Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Antara Catatan Harian dan Nasib

Posted by freddysetiawan on July 29, 2008

Menulis bukanlah sebuah perkara mudah. Ia adalah kemampuan menggabungkan unsur seni, logika dan perasaan
——————————————–

Buku harian adalah rahasia perasaan paling pribadi, bahkan terkadang tidak ada seorangpun boleh tahu. Namun tidak bagiku, aku bukan orang yang suka menulis buku harian, aku hanya menulis sebuah catatan harian, sebuah catatan tentang kegundahan hatiku pada dunia, catatan untuk umum.

Banyak orang berkata bahwa sebuah coretan hati yang tertuang mengikuti tulusnya perasaan seseorang, mulai dari paling pahit hingga manisnya perjalanan kehidupanmu. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku juga demikian? Entahlah

Suatu ketika, aku pernah berkata kepada salah seorang sahabatku yang tergolong memiliki hobi menuliskan buku harian “hati-hati menulis buku harian, karena itu justru akan menjadi nasib loe

Dengan polos dia bertanya “Apa kaitan antara catatan harian dan nasib?

Ketika loe yakin bahwa nasib loe terus-terus sial, dan setiap kesialan loe tulis di buku harian loe, maka disadari kesialan akan makin banyak saja. Ketika loe yakin dan merasa diri loe miskin dan loe selalu menuliskannya, maka loe akan benar-benar miskin dan tidak akan pernah kaya

Ah… gak menjamin

Yup, setuju banget, memang gak menjamin 100%. Tapi loe pasti pernah dengar tentang sugesti tentang sakit dan dokter, bila loe percaya pada seorang dokter, cukup dengan minum obat beberapa kali, yakin dapat segera sembuh, insya Allah loe bakal sembuh secepatnya. Namun sebaliknya, bila loe pergi ke seorang dokter, dokter ahli sekalipun, namun loe gak yakin pada dokter tersebut dan gak optimis bisa sembuh, maka kesembuhan itu terkadang gak datang. Itulah prinsip kerja pikiran bawah sadar. Pikiran percaya apapun yang kamu katakan. Jadi ingat, mengisi dan menulis buku harian ataupun catatan harian (freddy setiawan’s journey) pada dasarnya kita sedang berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar. So hati-hati. Mungkin banyak orang yang menyepelekan menulis, sesungguhnya menulis bukanlah sebuah perkara mudah. Ia adalah kemampuan menggabungkan unsur seni, logika dan perasaan

Jadi harus gimana donk?

Gue juga bukan seorang penulis handal, masih jauh dari kesempurnaan, penuh kekurangan, masih banyak lubang yang harus ditambal, namun alangkah baik jika kita terus memperbaiki diri. Kalo dari segi saran, saran gue loe boleh saja menceritakan perasaan sedih loe ataupun duka lara loe, sekali lagi itu tergantung pada diri loe, lagian itu juga buku harian loe, milik loe sendiri, gue gak ada hak untuk mencampuri apa yang loe tulis, tapi ingat hati-hatilah dalam menuangkan perasaan loe. Alangkah lebih baik jika disetiap kegundahan hati loe, loe jangan terlalu larut dalam perasaan itu, loe juga harus mencari dan menuliskan sebuah solusi agar loe bisa bangkit, sehingga kegagalan, kesedihan itu gak bakal terulang, sehingga ia menjadi pembelajaran bagi loe untuk lebih baik ke depan. Tuliskan hal yang positif dari kejadian tersebut, ingat setiap kejadian pasti ada hikmah, orang yang beruntung adalah orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian dan pengalaman, ingat pengalaman adalah guru terbaik.

Ya…ya… ampun bos, semangat banget sih…

Hehe… maklum, gue sedang semangat-semangatnya menulis nich, bahkan buruknya, terkadang gue bisa melupakan segalanya kalau gue lagi menulis.

Jangan lupa shalat tu bos, setting shalat time di komputer loe

Siip

Aku teringat pada kata-kata dosen filsafatku tentang The Law of Attraction
1. Everything draws to itself what which is like itself
2. Whatever you hold in your mind, your body move toward

You are what u think, be careful with your wish, if you think you can then you can, you can do anything if you have faith.

Ketika kita menulis dan berharap, maka saat itu kita memancarkan apapun perasaan dan apapun yang kita pikirkan. Kalau kita berpikir positif dan gembira menghadapi sesuatu hal yang buruk, maka hal buruk itu akan berubah menjadi positif dan menyenangkan. Jika kita selalu berpikir positif, seperti Pygamlion, maka kita selalu memprogram ulang untuk menciptakan mindset positif dalam kepala kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: