentar lain. Sekolahku memang multi etnik, dan sangat liberal. Selama tidak mengganggu mereka, semua akan seperti biasa saja. Walaupun ada juga orangtua atau guru yang sinis, hal itu tidak kupedulikan. Mereka saja yang berpikir terlalu sempit.

***

Setahun berlalu, tiba-tiba di negara bagian ini muncul desas-desus mengerikan. Kabarnya orang-orang kulit hitam banyak yang tiba-tiba menghilang. Banyak yang mengatakan bahwa mereka menjadi korban penculikan sekte-sekte fanatik ras kulit putih. Polisi, FBI, sudah diturunkan ke berbagai kota, tapi hasilnya secara konkret belum juga muncul. Papa sangat khawatir.
Isabell, aku akan cuti. Atasanku memaklumi. Lagipula aku belum mengambil cutiku yang sebulan. Dan kini, tugasku untuk menjaga kalian. Setidak-tidaknya sampai keadaan mereda. Oke? J’etaime I don’t want to lose you.

Situasi benar-benar gawat. Sudah beberapa mayat yang hilang yang ditemukan, dengan kondisi memilukan. Para maniak itu bahkan selalu meninggalkan pesan mengerikan, bahwa tidak jarang jorok,
Die you Negros !,
atau
Pig’s skin ever better than your!
Dan banyak lagi. Perlindungan bagi kaum kulit hitam dari Harlem. Kemarin, mayat seorang pastur kulit hitam ditemukan. Aku khawatir dengan Papa.
Don’t worry ma pouppete. Allah with us. Kita harus berani, dan selalu waspada. Okay?

***

Sampai hari itu. Hari dimana semua kebahagiaanku direnggut. Papa sedang berkendara dari kota. Kami sedang dalam pejalanan pulang. Karena ada pemblokiran jalan, kami terpaksa lewat jalan kecil. Malam itu sepi sekali. Tiba- tiba di tengah jalan, tedengar bunyi tembakan. Papa cepat-cepat mengerem. Ternyata ban kami pecah. Lalu, muncul orang-orang bertudung putih, berjalan mendekat sambil membawa obor dan senjata. Pakaian mereka putih, dengan lambang salib terbalik. Aku ketakutan, Mama juga, tapi Papa memegang tangan kami sambil terus berkata,
Ingat, apapun yang terjadi, Allah selalu bersama kita, Macherie.

Sumber: Kumpulan catatan sifat seorang pemimpin

Mereka menyuruh kami turun dari mobil. Kalau tidak, mereka mengancam kepala kami akan ditembak. Papa menurut. Lalu kami digiring ke dalam hutan, perjalanannya cukup jauh, aku ingin menangis, tapi aku percaya, aku harus kuat. Kami tiba di sebuah lapangan luas. Di sana ada lebih banyak lagi orang-orang bertudung putih. Mereka beteriak kasar, bersorak-sorai, sambil membakar kayu-kayu. Pandanganku lalu tertuju ke sebuah penjara kayu. Panjang, dan didalamnya, banyak orang kulit hitam! Kami didorong ke sana. Tiba-tiba Mamaku ditarik lengannya.
Lepaskan istriku!” Papa coba berontak.
Mama berusaha untuk lepas, tapi sia-sia.

Orang tiba-tiba berkata.
Wanita ini seorang kulit putih. Tapi lihat! Keluarganya Negro, cih, menjijikan! Tubuhnya sudah ternoda oleh si hitam itu! Negro hina! Dan, apa ini?” Ujarnya sambil menarik kerudung Mama, “Ini benda yang dipakai wanita-wanita Islam itu. Cih! Ini lebih hina lagi. Tidak ada pantas-pantasnya, bahkan untuk di muka bumi ini! Mau apakan dia?” Ujarnya sambil berteriak keras.
Bakar! Bakar! Bakar!” orang-orang itu mulai menjadi liar.
Lalu orang tadi berkata lagi, “Semua ingin kau bakar. Tapi demi ras kulit putih kita, kuberi kau kesempatan. Tinggalkan keluargamu, juga Islammu. Kau akan kami bebaskan, setuju?
Papa tiba-tiba berteriak “Isabell! Lakukan! Lebih baik seorang dari kita selamat! Lakukan! Lakukan!

Tepat setelah itu. Kulihat mata biru mama dengan penuh keyakinan menatap tajam kepada orang itu, lalu berkata.
Aku tidak akan melepaskan agamaku walaupun kulitku lepas dari dagingnya. Dan aku tidak akan meninggalkan keluargaku, walau nyawa taruhannya!
Orang itu gemetar, lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengurung mamaku juga.

Kami dilempar ke dalam, bersama orang-orang kulit hitam lainnya. Tubuh mereka kurus sekali, badannya penuh luka. Banyak juga wanita dan anak-anak seusiaku. Beberapa tampak berasal dari keluarga miskin, tapi ada juga yang berada sepertiku.
Seorang laki-laki tiba-tiba berbicara kepadaku.”Hari ini mereka akan membunuh lima orang dari kita.
Lalu anak lain menyahut. “Lalu, mayatnya dibawa entah kemana…seperti ayahku,” gadis kecil itu menerangkan, lalu menangis.
Mamaku lalu memeluknya dan bertanya. “Tidak adakah yang bisa kita lakukan?
Tiba-tiba seorang berbisik kepada Papa. Papa mengangguk, sebentar wajahnya tenang, lalu pucat sekejap dan tenang kembali.
Ada apa, Papa?
Papa mendekat kepadaku dan Mama, lalu berkata pelan. “Mereka telah mematahkan salah satu dari kayunya. Akan cukup bagi anak-anak dan wanita untuk keluar. Anna, kamu seorang pandu di sekolah, bawa mereka ke tempat pemblokiran polisi tadi, Isabell, kau jaga para wanita dan anak-anak ini. Okay?”
belum sempat aku membantah, Mama cepat-cepat memotong sambil memegang kedua tangan Papa. “Charles, bagaimana denganmu? Bagaimana kau keluar? A-aku tidak mau pergi sendiri!
Air mata mama mulai tumpah, Papa memandangku dengan sangat dalam.Lalu Mama jatuh ke pelukan Papa, menangis sambil mengucap nama Allah. Aku menyelinap masuk di antara mereka, dan ikut menangis.

***

Ayo saatnya sudah tiba. Anna, bawa anak-anak keluar, juga para wanita. Depechez vous! Cepatlah! Mumpung mereka sedang tertidur, Papa dan lainnya akan menahan mereka dari sini! Cepat lari!
Setelah semuanya keluar, aku kembali ke Papa. Tidak, tidak mungkin aku meninggalkan Papa. Tepat saat semuanya berjalan sempurna, tepat saat kami menemukan kehidupan di jalan yang lurus. Aku tidak rela, Papaku yang kucinta. Sang Pilot yang kukagumi.
Ma… Papa…!
Ayolah Anna. Yang lain membutuhkanmu.
Tapi Papa, kenapa harus begini? Tidak Papa! Tidak!
Chest-la-vie. Kamu harus tabah, ma pouppet. Kalau Papa memang harus pergi bukankah Papa akan pegi ke tempat yang lebih baik? Ke sisi Allah. Prier to Dieau. Kita akan bertemu lagi, Okay?
Papa lalu mencium keningku, lama, sampai kurasakan air matanya mengalir di keningku.
Come on, Anna dear,” Mama memanggilku.
Dia Lalu mematap lekat kepadaku Papa.”A toute a I’huere. I’ll be missing you,
Lama sekali keduanya bertatapan, lalu dengan lembut Papa mencium kening Mama. Dan berkata berkali-kali.
J’etaime macherie. J’etaime. J’etaime Isabell, J’etaime Anna. J’etaime…
Lalu perlahan dilepaskannya pegangannya, “Allez vous-en! Lari sejauh mungkin. Ingat pesan Papa, jaga Mamamu!
Soyez tranguille I will Papa, I will.” Perlahan aku keluar,
Mama memegangiku. Tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat kami. Kami bergegas.
Noubliez pas, Anna, ‘Asyhaduanla ilahallallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.. .
Aku dan Mama membalas,lalu kami pergi. Para penjahat itu mulai berkumpul.
Ingat cita-cita Papa, pouppete, F-16 burung besi kecintaan Papa. Wujudkan cita-cita Papa, Noubliez pas! J’etaime, J’etaime Isabell, J’etaime Anna!
J’etaime Papa! J’etaime

Dan aku lalu pergi berlari. Aku memimpin mengikuti arah bintang, semak-semak belukar yang melukai kakiku, tidak kuingat lagi. Pardoner Papa! Aku tidak ingat lagi ketika tiba di tempat pemblokiran polisi bagaimana kami menjelaskan kejadiannya, lalu masuk ke hutan dengan polisi. Aku tidak ingat bagaimana para biadab itu terkepung.
Aku bermimpi, di suatu tempat, putih, dan halus. Papa!

Wonderful ma pouppete. Kau berhasil. Sekarang jaga mamamu. Papa akan ke tempat yang akan berkumpul bersama lagi. N’oubliez pas! God is with whom is patient! Wujudkan cita-cita Papa. Goodbye ma pouppete!
Lalu sosok Papa menghilang, pandanganku berputar, lalu aku terbangun. Wajah yang saat itu aku lihat, Mama!

Oh, Anna. Anna, be patient. Papa is gone. He’s with Lord Now.” Mama lalu memelukku erat.
Kami berterima kasih,” tiba-tiba seorang berkulit hitam berbicara. Wajahnya sedih sekali,
Papamu telah menyelamatkan hidupku. Dia melindungiku dari tembakan biadab-biadab itu. Papamu tidak menderita, dia pergi dengan senyum di wajahnya. Dia teus mengucap ‘Allah…Allah’ , dan dia sempat meninggalkan pesan untukmu, Anna, ma pouppete, jaga mamamu. Ingat cita-cita Papa. Preir to Dioer, J’etaime…

aku menangis, Mama juga. Papa kini telah pergi, tapi ke tempat yang lebih baik. Sampai aku juga kesana. Wait for me, Papa. I’ll make your dreams come true. J’etamine..

***

Papa mendapat gelar kehormatan dari pemerintah AS. Hidup Mama dan aku mendapat tunjangan, dan aku mendapat beasiswa. Aku melanjutkan ke sekolah militer. Mama, dengan tabah, membangun kembali dirinya. Beliau mengajar sastra Perancis di universitas- universitas Portland dan Seattle . Mama juga aktif mendakwahkan Islam di berbagai tempat. Perlahan kami membangun kembali keluarga kami, grandma bahkan memaafkan mama dan memutuskan untuk pindah ke Amerika untuk membantu Mama. Namun dengan halus Mama menolak. Katanya, “I can raise my own child, trust me momm.

***

Mesin pesawat berbunyi halus. Sayap F-16 yang kokoh ini membawaku terbang ke angkasa. Hari ini, Anna Marie Fatimah Jacquet, penerbang muslimah pertama, mewujudkan cita-cita Papa. Terus membumbung tinggi ke langit yang dicintai
Papa. A’toute a I’houre Papa. Sampai kita bertemu kembali….

Keterangan:
N’oubliez pas: jangan lupa
Soyez tranguille: jangan khawatir
Allez vouz-en: larilah
A’toute I’heure: selamat tinggal
J’etaime: aku mencintaimu
Chest la vie: inilah hidup
Aller puor tranguille: pergilah ke kamar Harlem (tempat perkampungan orang-orang negro)

Posted in Kajian Islam, Motivasi dan Inspirasi | Tagged: | 1 Comment »

Dramatis, Machester United Juara

Posted by freddysetiawan on May 22, 2008

Aku adalah Seorang Internisti. Tapi kalo sedikit melirik ke Liga Inggris, aku bukan fans “Red Devil” MU maupun fans “The Blues” Chelsea, yah, kalo di Liga Inggris, aku lebih menyukai “The Gunners” Arsenal. Namun sayang, partai final Liga Champions mempertemukan MU dan Chelsea, mau tak mau, aku tidak mendukung siapa-siapa, hanya menonton, siapa yang menang, biarlah menang , asalkan aku tidak menonton sia-sia, hanya berharap dapat melihat sebuah pertandingan yang menghibur.

Dramatis. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan MU meriah gelar juara. Pertandingan final Liga Champions musim 2007-08 yang berlangsung di Luzhniki Stadium, Moskow, Rabu, 21 Mei 2008, bakal dikenang tiga pemain sepanjang karirnya: Cristiano Ronaldo, John Terry, dan Nicolas Anelka. Ketiga pemain itulah yang gagal mengeksekusi tendangan penalti.

Kejelian Edwin van der Sar membaca arah bola yang dilepaskan Anelka membuat Manchester United—untuk kali ketiga sepanjang sejarah klub—menjadi kampiun di Eropa setelah unggul 6-5 atas lawannya Chelsea dalam adu penalti. Sebelumnya, dalam waktu normal 90 menit plus perpanjangan waktu 30 menit, kedua tim elite premiership ini bermain imbang 1-1 (1-1). Dua gol yang terjadi di waktu normal masing-masing tercipta lewat sundulan Ronaldo di menit ke-26 yang kemudian dibalas sepakan Frank Lampard di menit akhir babak pertama.

Sejak kick-off dibunyikan wasit Lubos Michel, kedua tim langsung memainkan tempo tinggi. Sayang, para pemain kedua tim terlalu terburu-buru. Dalam lima menit pertama, hanya tercatat satu tendangan yang dilepaskan Owen Hargreaves ke arah gawang Petr Cech.

Boleh dibilang dalam 10 menit pertama, kedua tim sama-sama kesulitan menembus pertahanan lawan. Pertandingan mulai menarik seiring dengan memanasnya atmosfer pertandingan. Dimulai dari aksi Ronaldo di menit ke-15 yang mampu melewati kawalan Michael Essien. Sayang, umpan silangnya terlalu deras untuk disambut Carlos Tevez.

Ketika jarum jam menunjukkan angka 20 menit, terjadi insiden tabrakan di udara antara Paul Scholes dan Claude Makelele. Karena dianggap menyikut lawan, meski hidungnya berdarah, Scholes menjadi pemain pertama yang diganjar kartu. Enam menit kemudian, 20 ribu lebih fans MU bersorak kegirangan melihat gawang Cech bergetar oleh sundulan Ronaldo memanfaatkan umpan silang Wes Brown yang terlebih dahulu melakukan kerja sama apik satu-dua dengan Scholes di sisi kiri pertahanan Chelsea. 1-0 untuk MU.

Gol kedelapan Ronaldo dalam 11 partai Liga Champions ini mirip dengan apa yang dilakukannya tatkala menjebol gawang AS Roma di babak perempat final di Olimpico, 1 April lalu. Chelsea mencoba membalas lewat upaya Didier Drogba di menit ke-33 yang berhasil membuat kemelut di depan gawang Van der Sar. Di bawah tekanan Michael Ballack, Ferdinand berhasil menghalau bola.

Berawal dari tendangan penjuru yang diambil Frank Lampard, MU melancarkan serangan balik yang sangat cepat lewat trisula mautnya, Rooney-Ronaldo-Tevez. Dari daerah sendiri mendapat bola liar, Rooney mengirimkan umpan panjang ke sektor kanan pertahanan The Blues. Bola berhasil dikuasai Ronaldo yang dengan serta merta mengirimkan umpan silang ke kotak penalti yang dapat disundul Tevez. Sayang, Cech mampu membloknya. Bola rebound mampir di kaki Michael Carrick. Untuk kali kedua Cech berhasil melakukan penyelamatan yang membuat Chelsea terhindar dari ketinggalan dua gol.

Kedua belah pihak kian gencar menekan pertahanan lawan di lima menit terakhir babak pertama. Di menit ke-42, crossing Rooney terlambat diantisipasi Tevez. Dua menit kemudian, peluang Chelsea lewat tendangan bebas terbuang percuma. Sepakan Ballack melambung tinggi.

Ketika publik mengira jeda bakal tiba, Lampard berhasil menjebol gawang Van der Sar. Gol balasan ini bermula dari bola liar di lapangan tengah yang mampir di kaki Essien. Secara spekulatif Essien mencoba menendang ke arah gawang. Bola membentur badan Nemanja Vidic dan Ferdinand. Bola rebound dicocor Lampard tanpa dapat dihalau Van der Sar yang terlebih dahulu mati langkah. Skor 1-1 bertahan sampai turun minum.

Memasuki babak kedua, MU mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu. Crossing yang dilepaskan Patrice Evra, sebenarnya berpotensi membahayakan gawang MU, sayang umpan tersebut terlalu tinggi sehingga tak mampu dicapai Tevez. Chelsea langsung membalas semenit kemudian. Sayang tembakan yang dilepaskan Essien masih melambung di atas mistar gawang. 15 menit babak kedua berjalan, Chelsea nampak begitu mendominasi permainan. Walau demikian mereka masih belum mampu menembus rapatnya pertahanan MU.

Akhirnya peluang emas didapat kubu Chelsea di menit ke-78. Tembakan spekulasi Drogba mengejutkan Van der Sar. Namun peluang tersebut kembali mentah sebab bola membentur mistar gawang. MU kembali memperoleh peluang di menit ke-81 melalui tembakan Tevez. Sayangnya, meski berhasil mengecoh Petr Cech, bola tersebut masih melebar.

Tiga menit sebelum waktu normal usai, Sir Alex ferguson memasukkan Ryan Giggs menggantikan Rooney. Masuknya Giggs sekaligus membuat ia mampu memecahkan rekor penampilan terbanyak MU yang selama ini dipegang oleh Bobby Charlton.

Di babak perpanjangan waktu, Chelsea memperoleh peluang terlebih dahulu. Namun, tembakan Lampard di menit ke-98, masih membentur mistar gawang. Tidak mau tertinggal, MU pun memperoleh peluang berbahaya. Chelsea bersyukur memiliki Cech, tembakan Giggs berhasil ditahan olehnya.

Di menit ke-115, perkelahian hampir tersulut di lapangan. Diawali perseteruan Tevez, Vidic, dan Drogba, ketiga pemain tersebut terlibat perang mulut. Namun Drogba terpancing. Ia pun melakukan tamparan kecil pada Vidic. Atas ulahnya tersebut, Drogba harus membayarnya dengan selembar kartu merah. Pada akhir perpanjangan waktu, kedua tim gagal menambah jumlah gol, maka penentuan pemenang pun harus dilakukan lewat adu penalti.

Chelsea sempat berada di atas angin saat Cristiano Ronaldo gagal menunaikan tugasnya. Namun keadaan kembali imbang karena eksekusi John Terry melebar. MU akhirnya juara karena sepakan Nicolas Anelka dapat diblok dengan tepat oleh Van der Sar.

Adu penalti: MU: 6, Chelsea:5
Tevez (gol); Ballack (gol);
Carrick (gol); Belletti (gol);
Ronaldo (gagal); Lampard (gol);
Hargreaves (gol); Cole (gol);
Nani (gol); Terry (gagal);
Anderson (gol); Kalou (gol);
Giggs (gol); Anelka (gagal)

Susunan Pemain: MU: Van der Sar, Brown (Anderson), Ferdinand (KK), Vidic (KK), Evra, Hargreaves, Scholes (KK, Giggs), Carrick, Ronaldo, Tevez (KK), Rooney (Nani).

Chelsea: Cech, Essien (KK), Carvalho (KK), Terry, A-Cole, Ballack (KK), Makelele (KK, Belletti), Lampard, J-Cole (Anelka), Malouda (Kalou), Drogba (KM). Wasit: Lubos Michel

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 1 Comment »