Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Menguak Sebuah Makna Keberuntungan

Posted by freddysetiawan on July 15, 2008

Keberuntungan dapat menjadi bencana, dan bencana dapat berubah menjadi keberuntungan. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya

————————————————————–

Hari ini aku lelah benar, setelah semalaman bermain futsal bersama teman-teman. Badan masih terasa lemas. Usil memang terkadang, apalagi besok tidak ada kuliah, kalau waktu seperti ini datang, kami bisa bermain sampai jam 4 pagi. Pagi ini pun aku terbangun cukup siang. Jam 11 pagi menjelang siang.

Kejadian ini mengingatkanku ketika berkumpul dengan teman-temanku beberapa minggu yang lalu, aku dan beberapa temanku ditraktir oleh seorang sahabat yang baru saja mendapat kebahagiaan, ya, seorang sahabat yang baru saja bertambah umur dan semoga saja ia juga bertambah dewasa.

Sambil penuh canda, hina, ejek dan tawa. Korban satu per satu kena giliran, tak ada yang terlepas dari jerat bahan tawa, semua semata-mata bukan untuk maksud melecahkan, tapi hanya untuk meningkatkan keceriaan dan kebersamaan.

Ada sebuah kisah yang mungkin hanya bahan canda dan tawa, namun ternyata menjadi sebuah pelajaran penting, kehidupan memang selalu memberi warna, bila kita mampu menangkapnya, maka kita dapat mengambil hikmah dan keindahannya.

Ketika gilirannya tiba,
tiba-tiba seorang sahabat berkata “Wah, kita bakal susah nih ngumpul-ngumpul sama si A, ngambek istrinya kalo ditinggal, cemburu, takut kita kemana-mana, apalagi bentar-bentar pergi bareng sama istrinya. Hahaha
sambil mengejek penuh canda yang lain ikut bertanya “Darimana loe yakin bahwa loe beruntung dapat dia sebagai pacar? bukankah bisa saja itu justru menjadi kesialan
Yang lain juga menyahut “Iya.. dengar-dengar dia ibarat nenek lampir, loe bisa dihajarnya sob
Yang lain membalas “Bisa KDRT nih, suami takut istri. Haha
Setidaknya status gak jomblo” jawabnya sambil menyindir salah seorang sahabat yang lain

Hanya sebuah petikan pembicaraan sederhana. Namun ada hikmah besar yang terdapat dibalik kalimat-kalimat tersebut

Ya memang, kita tidak dapat tahu apakah itu sebuah keberuntungan karena perjuangan kita berhasil atau justru itu malapetaka karena kita melakukan pilihan yang salah. Bagiku itu tidak menjadi persoalan, yang paling penting bagaimana kita menyikapinya, perjuangan kita berhasil, kita merasa bahagia dan berusaha semaksimal mungkin untuk saling menghargai dan menerima apa adanya.

Beberapa waktu yang lalu, ia berkata kepadaku “Ternyata benar apa yang sempat kita bicarakan dulu, mungkin itu cuma candaan, namun ternyata ada sebuah pelajaran, ini bukan keberuntungan, pacaran dengan dia adalah malapetaka
aku bingung dan bertanya “jangan langsung menilai begitu, mungkin ada sesuatu, emangnya kenapa dengan dia?
cinta emang bikin buta segalanya, kita hanyut dan terbawa oleh arus rasa yang benar-benar membutakan logika
yah.. kita harus pandai membagi diri, jangan sampai kecebur aja. Emangnya loe diapain?
Baru sekian waktu jalan bareng, gue udah tekor gini, ini sih brutal namanya…” jawabnya penuh emosi “gue ini juga masih kuliah, belum juga punya penghasilan, tapi udah dibabat gini, dia baru pacar gue, belum istri gue. Punya istri gitu juga bakal hancur rumah gue.
Santai bro…” aku mencoba menenangkan emosinya “bla…bla…” seribu kata-kata kucoba untuk menenangkan dia yang tampak benar-benar sedang kesal dengan ketidakberuntungannya itu.

Aku teringat, bahwa aku juga pernah mengalami hal seperti itu, tepat sekitar setahun yang lalu, semua bermula dari akhir semester satu yang indah itu, aku patah hati kepada seorang wanita, semester dua aku pun hancur-hancuran, malas-malasan akibat stress berkepanjangan dan penuh dengan gejolak kehidupan dunia. Diakhir semester dua aku pun mencoba bangkit, dan didalam semester pendek yang super kelabu itu, aku mencari pelampiasan kepada seorang wanita yang cukup mudah ditaklukkan. Jujur, waktu itu aku cukup merasa beruntung, bahkan sangat beruntung, kala itu aku percaya bahwa tidak salah kata-kata habis gelap terbitlah terang.

Bayangkan saja sesosok wanita yang cukup menarik, meski tidak mampu menghapus bayang-bayang kegelapan, dengan sifat yang asik, enjoy, cukup bisa berpetualang dalam kehidupanku. Aku cukup optimis untuk memperbaiki kehidupanku yang cukup suram kala itu. Namun, ternyata, kehidupanku bukannya membaik, malahan menjadi hancur lebur dan berantakan, aku lalai dengan kehidupan perasaan, keuanganku tidak teratur dan cukup jebol. Yah… wanita racun dunia, ia bisa menjadi racun jika kita tidak mampu menyeimbangkannya, dan ia bisa menjadi madu dan susu yang menyegarkan kehidupan kita jika kita mampu memaksimalkan dan tidak terpengaruh. Namun kala itu aku benar-benar gagal. Rayuan-rayuan mematikan dapat datang seketika, menghancurkan segala perjuangan dan keseimbangan kehidupan. Semester Pendekku menjadi gelap gulita. Gelap gulita bagiku.

Hal ini mengingatkanku kepada sebuah kisah kebijaksanaan cina klasik yang berjudul Kuda yang hilang. Tentang sebuah keberuntungan dan ketidakberuntungan. Mari sedikit kita menguak sebuah makna keberuntungan.

Seorang pria tinggal dengan ayahnya di bagian cina utara. Suatu hari kudanya melarikan diri ke tempat para nomaden (baca: bangsa mongol) di seberang perbatasan. Para tetangganya datang untuk menyampaikan rasa simpati.
Bagaimana kalian mengetahui bahwa ini bukan suatu berkah?” tanya ayahnya.

Beberapa bulan kemudian, kudanya kembali dengan membawa seekor kuda nomaden yang sangat bagus. Teman-teman dan tetangganya datang untuk mengagumi kuda itu dan memberinya selamat.
Apa yang membuat kalian berpikir bahwa ini bukan bencana?” tanya ayahnya.

Anaknya sangat menginginkan kuda itu. Beberapa hari kemudian, kakinya patah ketika sedang mengendarainya. Setiap orang datang dan menyatakan rasa prihatin
Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah sesuatu yang buruk?”

Sebulan kemudian, para nomaden menduduki China, dan setiap orang pria yang sehat diwajibkan untuk berperang. China kehilangan sembilan dari setiap sepuluh pria yang dikirim dalam konflik di perbatasan. Anak itu tidak ikut berperang karena kondisi kakinya.

Keberuntungan dapat menjadi bencana, dan bencana dapat berubah menjadi keberuntungan. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya. Ini adalah sebuah cerita klasik yang berintikan sifat yang tidak terprediksi dan pola siklus perubahan dalam kehidupan.

One Response to “Menguak Sebuah Makna Keberuntungan”

  1. Wish said

    hmmm….agak sedikit membuka pikirann…

    intinya gak pernah boleh bersedih ketika bencana melanda…
    huhuhuhuhuhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: