Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Lihatlah Jarak yang Kita Buat

Posted by freddysetiawan on June 25, 2008

Kita semua selalu bersama-sama, tetapi kita semua merasa sangat kesepian
(Dr. Albert Schweitzer)

Mari coba pikirkan sejenak gaya hidup di kota-kota besar abad ke dua puluh ini. Bagaimana setiap orang menjaga diri dari gangguan pribadi yang tidak diharapkan. Lihatlah, banyak orang yang tinggal dalam lingkungan rumah dimana hanya sebulan sekali bertemu dengan tetangga. Tinggal di tengah kota, hidup dikelilingi pagar tinggi dan sistem pengamanan. Kebanyakan memiliki nomor telepon genggam pribadi dan satpam penjaga di pagar. Secara sadar dan sesuai harapan, hal tersebut memang mengurangi kemungkinan munculnya tamu tak diundang, namun sebenarnya hal tersebut juga memutus hubungan dengan orang-orang lain.

Pernahkah kita berpikir sejenak, kita menghabiskan waktu berjam-jam dibalik kemudi dalam kemacetan lalu lintas dan merasa terasing. Kita berbicara dengan komputer. Kita tidak lagi pergi menemui orang lain, namun kita mengirimkan faksimili atau e-mail. Paling tangguh hanya menyapa lewat telepon. Supermall telah menggantikan toko-toko kecil yang penuh keakraban dan ikatan persaudaraan. Makan malam di depan televisi telah menggantikan makan malam bersama keluarga, atau dengan mudah kita makan malam begitu saja di depan kulkas. Bila pergi ke tempat umum, kita cenderung acuh tak acuh. Pandangan semacam ini sebenarnya cara untuk membuat jarak dengan orang lain entah di bis, kereta api, tangga berjalan dan supermarket. Sebuah pandangan yang kosong seakan menyiratkan, “Saya tidak mengenal anda, jangan berbicara dengan saya.” Secara kasar, kita memang hidup dalam keramaian kota besar, namun kita hanya hidup dengan orang-orang sekitar,. Kita semua selalu bersama-sama, tetapi kita semua merasa sangat kesepian.

Kita menonton televisi atau VCD mungkin sekitar empat jam sehari sendirian. Tidak peduli apakah ada orang lain di ruangan, kita asyik dengan acara-acara di televisi. Kita memiliki VCD atau DVD player yang membantu bila tidak ada acara menarik di TV yang dapat kita tonton. Apakah itu buruk? Tidak sepenuhnya buruk. Kita sekarang hidup dalam waktu-waktu yang menyenangkan (dan sangat sesuai), tetapi kita perlu memahami ada begitu banyak tekanan yang mendorong kita menjauhi orang lain. Kehidupan akan menyenangkan apabila kita memiliki pengalaman kebersamaan. Kebahagiaan terbesar, saat-saat paling berharga, tantangan yang paling berat, dan saat-saat paling menyenangkan, kebanyakan terjadi di saat kita bersama dengan orang lain. Pengalaman belajar yang terbesar pun datang dari kebersamaan kita dengan orang lain. Agar hidup bisa menjadi suatu kenangan maka kita perlu menghilangkan beberapa penghalang dengan melakukan usaha khusus untuk bertemu dan berdekatan dengan orang-orang lain.

Dosen filsafatku pernah berkata, “Saya tidak punya waktu banyak dengan anak-anak tetapi saya selalu menjaga KUALITAS daripada waktu.” Sebelum ada kualitas waktu harus ada kuantitas waktu. Bila anak yang berusia sepuluh tahun ingin dibacakan bukunya, diajak berjalan-jalan, atau berguling-guling di rumput, orang tua tidak dapat mengatakan, “Ayo, kita berjalan-jalan dua menit saja,” atau, “Ayo kita berguling-guling sebanyak lima puluh delapan kali namun yang berkualitas.” Hal ini akan berkualitas hanya bila anda berdua telah menyelesaikannya. “Sebaiknya, kita harus berusaha meluangkan waktu untuk orang lain dan membuatnya sebagai prioritas,”.

Namun sayangnya, tekanan pekerjaan, dan gelombang teknologi selalu membawa kita pada arah sebaliknya….

Kita masih memiliki kesempatan melakukan yang terbaik kepada orang-orang yang kita sayangi dan kita cintai. Semuanya belum terlambat.

Sumber: Kumpulan kisah motivasi

One Response to “Lihatlah Jarak yang Kita Buat”

  1. […] Lihatlah jarak yang kita buat, banyak orang yang tinggal dalam lingkungan rumah dimana hanya sebulan sekali bertemu dengan tetangga. Tinggal di tengah kota, hidup dikelilingi pagar tinggi dan sistem pengamanan. Kebanyakan memiliki nomor telepon genggam pribadi dan satpam penjaga di pagar. Secara sadar dan sesuai harapan, hal tersebut memang mengurangi kemungkinan munculnya tamu tak diundang, namun sebenarnya hal tersebut juga memutus hubungan dengan orang-orang lain. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: