Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Ketika aku ingin berargumen

Posted by freddysetiawan on June 19, 2008

Seorang sahabat lama yang telah mencoba pertualangan di belahan bumi yang lain suatu hari mengirimkan sebuah SMS

fred, loe masih idealis gak?

hahaha.. aku tertawa sendiri mendengarnya. Tiba-tiba sms, gak jelas pula tuch. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan beranggapan aku seorang yang idealis.

Yah.. Mungkin wajar jika dia beranggapan seperti itu,apalagi dengan debat-debat tidak penting yang sering kami lalui, apalagi aku sering mengeluarkan argumen, ide-ide ataupun pemikiran gila yang bahkan sering tidak masuk akal, yang paling penting menang debat (bukan menang dalam arti sesungguhnya, tapi hanya menang kekuatan berargumen), tidak kalah, tahu harus terus membantah dan meyakinkan bahwa kata-kata aku ada benarnya. Dan bagiku apapun penilaiannya itu tidak penting. Karena yang paling penting aku mendapatkan kesenanganku berdebat gak jelas, atau tepatnya, aku lebih senang menyebutnya olahraga lidah.

Sebenarnya aku sadar, tong kosong nyaring bunyinya, aku sangat ingin meminta maaf dan mengakui debat-debat gak jelas itu semata-mata hanya untuk kesenangan. Semuanya sampah, bullshit. Hanya ego yang tinggi tidak mau kalah dan tidak mau menerima argumen gila yang juga ia keluarkan. Haha

Namun ada satu hal yang tiba-tiba mengingatkanku, sebuah pemikiran gila yang tidak penting.
Aku pernah berargumen gila “Andai kata aku tidak ada, maka dunia akan berbeda
Bila aku tidak ada, akan ada bagian dari dunia ini yang berbeda, dunia boleh sinkron tapi akan ada kondisi dimana orang-orang tidak mengenal adanya seorang freddy setiawan, saudara-saudaraku hanya 6 bersaudara bukan 7, kursiku akan ditempati oleh orang lain yang saat ini tidak mendapat kursi atau mendapat kursi di tempat lain sehingga setiap kursi-kursi akan bergeser, dan seterusnya dan sebagainya.

tapi sahabat lama ini tidak setuju saja dengan argumenku
gak bisa gitu fred” bantahnya
ada-ada saja hal yang diperdebatkan memang, namun itulah sebuah kesenangan tersendiri.

Aku pun jadi teringat kisah Fabio Cannavaro dan saudara mudanya Paolo Cannavaro yang pernah aku paparkan, teringat hal-hal gila yang tidak masuk akal yang kami bicarakan, teringat tidak tidur semalaman hanya gara-gara mencoba membahas hal-hal yang bahkan tidak bermanfaat.

Sekarang…
Ia telah mencoba pertualangan di belahan bumi yang lain, cukup jauh untuk melakukan diskusi alot lagi. Padahal saat ini, ketika aku ingin berargumen dengan berbagai perihal yang cukup membuat hatiku gundah. Ia tidak ada untuk menemaniku berdebat. Aku ingin bicara berbagai masalah yang tentu akan sangat menarik jika dibicarakan.

Dan sekarang…
Aku tidak menemukan sosok yang sama-sama jenis idealis-nya denganku, yang cukup menyenangkan untuk diajak berolahraga lidah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: