Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Belajar Dari Piala Eropa

Posted by freddysetiawan on June 7, 2008

Pesta sepak bola empat tahunan benua biru itu kembali datang. Piala eropa 2008 mulai digelar malam ini dengan partai pembuka tuan rumah Swiss melawan Ceko. Hari-hari begadang hingga fajar pun kembali menghiasi keseharian kita.

Dari grup A, ada tuan rumah Swiss, Runner up Portugal, Turki dan Ceko. Di grup B, ada tuan rumah Austria, Jerman, Kroasia dan Polandia. Di grup neraka C, ada Belanda, juara dunia Italia, Prancis dan Rumania. Di grup D, ada juara bertahan Yunani, Spanyol, Swedia dan Rusia.

Tentu saja, kita tidak boleh sekedar larut dalam euforia ini. Tidak hanya menikmati partai-partainya yang berbobot, kita juga dituntut bisa memetik pelajaran berharga dari kejuaraan tingkat benua paling bergengsi itu.

“Keharusan” untuk belajar itu semakin terasa mendesak akhir-akhir ini. Khususnya di tengah kesemrawutan yang terus membelenggu persebakbolaan nasional kita. Dari kompetisi yang amburadul, kepengurusan yang kehilangan legitimasi, hingga prestasi tim nasional yang seolah jalan di tempat.

Fakta paling terakhir terlihat di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Menjamu Malaysia yang juga sedang limbung prestasinya, tim nasional Indonesia hanya mampu bermain imbang 1-1.

Sialnya, pertandingan persahabatan itu dinodai ulah tak simpatik segelintir suporter. Dua oknum mahasiswa kedapatan membawa spanduk yang bernada provokasi terhadap tamu dari negeri jiran. sebuah sikap yang jelas mencederai nilai-nilai sportivitas dan persahabatan. Dan, ironisnya, itu dilakukan oleh oknum suporter dari kalangan terpelajar.

Piala eropa akan digelar malam ini (waktu Indonesia), kita harus mengambil dan mendapat pelajaran berharga dari sepenggal peristiwa ini. Soalnya, di benua biru sana, kita juga melihat berbagai aksi provokasi, salah satunya yang ditunjukkan salah satu surat kabar menjelang pertandingan Jerman melawan Polandia. Namun dengan bijak kubu Jerman maupun Polandia sama sekali tidak terprovokasi. Bahkan dengan luar biasa dan menakjubkan mereka bergandengan tangan mengecam agitasi murahan semacam itu.

Alangkah indahnya kalau kita, suporter, pemain, pengurus klub dan seluruh bangsa Indonesia dapat meniru dan mengambil hal-hal positif, terutama dalam menyikapi kerusuhan. Itu tentu akan menjadi langkah maju yang signifikan.

Sungguh mengiris hati melihat suporter Indonesia yang anarkis, brutal dan merusak fasilitas serta aset-aset bangsa. Pemain yang semena-mena bahkan sampai melakukan kekerasan kepada wasit. Dan tentu 1001 hal lain yang tidak mungkin dapat disebutkan.

Dan tentu kemajuan itu akan terasa lengkap jika para pemain kita juga bisa menjadikan Piala Eropa sebagai sarana pembelajaran untuk peningkatan kualitas. Kita semua terus menanti tim nasional Indonesia meraih prestasi!
Ayo! Indonesia Bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: