Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Ketika Kembali Diapit oleh 2 Pilihan

Posted by freddysetiawan on May 6, 2008

Tiba-tiba sahabat muda itu datang menyapa , seperti hari-hari biasa dimana kami berjumpa. Ia mencoba mencari tahu sepak terjang dan perjalanan panjangku selama beberapa pekan terakhir. Namun karena banyak hal yang menyangkut masa depan sebuah nyawa seorang manusia, aku urung menceritakan banyak hal, aku hanya berbagi beberapa ilmu dan kisah perjalanan yang penuh makna, meski tidak memenuhi harapan jawaban dari pertanyaan, namun cukup untuk membuat puas sang sahabat dari dahaga akan rasa keingintahuan.

Kali ini giliran aku yang mencoba melihat ke belakang, aku mencoba mencari tahu kabar negeri yang pernah aku jelajahi, negeri yang kini masih harus diperjuangkan oleh sahabat muda, meski cuma dalam hitungan waktu lagi. Aku mencoba mencari peruntungan lagi. Siapa tahu. Dewi Fortuna masih berpihak pada Freddy Setiawan.

Ternyata ia memang bukan sekedar sahabat yang bisa diandalkan, ia juga merupakan sahabat yang bervisi sama dan bertekad juang yang sama pula, aku baru sadar saat ini dan aku harap aku tidak dikhianati lagi seperti yang pernah aku alami oleh pesumpah palsu yang terkutuk. Aku pun mulai membuka pintu sedikit lebih lebar. Perlahan membagi harapan untuk memperlebar wilayah jajahan .

Hasratku pun kembali bertekad mencari pertarungan. Ada sekitar 10 pilihan yang disebutkan, menurutnya itu deretan yang terbaik, setidaknya sebagian aku akui. Dan tentunya kesamaan visi membuat selera kami tidak terlalu berbeda jauh.

Seiring dengan jalannya diskusi yang alot antara kedua belah pihak, satu persatu dinyatakan gugur sebagai pilihan karena tidak memiliki persyaratan yang cukup, persyaratan dapat terpenuhi sewaktu-waktu seiring dengan berjalannya zaman dan keadaan. Tinggallah 3 pilihan terakhir yang memenuhi untuk diperjuangkan. Namun sang sahabat muda tetap saja mampu bermain diatas kertas perasaan, sambil tersenyum licik ala petualang tanpa akhir, ia menggugurkan 2 kandidat lain dengan alasan yang tidak masuk akal dan tidak dapat aku pahami, hingga tersisalah kandidat terakhir yang merupakan sebuah kandidat terbaik yang memang telah diakui dunia internasional kala itu dan pernah terperjuangkan namun retak karena kegagalan nasib dibalut pengkhianatan, fitnah dan kejahatan yang penuh ego.

Karena ikan memang telah dipancing dan tertangkap, aku pun harus menerima kenyataan, namun sekali lagi, ia menggali sumur yang telah aku timbun dengan rapat. Ia telah berhasil menguak nestapa yang telah tertidur dengan berbalut selimut .

Aku mencoba tegar menerima kenyataan, namun terlalu berat untuk kembali bertempur tanpa kuda yang aku tunggang, sedang negeri seberang terlalu jauh. Aku pun kembali memanfaatkan kurir untuk menyampaikan pesan peperangan dan pesan penuh harapan. Aku harap kurir kali ini bukanlah lawan tempur yang harus kuhadapi esok harinya ketika aku hendak melangkah pada kemerdekaan.

Tak lama, sahabat muda pun pergi sambil membawa asa dan harapanku yang tak pernah sirna, meski sempat pudar. Aku pun mencoba membuka lembaran-lembaran tentangnya . Kutatap dalam-dalam. Rasa itu muncul begitu cepatnya, meski aku tahu, selain itu memang rasa, itu tak lain adalah egoku yang terlalu besar. Aku menjadi gila dengan terus mengingatnya . Hingga sampai malam pun aku terlalu sulit memejamkan mata karena terus mengingatnya. Dan aku terlalu sulit lepas dari jerat kegilaan karena mengingat masa lalu.

Ketika kembali diapit oleh 2 pilihan seperti yang aku rasakan sekarang ini, aku sadar aku harus memilih yang terbaik, mengingatkan akan kata-kata dosen filsafatku, yang ada digenggaman kita hari ini adalah yang terbaik diantara yang pernah kita genggam, pertahankanlah.

Namanya juga ego dan ketamakan manusia, tentu aku berharap dapat menggenggam 2 atau 3, atau bahkan lebih banyak. Karena manusia tidak pernah puas. Namun aku berharap yang hari ini aku genggam cukup bagiku, namun alangkah lebih baik jika mampu menggenggam semua isi dunia.

Dalam hasrat ingin memejamkan mata yang terlalu sulit karena kegilaan yang aku alami saat ini, dimalam yang dibalut hujan deras ini, aku pun mencoba menulis dalam bayang-bayang ingatan masa lalu yang indah

Menyapa lewat angin
Bercerita pada gugusan bintang
Menguntai tanya di sepi malam
Menghapus sedih di deras hujan
Melukis damba di hamparan air

Ku tahu semua sia-sia adanya
Namun mengapa tetap kulakukan jua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: