Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Melirik Hari Penuh Makna

Posted by freddysetiawan on May 3, 2008

1 Mei kemarin hari buruh internasional,
para buruh di berbagai negara demo…
Nuntut kehidupan yang lebih sejahtera

2 Mei kemarin hari pendidikan nasional,
para guru-guru demo…
Nuntut kehidupan yang lebih sejahtera
berbagai kalangan berkoar-koar
Pendidikan kita belum beres

Aku yang lugu berpikir, kenapa sich demonya harus pada hari yang bersangkutan?
kalo memang nasibnya gak sejahtera, sampaikan aspirasi kita, sampaikan keluh kesah kita kepada pemerintah dan pihak-pihak yang bersangkutan, setiap hari, selama nasib kita masih terabaikan, kenapa mesti nunggu 1 tahun sekali?

Apa mungkin supaya kompak? Bareng-bareng seluruh buruh di seluruh dunia? Agar aspirasi kita lebih mudah ditampung karena semua dalam 1 tema? Kenapa mesti tersiksa 1 tahun kalau kita merasa menderita. Sampaikanlah. Karena suara kita wajib untuk didengar, tidak mesti pada tanggal yang bersangkutan, cukup jadikan tanggal tersebut sebagai satu patokan agar di tanggal yang sama di tahun depan kita dapat melihat ke belakang, membandingkannya dan kita menyadari bahwa tahun ini kita lebih baik daripada tahun kemarin.

Entahlah… Mungkin aku salah…
Tapi itulah yang aku rasa.
Itulah yang aku pikir.
Itulah yang aku amati.
Kalo kita tidak mendapat keadilan, haruskah kita menunggu hari keadilan?

Aku pikir tidak. Tentu kita akan menuntut keadilan tersebut dan tidak akan rela ketidakadilan menginjak-injak kebenaran.Setidaknya begitulah.

Sedikit kita mencari tahu sejarah hari buruh atau biasa lebih dikenal dengan may day, yang aku kutip di wikipedia

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”.

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari “United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America”. Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres merubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Selalu ada kejadian besar yang patut untuk dikenang, membuat para buruh mengenang hari itu. Namun bukan berarti keluh kesah, hanya disampaikan pada hari itu….

Terus Berjuang

One Response to “Melirik Hari Penuh Makna”

  1. […] soal peringatan hari HAM, aku yang lugu lagi-lagi berpikir dan melirik hari penuh makna, kenapa sich demonya harus pada hari yang bersangkutan? kenapa mesti nunggu 1 tahun […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: