Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Spanyol Juara Piala Eropa 2008

Posted by freddysetiawan on June 30, 2008

Kemampuannya membangkitkan semangat dan mental tim, juga membangun kekompakan adalah kunci kesuksesan
——————————————–

Usai sudah paceklik gelar dalam kurun waktu 44 tahun, tim nasional Spanyol berhasil menjuarai EURO 2008, berkat gol tunggal ujung tombak andalannya Fernando Torres. Spanyol taklukkan Jerman di babak final EURO 2008 1-0. Dengan demikian Spanyol berhasil menjadi kampiun di benua biru tersebut dan kesuksesan ini merupakan karir tertinggi mereka selama ini, setelah terakhir kali mereka menjuarai turnamen ini pada tahun 1964.

Penantian panjang selama 44 tahun itu ada di tangan dingin Luis Aragones. Meski sempat kontroversial di awal kariernya sebagai pelatih timnas Spanyol pada 2004, dia akhirnya membuktikan kemampuannya. Pelatih yang dijuluki Zapatones (Sepatu Besar) itu telah menancapkan sejarah besar dalam sepakbola Spanyol.

El Sabio de Hortaleza. Itu adalah julukan lainnya untuk Aragones, yang artinya Orang Bijak dari Hortaleza. Hortaleza adalah tempat kelahirannya pada 28 Juli 1938. Tepat kurang sebulan dia berulang tahun untuk ke-70 kalinya, dia membuat sejarah besar.

Menjuarai Piala Eropa 2008 ibarat anugerah terindah yang pernah dimiliki Spanyol dalam 44 tahun terakhir ini. Sejak juara turnamen yang sama di Piala Eropa 1964, Spanyol selalu belepotan di pentas internasional, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. Padahal di kompetisi liga dalam negeri, sepakbola Spanyol menunjukkan tontonan dan permainan yang baik.

Seolah, prestasi di liga tak berbanding lurus dengan prestasi tim nasionalnya. Mereka hanya masuk final di pentas internasional tiga kali, di Piala Eropa 1964, 1982, dan 2008. Hanya pada 1964 dan 2008 ini mereka juara. Selebihnya, Spanyol selalu kesulitan berkompetisi di pentas internasional, hingga kata Spanyol diidentikkan dengan kegagalan.

Semakin banyak gagal, semakin sulit pula buat Spanyol untuk bangkit. Mental juara mereka sulit terbangun. Tapi, Aragones mampu melakukannya. Kepada para pemain dia mengatakan, “Kalian adalah tim yang bisa mengalahkan siapa saja. Mental kami sudah kuat dalam beberapa tahun ini. Kami belajar banyak dari Piala Dunia 2006, dan kini sudah mengambil hikmahnya. Saya katakan kepada pemain, untuk memainkan sepakbola yang baik, mereka harus bersaing dan tahu bagaimana bekerja keras. Dan, mereka telah banyak belajar.

Kemampuannya membangkitkan semangat dan mental tim, juga membangun kekompakan adalah kunci kesuksesan Aragones. “Suasana dalam tim amat menentukan. Saya memperlakukan pemain sama dan setara. Semua punya peran besar. Jika ada yang main dan dicadangkan, itu lebih karena strategi,” katanya.

Itu salah satu kelebihannya. Sayang, dia enggan memperpanjang kontrak. Padahal, dua tahun lagi Spanyol akan menghadapi Piala Dunia 2010. Namun, keputusannya harus dihormati dan jikapun meninggalkan timnas Spanyol, dia telah meninggalkan warisan sangat berharga.

Bukan hanya gelar Piala Eropa kedua kalinya. Sukses itu juga membangkitkan rasa percaya diri sepakbola Spanyol. Lebih jauh lagi, sukses itu bisa semakin membaurkan perbedaan seluruh warga Spanyol, tak peduli apakah mereka Spanyol, Catalonia, atau Basque. Semua adalah satu. Spanyol.

Namun, ia tetap bukan sosok yang sempurna, dia pernah memunculkan kontroversi besar. Kepada Antonio Reyes, dia mengatakan kata-kata rasial yang ditujukan kepada Thierry Henry. “Katakan kepada negro sialan itu (Henry) bahwa kamu jauh lebih baik darinya. Katakan bahwa kata-kata itu dari saya. Kamu harus yakin lebih baik dari negro sialan itu,” ujarnya.

Ucapan rasial itu akhirnya membuatnya didenda UEFA sebesar 70.000 dolar AS. Jika melakukan hal sama, dia akan dikenai hukuman lebih berat.

Tapi, Aragones meminta maaf dan akhirnya menyesali kekeliruannya. Dia kembali menjadi orang bijak yang membangun Tim Matador dengan keteduhan, tapi mampu melahirkan tim yang cemerlang dan siap mengalahkan siapa saja. Dan, akhirnya dia mempersembahkan hadiah terbesar buat bangsa Spanyol: trofi Henri Delaunay, simbol jawara Piala Eropa. Gelar yang menjadi sejarah indah, sekaligus mengembalikan mentalitas dan kehormatan sepakbola Spanyol.

Sedikit kita membahas masalah jalannya pertandingan, pada menit ketiga gawang Spanyol nyaris kebobolan, bila saja Miroslav Klose tampil tenang saat memanfaatkan kesalahan passing dari Sergio Ramos. Memasuki menit 14 ganti Spanyol yang mengancam gawang Jerman, beruntung sontekan Iniesta yang coba dihalau Christophe Metzelder nyaris menjadi own-goal, tetapi Jens Lehmann menepis bola keluar arena pertandingan.

Tak lama berselang penyerang andalan Liverpool, Fernando Torres, memiliki kans untuk menjebol gawang Jerman, namun sayang tandukannya hasil umpan silang Sergio Ramos hanya mengenai mistar gawang dan beruntung bagi Jerman bola muntah tidak disambar oleh pemain Spanyol lainnya.

Menit 33 Spanyol membuka keunggulannya terlebih dulu melalui sontekan manis Fernando Torres, yang memanfaatkan umpan gelandang Xavi Hernandez. Gol ini sangat luar biasa mengingat Fernando Torres benar-benar menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengejar bola dan sebagai hasil ia berhasil menghasilkan gol hasil kerja kerasnya.

Memasuki paruh kedua, Spanyol sudah memiliki dua kali peluang melalui tendangan jarak jauh Xavi, dan David Silva, namun sayang keseluruhannya masih berada tipis di sisi kiri gawang. Spanyol nyaris kebobolan, saat bek Barcelona Carles Puyol melakukan kesalahan di lini belakang, dan beruntung tendangan Michael Ballack masih melebar dari arah gawang. Selanjutnya dua kali Spanyol mendapatkan peluang lagi untuk menambah gol melalui tandukan Ramos dan tendangan Iniesta, namun kesigapan Lehmann dan ketatnya lini belakang Jerman membuat tim asuhan Luis Aragones itu tidak bisa menambah jumlah gol.

10 menit menjelang bubaran, Spanyol hampir membuat gol kedua saat umpan Santi Cazorla dari sisi kanan langsung ditanduk oleh Guiza, namun sayang Marco Senna tidak dapat meneruskan bola ke dalam gawang akibat bola memantul sedikit lebih tinggi dari jangkauan kakinya. Hingga pertandingan usai skor tetap tidak berubah dan Jerman, yang diasuh oleh Joachim Loew harus rela melihat anak-anak asuhannya terkulai lemas di atas lapangan.

Berikut daftar juara EURO:

1960 Uni Sovyet
1964 Spain
1968 Italia
1972 Jerman Barat
1976 Cekoslovakia
1980 Jerman Barat
1984 Prancis
1988 Belanda
1992 Denmark
1996 Jerman
2000 Prancis
2004 Yunani
2008 Spanyol

One Response to “Spanyol Juara Piala Eropa 2008”

  1. nadeCila said

    Tahnks for posting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: