Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Ketika Mereka Menyebut Mei Sang Bulan Kemenangan

Posted by freddysetiawan on May 25, 2008

Kemarin aku baru saja berpesta dalam kemenanganku yang sangat berarti, kemenangan dalam tangis kekalahan, kekalahan dalam euforia kemenangan. Kemenangan yang aku lewati dalam masa-masa sulit nan mencekam. Sebuah pilihan yang menentukan nasib.

***

Aku teringat perjalananku 2 tahun yang lalu, ketika mereka menyebut mei sang bulan kemenangan, aku juga tentunya. Aku melewati kemenangan dengan berbagai pesta dan gemerlap rasa suka cita, bahkan saat ini aku tidak mampu melukiskan dengan lisan maupun kata-kata, karena itu hanya sebuah kenangan yang hilang bersama waktu, sebuah rasa yang tertinggal dan sebuah catatan sejarah yang tak akan usang dimakan waktu.

Lagi-lagi 6 bulan, mereka menyebutnya sebuah masa-masa yang sulit, begitu juga dengan aku. “Sosok mana yang mampu bersabar menanti tanpa pasti” itu kata sahabatku mencoba membantuku menemukan sebuah kepingan kesalahanku, aku tahu aku salah, aku tak mampu menjadi penjaga gawang yang baik, bahkan bisa dikatakan aku tidak menjaganya, karena aku tidak mengikatnya, karena komitmenku memegang kata lain. Aku salah? Komitmenku salah? Apapun itu.

Aku melepas sesuatu yang dapat aku cegah, aku membuang sesuatu yang masih terlalu indah dan terlalu berharga. Mungkin ada hikmah dibalik itu semua. Aku mencoba meyakinkan atas semua yang telah terjadi. Mungkin akan datang sesuatu yang lebih baik dan indah. Itulah kata-kata yang menjadi landasan semangat atas semua yang terjadi.

Orang yang tepat adalah orang yang mau mendukung komitmenku, atau setidaknya orang yang mampu menghancurkan komitmen yang aku jaga dengan baik ini.

Lagi-lagi 6 bulan, mereka masih menyebutnya masa-masa yang sulit, aku pun masih menganggap begitu. Tapi 6 bulan itu bertepatan dengan bulan ini, mei, dan mereke menyebut mei sang bulan kemenangan, aku pun masih. Namun apa yang akan terjadi ketika masa-masa sulit itu bertepatan dengan bulan kemenangan?

Aku memang sudah mulai melihat tanda-tanda itu muncul, tanda-tanda bulan keenam, aku hanya pasrah, aku sudah siap dengan apa yang terjadi, aku harus menjaga hal tersebut baik-baik. Sampai ada yang mampu memecahkan… Dan ia pun pecah…

Ketika langit berteriak (Mawar putihku)

Di tepi kebingunganku
Harum sang mawar ku cium selalu
Di saat ku jadi bimbang
Kau terbayang selalu

Ketika hatiku resah
Pikirkan yang terjadi
Ketika langit berteriak keras
Kau dengan tulus selalu mencintaiku

Berkat si mawar putih
Tulus cintamu
Ku rasakan itu semua
karena bunga mawar putih

Di atas keraguanku atas cintamu
Semua ku tepis
Ku berusaha percaya
Namun ku tau tak mudah

Akhirnya ku sadari
Perasaanku ini mencintaimu
Berkat mawar putih
Ku akui semua
Aku pun percaya tulus cintamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: