Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Archive for September, 2008

Bimbingan Idul Fitri

Posted by freddysetiawan on September 30, 2008

Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.

Definisi ‘Ied

Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fitrah, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Allah semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

  1. Mandi sebelum shalat Ied, Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia). Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk shalat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
  2. Makan di Hari Raya, Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rasulullah dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rasulullah mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
  3. Memperindah (berhias) diri pada Hari Raya, Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allah, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.
  4. Berbeda jalan antara pergi dan pulang darinya, Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rasulullah membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan shalat, jika telah selesai shalat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).

Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia).

Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu Hari

Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan sholat ‘Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat ‘Ied. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan sholat ‘ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.” (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia).

Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas

  1. Dasar disyari’atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Aku ikut melaksanakan sholat ‘Ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat ‘Ied sebelum khutbah.” (HR. Buhori dan Muslim)
  2. Hukum sholat ‘Ied: Fardhu ‘Ain, menurut pendapat terkuat.
  3. Waktu sholat ‘Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha), menurut kebanyakan ulama.
  4. Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Tholib).
  5. Tata cara sholat ‘Ied: Dua raka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di raka’at pertama (selain takbirotul ihrom) dan lima takbir di raka’at kedua (selain takbir intiqol -takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain).
  6. Adzan dan iqamah pada sholat ‘Ied: Tidak ada adzan dan iqamah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan shalat karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut.
  7. Khutbah pada shalat ‘Ied: Satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat.
  8. Qadha’ shalat ‘Ied jika terluput: Tidak perlu meng-qodho’, menurut pendapat yang terkuat.

Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri

  1. Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan) dan sabda Nabi yang lain, “Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik…” (HR. Al Bukhori secara mu’allaq dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shohih dan bersambung sesuai syarat shohih). Dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Lahwal Hadits’ (perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah Al Ghinaa‘ (nyanyian).
  2. Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama. Hal tersebut diharamkan di dalam syari’at ini, di mana Alloh berfirman, “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi: “….salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.” (HR. Muslim)
  3. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirohmati Alloh. Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam, “Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (lihat Silsilah Al Ahadits As Shohihah 226) (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
  4. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘Ied. Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Alloh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat ‘Iedul Fitri. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat ‘Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).” (HR. Muslim)
  5. Begadang saat malam ‘Iedul Fitri. Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam ‘Ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim). Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras. Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai ogah-ogahan menjalankan sholat ‘Ied.

muslim

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Pelajaran Berharga Bulan Ramadhan

Posted by freddysetiawan on September 29, 2008

Bulan Ramadhan adalah even yang penuh berkah di antara even-even akhirat. Umat islam selalu menanti-nantikan bulan ini setiap harinya. Maka beruntunglah orang-orang yang berjumpa dengan Allah dengan membawa amal saleh dan diterima amalannya. Alangkah meruginya orang-orang yang menemui bulan ini tanpa amal saleh, bersikap lalai, menyibukkan diri dengan keridaan setan dan memperturuti hawa nafsunya yang jelek wal ‘iyadzubillah

Sebagian pelajaran yang bisa dipetik oleh seorang muslim yang berpuasa dan banyak melakukan ketaatan pada hari-hari yang penuh berkah ini antara lain:

  1. Balasan kejelekan adalah kejelekan sesudahnya, dengan demikian sesungguhnya seorang muslim yang ingin mendapatkan kebaikan bagi dirinya, jika menyukai perjumpaan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, menyibukkan dengan ketaatan pada-Nya, bersyukur terhadap segala kenikmatannya yang nampak maupun tersembunyi maka dia akan mantap untuk beramal saleh, tergerak hatinya untuk menyukai negeri akhirat yang tidak bermanfaat di negeri akhirat harta benda, anak-anak kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang salim (bersih). Maka benarlah, jika seorang hamba jiwanya senang dengan ketaatan pada hari-hari yang penuh berkah, berharap pahala dari Allah, menjauhi maksiat karena takut azab Allah maka ia akan memperoleh faedah berupa pelajaran berharga yang mengharuskannya untuk berbuat ketaatan dan menjauhi larangannya. Sesungguhnya Allah itu terus disembah hingga datang kematian sebagaimana firman-Nya,
  2. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

    Sembahlah Rabb kalian hingga datang hari yang pasti (Kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 132)

    Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim yang telah merasakan nikmatnya bulan Ramadhan untuk menukar kelezatan tersebut dengan pahitnya maksiat pada Allah baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Bukanlah seorang muslim yang baik jika dia menukar kebaikannya di bulan Ramadhan dengan kemaksiatan di bulan lainnya. Allah ta’ala akan selalu dekat dengan orang-orang yang bertakwa sepanjang zaman. Dia selalu disembah oleh hamba-Nya baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Dia selalu hidup dan tidak pernah mati. Amal-amal manusia di siang hari selalu terangkat pada-Nya sebelum datang malam hari dan amal-amal yang dikerjakan pada malam hari akan terangkat pada-Nya sebelum datang siang hari. Allah tidak akan berbuat zalim sedikit pun. Dia berfirman:

    وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْراً عَظِيماً

    “Jika kamu berbuat baik maka akan dilipatgandakan pahalanya dan akan mendapatkan pahala yang besar di sisi-Nya.” (HR. An-Nisa: 40)

  3. Puasa adalah jalan yang mengantarkan seorang hamba kepada Rabbnya. Tidak ada yang mengetahui hakikat pahalanya yang begitu besar kecuali Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
  4. كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلا الصوم فإنه لي وأنا اجزي به يدع شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

    “Setiap amalan anak Adam dibalas dengan kebaikan sepuluh kali lipatnya kecuali puasa, maka puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya, dia menahan syahwatnya dan menahan makan dan minum karena aku.” (HR. Muslim)

    Mungkin saja ada orang yang mengaku berpuasa padahal ketika tidak dilihat orang maka dia makan dan minum. Orang seperti ini tidak merasa diawasi Allah. Dia hanya mendapatkan pujian dari manusia. Adapun orang yang takut pada Allah jika rusak puasnya dia takut sebagaimana takut apabila rusak shalat, zakat, haji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Allah telah mewajibkan puasa sebagaimana Allah telah mewajibkan shalat. Shalat adalah rukun islam yang paling agung setelah syahadat. Shalat diwajibkan ketika Nabi Mi’raj ke atas langit. Oleh karena itu jika rusaknya puasa adalah perkara yang sangat besar baginya maka rasa khawatir akan rusaknya shalat akan terasa lebih besar urusannya. Inilah salah satu faedah yang bisa diambil seorang muslim di bulan Ramadhan.

  5. Sesungguhnya di antara yang menjadi sebab kelapangan dan kegembiraan hati yang baik adalah menjadikan masjid sebagai tempat ibadah dan shalat di bulan Ramadhan. Ini adalah kelapangan dan kebahagiaan yang sangat agung bagi orang yang selalu mengerjakannya. Masjid-masjid Allah akan semakin diramaikan oleh orang-orang yang hendak mengerjakan shalat. Jika kebaikan ini terus berlanjut setelah Ramadhan usai, maka akan menjadikan seorang hamba sebagai bagian dari tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah yang tidak ada naungan pada saat itu kecuali naungan dari Allah. Hal ini dikarenakan dia telah menjadi seorang hamba yang hatinya selalu terpaut dengan masjid sebagaimana yang di kabarkan Rasulullah dalam hadits sahih.
  6. kewajiban menahan makan, minum dan segala yang membatalkannya hanya terjadi saat berpuasa di bualan Ramadhan. Adapun menahan diri dari yang haram terus berlaku sepanjang masa. Seorang muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan adalah yang berpuasa menahan diri dari perkara yang halal maupun yang haram. Shaum secara bahasa berati menahan diri dari sesuatu. Adapun secara syar’i, shaum adalah menahan diri dari makan dan minum dan dari segala yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Makna syar’i adalah bagian dari makna secara bahasa sebagaimana makna secara bahasa juga dikaitkan dengan makna secara syar’i maka keduanya saling melengkapi. Berdasarkan makna secara bahasa maka termasuk larangan selama puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang haram baik yang dilakukan oleh mata, lisan, telinga, tangan, kaki dan kemaluan.

muslim

Posted in Kajian Islam, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Fadhilat Shalat Tarawih

Posted by freddysetiawan on September 28, 2008

Tentu pembahasan ini tidak untuk menafikan adanya fadhilat atau kelebihan sholat tarawih dan kedudukannya di dalam sunnah. Tetapi, yang diharapkan adalah agar ummat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan yang benar-benar dijanjikan-Nya, bukan rekaan manusia semata. Apalagi dengan tersebarnya hadith-hadith palsu ini tentu akan mencemarkan kesucian hadith dari Rasulullah SAW yang sebenarnya.

—————————————————————————————————————————

Setiap bulan Ramadhan dan ketika saatnya tarawih banyak dikerjakan di mesjid mana saja, maka hadith tentang fadhilat setiap malam sholat tarawih pun akan sering didengar. Hadith ini konon diriwayatkan oleh Sayyidina Ali r.a. yang isinya adalah seperti berikut:

Dari Ali Bin Abi Thalib RA. Sebagian sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang Kelebihan dan Fadihilat Ibadah Shalat Tarawih Malam Ramadhan. Nabi Menjawab, Kelebihan Shalat Tarawih itu sebagai berikut:

Malam ke-1:
Diampuni dosa-dosa orang yang beriman sebagaimana baru dilahirkan.

Malam ke-2:
Diampunkan dosa orang-orang yang beriman yang mengerjakan sholat Tarawih, serta dosa-dosa kedua orang tuanya.

Malam ke-3:
Para malaikat di bawah ‘Arasy menyeru kepada manusia yang mengerjakan sholat tarawih itu agar meneruskan sholatnya pada malam-malam yang lain, semoga Allah mengampunkan dosa-dosa mereka.

Malam ke-4:
Memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

Malam ke-5:
Allah SWT akan mengkaruniakan pahala seumpama pahala orang-orang yang mengerjakan sembahyang di Masjidil Haram, Masjidil Madinah dan Masjidil Aqsa.

Malam ke-6:
Allah SWT akan mengkaruniakan kepadanya pahala seumpama pahala para malaikat yang bertawaf di Baitul Makmur serta setiap batu dan tanah berdoa untuk keampunan orang yang mengerjakan sholat tarawih pada malam ini.

Malam ke-7:
Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa a.s. serta menolong Nabi itu untuk menentang musuhnya Fir’aun dan Hamman.

Malam ke-8:
Allah SWT mengkaruniakan pahala sebagaimana pahala yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim a.s.

Malam ke-9:
Allah SWT akan mengkaruniakan pahala dan dinaikan mutu ibadah hamba-Nya seperti Nabi Muhammad saw.

Malam ke-10:
Allah SWT mengkaruniakan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Malam ke-11:
Ia meninggal dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti baru dilahirkan.

Malam ke-12:
Ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka yang bercahaya.

Malam ke-13:
Ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman sentosa dari tiap-tiap kejahatan dan keburukan.

Malam ke-14:
Para malaikat akan datang menyaksikan mereka bersholat Tarawih serta Allah SWT tidak akan menyesatkan mereka.

Malam ke-15:
Semua malaikat yang memikul ‘Arasy, Kursi akan bershalawat dan mendoakan supaya Allah SWT mengampuni kita.

Malam ke-16:
Allah SWT menuliskan baginya terlepas dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga.

Malam ke-17:
Allah SWT menuliskan baginya pahala pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.

Malam ke-18:
Malaikat akan menyeru “Wahai hamba Allah sesungguhnya Allah telah ridha kepada engkau dan ibu bapak engkau (baik yang masih hidup atau yang sudah wafat)”.

Malam ke-19:
Allah akan meninggikan derajatnya di dalam syurga Firdaus.

Malam ke-20:
Allah SWT mengkaruniakan kepadanya pahala semua orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh.

Malam ke-21:
Allah SWT akan membina untuknya sebuah mahligai di dalam syurga yang dibuat dari Nur.

Malam ke-22:
Ia akan datang pada hari kiamat di dalam keadaan aman daripada duka cita dan kerisauan (di Padang Mahsyar).

Malam ke-23:
Allah SWT akan membina untuknya sebuah bandar di dalam syurga yang terbuat dari Nur.

Malam ke-24:
Allah bukakan perluang 24 doa yang mustajab bagi orang yang bertarawih pada walam ini (lebih elok dikerjakan ketika sujud).

Malam ke-25:
Allah akan mengangkat siksa kubur darinya.

Malam ke-26:
Allah akan mengkaruniakan pahala 40 tahun ibadah.

Malam ke-27:
Allah akan mengkaruniakan kepadanya kemudahan untuk melintasi titian Shiratalmustaqim seperti kilat yang menyambar.

Malam ke-28:
Allah akan menaikkan kedudukannya 1000 derajat di akhirat.

Malam ke-29:
Allah akan mengkaruniakan pahala 1000 kali haji yang mabrur.

Malam ke-30:
Allah akan memberi penghormatan kepada orang yang bertarawih pada malam terakhir dengan firman-Nya: “Wahai hamba-Ku, makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini untuk dimakan di dalam syurga dan mandilah kamu di dalam sungai yang bernama Salsabila, serta minumlah air dari telaga yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad saw yang bernama Al-Kautsar.

Bagaimanakah sebenarnya kedudukan hadith di atas?

Hadith yang juga disebut “Fadha-il Malam-Malam Tarawih Imam Ali” ini tidak dishahihkan oleh imam-imam hadith atau ahli hadith. Hadith di atas juga tidak akan ditemukan pada Kutub as Sittah (kitab hadith yang enam), yaitu: Bukhari, Muslim, atTurmudzi, Abu Daud, anNasa’iy dan Sunan Ibn Majah.

Menurut seorang ustadz dari Malaysia, hadith fadhilat tarawih ini hanya ditemukan pada kitab Durratun Nasihin, hal. 19, cetakan Darul Fikri, Beirut. Tetapi sama sekali tidak tercantum pada Kutub as Sittah.

Menurut penjelasan dari As Syaikh Mustafa as Siba’iy dalam kitabnya as Sunnah, dan Imam Jalaluddin asSyuyuti dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Khawasy Min Akazibil Qasyasy, mungkin ada 3 alasan mengapa hadith ini begitu digembor-gemborkan di bulan Ramadhan, yaitu:

– Kemungkinan hadith ini dimunculkan oleh sebuah golongan untuk menonjolkan maqam ketinggian Imam Ali r.a. yang dinyatakan oleh imam- imam mereka banyak menerima hadith-hadith khusus yang tak pernah diriwayatkan oleh sahabat-sahabat lainnya.
– Atau pun tujuan hadith ini untuk memikat golongan awam dengan berbagai kisah dan riwayat sehingga masyarakat terpukau dan asyik mendengar ceritanya, sebagaimana cerita-cerita ini banyak ditemukan di zaman Imam Ahmad Ibn Hanbal.
– Serta hadith ini juga mungkin direka oleh sebagian golongan lain dengan maksud supaya masyarakat awam giat beribadah tanpa ilmu.

Maka menurut Mufti Negeri Terengganu, hadith ini merupakan sebuah hadith yang baru atau diada-adakan. Sehingga, bahkan ulama-ulama terdahulu yang menulis tentang kitab-kitab hadith palsu (maudhu`aat) tidak mengetahui adanya hadith ini.

Demikian pula pendapat yang sama dari ahli hadith seperti Ustadz Asri Hj Yusof (Dewan Pengajian Ibn Qayyim), almarhum Ustaz Abd Ghani Hj Idris (kitab Hadith-Hadith Dha’if dan Palsu) bahwa hadith di atas adalah hadith maudhu’ (palsu).

Tentu pembahasan ini tidak untuk menafikan adanya fadhilat atau kelebihan shalat tarawih dan kedudukannya di dalam sunnah. Tetapi, yang diharapkan adalah agar ummat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan yang benar-benar dijanjikan-Nya, bukan rekaan manusia semata. Apalagi dengan tersebarnya hadith-hadith palsu ini tentu akan mencemarkan kesucian hadith dari RasuluLlah SAW yang sebenarnya.

Karenanya RasuluLlah SAW bersabda,

Barang siapa yang sengaja mengadakan dusta atas namaku, maka hendaklah dia menyediakan tempatnya dalam neraka.” (H.R Bukhori-Muslim)

Kalau hadith di atas dikaitkan untuk fadhai’l a’mal, memang sebagian ulama membenarkannya, tetapi bukan secara mutlak, melainkan dengan beberapa syarat yang ketat.

Syeikh al Qardhawi dalam Kaifa Nata’amul Ma’a al Sunnah al Nabawiyyah menjelaskan, ada 3 pertimbangan yang perlu dipegang oleh setiap Muslim agar ia selamat dari penyelewengan dan takwilan yang jahil, yaitu:

Pertama:
Mempastikan kethabitan/kesahihan sebuah hadith berdasarkan timbangan ilmiah oleh para muhaddithin (ulama hadith).

Kedua:
Memastikan kefahaman yang betul terhadap maksud sebuah hadith.

Ketiga:
Memastikan sebuah hadith tidak bertentangan dengan nash yang lebih kuat darinya, yaitu dari al Qur’an dan hadith-hadith lain yang lebih kuat kedudukannya.

Karena itu, cukuplah kita mengerjakan sebuah amalan –khususnya di malam Ramadhan– dengan berdasarkan pada hadith yang shohih, sebagaimana janji dari Allah Ta’ala bahwa,

Barangsiapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran dari Allah Ta’ala, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R Al-Bukhari)

Sumber: Kumpulan kisah islami

—————————————————————————

Sebuah tulisan dari Abu Aufa

Maraji:
1. Fatwa Mufti Terengganu: http://mufti.islam.gov.my/terengganu/?subid=10&parent=06
2. Penjelasan dari Ustadz Gayat, Al-Ahkam, Malaysia.

Posted in Kajian Islam, Sebuah Perjalanan, Sekilas Info | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Selamat Bermudik

Posted by freddysetiawan on September 27, 2008

Prosesi mudik juga sarat akan pengakuan “ada” dan “tidak ada”-nya tekad seorang pemudik setelah sekian lama merantau di daerah orang untuk kembali kepada tanah kelahiran

———————————————

Idul fitri sudah di depan mata, masa-masa mudik pun telah tiba. Selamat mudik bagi yang menjalankannya, semoga para pemudik diberi kelancaran dan keselamatan dalam mudiknya dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa setelah aktivitas mudiknya berakhir.

Mudik pun kini menjadi berita utama di berbagai media. Di surat kabar, televisi ada info mudik, tips bermudik dan berbagai iklan dan layanan tentang mudik. Kelompok-kelompok atau klub kendaraan bermotorpun tidak ketinggalan menyelenggarakan mudik bersama anggota-anggotanya. Perusahaan-perusahaan swasta pun ada yang mengakomodir karyawannya atau kelompok tertentu untuk dapat mudik gratis.

Sedikit melirik definisi ke wikipedia, disana dijelaskan, mudik adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Ya… Mudik bener-bener suatu acara di waktu lebaran yang fenomenal.

Sejak hari kamis kemarin, temen-temen di kampus mulai banyak yang mudik. Sedangkan aku baru besok melakukan perjalanan mudik menuju ibukota provinsi yang paling barat dari negara Indonesia ini. Hmm, senangnya bertemu kembali dengan keluarga setelah mengalami perpisahan selama beberapa waktu. Hehe

Mudik merupakan salah satu pengalaman religi bangsa Indonesia yang mengandung muatan sosial. Bagi orang yang mengadu nasib di perantauan, baik sekolah, kuliah, mengadu nasib ataupun aktivitas pencarian modal ekonomi, ini merupakan kesempatan untuk dapat merayakan hari lebaran sebaik-baiknya bersama keluarga di kampung halaman. Saking besar daya gugah hari raya umat Islam ini, mereka (pemudik) rela berdesakan dan mengeluarkan ongkos kendati naik puluhan persen agar sampai ke kampung halaman.

Dalam prosesi mudik juga sarat akan pengakuan “ada” dan “tidak ada”-nya tekad seorang pemudik setelah sekian lama merantau di daerah orang untuk kembali kepada tanah kelahiran. Jangan sampai kita lupa pada negeri yang telah menghidupi dan membesarkan kita. Dalam tradisi mudik tercermin sebuah usaha seseorang yang mencoba peruntungan di negeri lain untuk menampakkan eksistensi kemanusiaannya ketika kembali ke tanah kelahiran. Jadi, prosesi mudik sebagai sebuah tradisi memiliki akar genealogis yang bersifat kolektif sehingga ikatan persaudaran (brotherhood) antara warga dengan pemudik terjalin kuat.

Tak kalah unik, bahkan sahabatku yang bukan muslim pun, ikut-ikutan mudik pada idul fitri ini. Tentunya ia bukan untuk merayakan idul fitri, tapi memanfaatkan waktu liburan yang sempit di antara kepadatan aktifitas untuk dapat berkumpul bersama keluarga.

Di dalam al-Quran memang tidak tercantum secara tekstual perintah melaksanakan mudik untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Akan tetapi, selain bermakna sebagai simbol silaturahmi, secara praktis kegiatan pulang kampung ini telah menjadi kebudayaan yang berdampak pada segala sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Kendati hanya dirasakan beberapa hari saja. Jadi, tidak terkategori bid’ah saya pikir kalau masyarakat Islam di negeri ini bermudik ria ke kampung halaman karena Islam kita adalah Islam Indonesia. Bukan Islam Arabisme!

Selamat bermudik semuanya!

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Petunjuk Nabi dalam Zakat Fitrah dan Berhari Raya

Posted by freddysetiawan on September 26, 2008

Saudara-saudara, dalam bulan Ramadhan diberikan media dan sarana oleh Allah untuk bertakwa. Kemudahan-kemudahan yang ada disana membuat kaum muslimin menanti dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar dapat mencapai apa yang dicita-citakannya dari pengampunan dan keridhaan Allah. Oleh karena sudah menjadi satu kewajiban bagi kita semua untuk mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan tentang amalan yang dapat dilakukan di bulan tersebut. Tentunya semua itu dengan dasar ikhlas dan mengikuti contoh Rasulullah, karena tanpa keduanya amalan kita hanya sekedar isapan jempol saja tidak ada artinya.

Diantara amalan tersebut adalah Zakat Fitrah dan Hari Raya Idul Fitri sebagai amalan di penghujung jumpa kita dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Mudah-mudahan penjabaran dua masalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

ZAKAT FITHRAH

Zakat fithrah merupakan zakat yang disyari’atkan dalam islam berupa satu sha’ dari makanan yang dikeluarkan seorang muslim di akhir Ramadhan, dalam rangka menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah dalam berbuka dari Ramadhan dan penyempurnaannya, oleh karena itu dinamakan sedekah fithrah atau zakat fithrah. (lihat Fatawa Romadhon, 2/901)

Hukumnya

Zakat fiithrah merupakan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang dibebani kepada kaum muslimin dan diwajbkan untuk dikeluarkan oleh seorang muslim baik laki-laki atau perempuan, besar, kecil, budak atau merdeka.

Dalilnya adalah:

a. Hadits Ibnu Umar:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, perempuan, laki-laki dan anak kecil dan besar, dan memerintahkan untuk menunaikannya sebelum keluarnya manusia menuju sholat.”

b. Hadits Abi Said Al Khudry:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Kami dahulu pada zaman Nabi memberikanya (zakat fithrah) satu sha’ dari makanan atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ korma atau satu sha’ dari tepung atau kismis (anggur kering).”

c. Perkataan Said bin Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz dalam menafsirkan firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya.” (QS. Al A’la:14) dengan zakat fithrah.

e. Ijma’ yang dinukil Ibnbu Qudamah dari Ibnul Munzir, beliau berkata: “Telah bersepakat setiap ahli ilmu bahwa zakat fithrah adalah wajib.” (lihat Al Mughny 3/80)

Hikmahnya

Zakat fithrah memiliki hikmah yang banyak, diantaranya:

  1. Dia merupakan zakat untuk tubuh yang telah diberikan kehidupan tahun tersebut.
  2. Terdapat padanya kemudahan-kemudahan terhadap kaum muslimin baik yang kaya maupun yang miskin.
  3. Dia merupakan ungkapan syukur atas nikmat Allah yang dilimpahkan kepada orang yang berpuasa.
  4. Dengannya sempurna kebahagiaan kaum muslimin pada hari ied dan dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bulan Ramadhan.
  5. Dia menjadi makanan bagi para fakir miskin, dan pembersih bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya pada bulan Ramadhan. (lihat Fatawa Romadhon 2/909-911) dengan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ.“Rasulullah telah mewajibkan zakat fithroh sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta memberi makan orang yang miskin.” (HR Abu Daud,Ibnu Majah, Ad Daruquthny, Al Hakim dan Al Baihaqy, dan dishasankan oleh Imam An Nawawy dalam Al Majmu’ (6/126), Ibnu Qudamah dalam Al Mughny (3/50) dan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam Irwa’ Al Gholil (3/333))

Jenis yang Boleh Dikeluarkan untuk Zakat Fithrah dan yang Berhak Menerima

Jenis yang dibolehkan dalam pengeluaran zakat fithrah adalah semua makanan pokok penduduk negeri tersebut dengan kesepakatan para ulama pada jenis-jenis yang ada dalam Nash hadits.

Berkata Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya asal dalam shadaqah, bahwasanya diwajibkan atas dasar persamaan terhadap para orang faqir, sebagaimana firman Allah:

مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ أَهْلِيْكُمْ

“Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (Q.S 5: 89)

Dan Nabi telah mewajibkan zakat fithrah satu sha’ dari kurma atau gandum, karena itulah makanan pokok penduduk Madinah, dan seandainya itu bukan makanan pokoknya, bahkan makan makanan pokok yang lainnya, maka beliau tidak membebani mereka untuk mengeluarkan dari makanan yang bukan merupakan makanan pokok mereka, sebagaimana tidak memerintahkan dengan hal itu dalan kafarot. Dan shodaqoh fithroh termasuk dari jenis kafarot, karena hal ini (zakat fithroh) berhubungan dengan badan dan ini (kafarot) juga berhubungan dengan badan, berbeda dengan shodaqoh harta (mal), karena dia diwajibkan dengan sebab harta dari jenis yang Allah telah berikan.”

Ukuran Zakat Fithrah

Sebagaimana ada dalam hadits-hadits terdahulu bahwa ukuran yang dikeluarkan adalah 1 sha’ yang setara kurang lebih 3 kg beras, menurut hitungan Syeikh Ibnu Baz dan dipakai dalam Lajnah Daimah (lihat Fatawa Ramadhan 2:915 dan 2 :926) (Lihat juga fatwa lajnah daimah no. 12572). Sedangkan menurut sebagian ulama setara dengan 2.275 Kg dan di Indonesia berlaku 2,5 kg.

Waktu Mengeluarkannya

Waktu mengeluarkannya yang utama adalah sebelum manusia keluar menuju shalat Ied dan boleh dipercepat satu atau dua hari sebelumnya sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar, dan tidak boleh setelah shalat Ied, dengan dalil hadits Ibnu Abbas (marfu’):

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ.

“Maka barang siapa yang menunaikannya sebelum keluar manusia menuju sholat maka zakat terserbut diterima, dan barang siapa yang menunaikan setelah sholat maka dia adalah shodaqoh dari shodaqoh-shodaqoh.” (HR. Abi Daud)

IED (HARI RAYA)

Hal-Hal yang Berhubungan Dengan Ied (Hari Raya)

Setelah selesai bulan Ramadhan dan selesailah puasa kaum muslimin, maka Allah tetapkan untuk kita semua satu hari raya. Hari raya kebahagian kaum muslimin setelah mengerahkan segala kekuatan dalam menunaikan ibadah puasa dan mengisi Ramadhan dengan amalan ibadah yang sangat banyak. Agar kita semua dapat mensyukuri nikmat Allah. Sehingga Allah firmankan:

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 2:185)

Demikianlah pada hari itu kita mengagungkan Allah dengan takbir dan tahmid. Akan tetapi banyak kaum muslimin yang belum mengerti hakikat pengagungan Allah tersebut. Sehingga mereka meramaikannya dengan menyulut mercon dan petasan.

Takbir Ied, Waktu dan Lafadznya

Dengan firman Allah diatas, disyariatkan kita bertakbir yang dikeraskan.

Takbir Ied Fitri diawali ketika keluar ke Mushola (lapangan tempat sholat ied) sampai selesai sholat, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضِيَ الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Beliau keluar pada hari raya fitri lalu bertakbir sampai ke Mushola dan sampai menunaikan sholat. Setelah beliau sholat beliau menghentiikan takbirnya.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shohihah no. 170)

Belum didapatkan lafadz takbir dalam sunnah Rasululloh, akan tetapi terdapat lafadz takbir yang digunakan para sahabat dalam ied, yaitu:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لا َإِلَهَ إِلاَّ الله وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُ الله أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

muslim

Posted in Kajian Islam | Tagged: , | Leave a Comment »

Sebuah Iklan Di Bulan Puasa

Posted by freddysetiawan on September 25, 2008

Jalan-jalan beberapa waktu lalu , aku menemukan sesuatu yang unik. Sebuah iklan rokok dari A Mild .

Udah pada tahu belum? Di daerah pertigaan dekat Hotel Mulia dan Plaza Senayan, gak tau kalau di tempat laen ada juga iklan gini.

Perhatikan billboard iklan yang ada disitu baik-baik !

Ternyata kalau siang piringnya kosong, sedangkan kalau malam ada isinya. Mantap..Mantap..
Kayaknya biar gak ngenganggu orang puasa dan tentunya dibuat dalam rangka orang berpuasa.

Itu ada 2 layer poster.
Gambar di lapisan belakangnya muncul kalau kena sinar neon dari belakang (pas malam hari).
Tapi kalau neonnya mati cuma lapisan depannya aja yang keliatan (siang hari).

Berikut gambar yang diberikan salah seorang sahabat.

Siang Hari

Malam Hari

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan, Sekilas Info, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , | Leave a Comment »

Mencoba Peruntungan

Posted by freddysetiawan on September 24, 2008

Hidup bukanlah hanya hari ini dan esok, tapi ia adalah sebuah perjalanan menuju waktu yang tidak dapat kita ketahui.

———————————————–

Saat ini, aku dan sahabatku sedang mencoba peruntungan membangun sebuah hal-hal baru dan menantang dalam hidup ini, aku mulai sedikit jengah dengan kegiatan yang terlalu monoton.

Sedikit berbicara tentang membangun sesuatu, ada cerita menarik yang diberikan oleh dosenku, sebuah kisah yang biasanya dijadikan ilustrasi oleh para pelaku bisnis network marketing.

Di sebuah desa hidup dua orang yang bernama Bruno dan Titus. Bruno dan Titus mempunyai profesi yang sama, yaitu pemasok air bagi penduduk di kampungnya, tapi ada perbedaan cara dalam rangka mendistribusikan air tersebut ke penduduk.

Bruno adalah seorang dengan tubuh yang cukup kuat, dia mengambil air dari kaki gunung dengan 4 ember yang dipikul, dia bolak-balik dari kaki bukit yang jauhnya 1km, begitu seterusnya. Dalam sehari dia bisa 10 kali bolak-balik. Satu enber air dihargai Rp 5.000,-, jadi dalam sehari bruno bisa menghasilkan uang Rp 200.000,- (4×5.000×10) dan dalam 1 bulan bruno menerima Rp 6 juta. Bruno sangat senang dengan uang hasil jerih payahnya tersebut. Tetapi Bruno ingin menaikkan penghasilannya, bruno akhirnya menambah 1 lagi ember sehingga jadi 5 ember dan frekuensi pengambilan air ditambah menjadi 12 kali dalam sehari, penghasilan bruno di bulan kedua dalam menjalani profesinya adalah 5×5.000x12x30= Rp 9 juta. Bulan berganti bulan dan tahun pun berganti, kondisi fisik Bruno pun mengalami penurunan dan jatuh sakit, uang tabungan hasil jerih payahnya ludes karena Bruno tidak bisa bekerja dan akhirnya mengandalkan sumbangan tetangganya untuk berobat dan biaya hidup sehari-hari.

Lain halnya dengan Titus, di bulan pertama sampai kedua Titus membangun saluran pipa yang menyalurkan air dari kaki bukit ke rumah warga. Di bulan pertama dan kedua Titus tidak mendapat penghasilan apapun, tetapi di bulan ketiga Titus memanen hasilnya ketika saluran air penghubung sudah jadi. Titus menghemat tenaga lebih banyak dan waktu juga serta penghasilan yang diterima pun jadi berlipat. Suatu ketika Titus pun jatuh sakit, tetapi dia masih bisa berobat dan mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari pendapatan saluran air yang dibuatnya.

Sebuah analogi yang luar biasa tentang membangun aset.

Hidup bukanlah hanya hari ini dan esok, tapi ia adalah sebuah perjalanan menuju waktu yang tidak dapat kita ketahui.

Sumber: Kumpulan kisah motivasi

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Selalu Untuk Selamanya

Posted by freddysetiawan on September 23, 2008

Hidup adalah sebuah pilihan..
Banyak orang yang berkata “Aku akan mulai dari awal lagi. Aku ingin mencoba kehidupan yang baru“. Itu tidak sepenuhnya benar. Tetap saja jalan hidup yang “baru” itu adalah jalan yang berbeda. Jalan yang lama akan selalu menjadi bagian dari pengalaman hidup kita. Kita tidak bisa memungkirinya. Begitu pula cinta…

———————————————-

Fatur (Java Jive) – Selalu Untuk Selamanya

Bersandar di pelukmu
Menatap di matamu
Apakah kau ragu padaku
Kini aku ragu padamu

reff#

Adakah cinta yang tulus kepadaku
Adakah cinta yang tak pernah berakhir
Adakah cinta yang tulus kepadaku
Adakah cinta yang tak pernah berakhir
Selalu untuk selamanya

Termenung dikeningmu
Basah dimatamu
Apakah itulah caramu
Untuk membuktikan cintamu

Sesungguhnya sirimu dihatiku
Dan diriku dihatimu
Walau ada ragu yang membara
Ragu yang harus kau jawab
oo..uu..aaha..

Back to reff

——

Tiba-tiba aku jadi suka lagi pada lagu lama ini, tersimpan dengan baik dalam database komputerku, lagu ini seolah hanya menjadi pajangan untuk melengkapi koleksi lagu-laguku. Sambil mengerjakan tugas yang sangat banyak tanpa mengenal situasi yang sudah menjelang lebaran, aku memutar semua lagu secara random, tanpa sengaja disaat itulah lagu ini terpilih. Selalu untuk selamanya.

Ada satu kata yang cukup menarik “Adakah cinta yang tulus kepadaku? Adakah cinta yang tak pernah berakhir?“. Ada yang menjawab dengan pede-nya, “ya ada lah“, ada pula yang menjawab “hmm… kayaknya gak ada deh“, dan ada juga yang menjawab dengan pesimis “sekarang sich masih, tapi ntar pasti berakhir juga, bosen“.

Hidup adalah sebuah pilihan..
Banyak orang yang berkata “Aku akan mulai dari awal lagi. Aku ingin mencoba kehidupan yang baru“. Itu tidak sepenuhnya benar. Tetap saja jalan hidup yang “baru” itu adalah jalan yang berbeda. Jalan yang lama akan selalu menjadi bagian dari pengalaman hidup kita. Kita tidak bisa memungkirinya. Begitu pula cinta…

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Belajar Untuk Memaafkan

Posted by freddysetiawan on September 22, 2008

Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta.

———————————————————

Manusia dengan keanekaragaman budayanya, kebanyakan budaya tersebut senantiasa diiringi dengan acara saling memaafkan, sebut saja maaf memaafkan sebelum mulai menjalani puasa dan pada saat Lebaran nanti.

Meski demikian, apa benar hanya pada masa-masa ini saja kita bisa memaafkan? Bukankah sesungguhnya dalam hidup sehari-hari kita juga sering terlibat dengan tingkah laku yang satu ini?

Ada seorang istri bertanya, ”Mungkinkah saya memaafkan suami saya yang sudah berselingkuh? Sama sekali saya tidak menyangka dia tega melakukan hal itu kepada saya.

Seorang yang lain mengatakan, ”Bagaimana cara saya memaafkan kesalahan ayah saya yang sering memukuli saya dengan ikat pinggangnya waktu saya masih kecil.

Pertanyaan lain, ”Pacar saya sering sekali terlambat datang, tidak sesuai dengan janji. Sekali dua kali, ya, saya bisa memaafkan, tetapi kalau terus-terusan?

Arti maaf

Dari jawaban umum, kita bisa mengartikan memaafkan sebagai mengampuni kesalahan, tidak mendendam, memberi remisi, atau pembebasan .

Secara psikologis, memaafkan merupakan proses menurunnya motivasi membalas dendam dan menghindari interaksi dengan orang yang telah menyakiti sehingga cenderung mencegah seseorang berespons destruktif dan mendorongnya bertingkah laku konstruktif dalam hubungan sosialnya (Cullough, Worthington, Rachal, 1997).

Dari contoh pertanyaan-pertanyaan tadi terlihat banyak kejadian menyakitkan hati akibat dicaci, dibohongi, ditipu, atau dikhianati orang lain, yang membuat kita sering sulit memberi maaf. Mengapa?

Fiksi

Menurut Janis Spring (1996), ada lima anggapan keliru tentang memaafkan yang mungkin membuat kita berhenti belajar melakukannya.

1. Pemaafan terjadi secara total dan sekaligus.

2. Ketika Anda memaafkan, perasaan negatif terhadap orang lain berganti menjadi perasaan positif.

3. Ketika memaafkan seseorang, Anda mengakui perasaan negatif Anda padanya adalah salah atau tak dapat dibenarkan.

4. Bila Anda memaafkan, Anda tidak akan mendapat imbalan apa pun.

5. Bila Anda memaafkan seseorang, Anda melupakan luka hati Anda.

Dengan memercayai fiksi-fiksi tersebut, maka sepertinya tingkah laku memaafkan jauh untuk bisa kita jangkau dan membuat kita jadi berpikir hanya orang suci atau nabilah yang dapat melakukannya karena harus dilakukan tanpa syarat, secara total, dan dengan cara mengorbankan diri pribadi.

Fakta

Menurut Spring, ahli psikologi klinis dari Yale University, AS, memaafkan bukanlah tindakan yang bersih murni dan tidak mementingkan diri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika kita berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu kita punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain.

Untuk memperbaiki dugaan keliru tadi, kita perlu melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada kita sebagai manusia biasa agar dapat lebih mudah belajar memaafkan kesalahan.

Fakta 1. Proses memaafkan selalu berlangsung perlahan dan berlanjut sepanjang hubungan kita dengan orang tersebut. Mungkin saat ini kita hanya dapat memaafkan kesalahan seseorang sebanyak 10 persen, dan begitu kita membina hubungan kembali kita mungkin dapat menambah dengan 70 persen, tetapi tak pernah lebih banyak lagi.

Hal di atas sah-sah saja. Kita tak perlu menjadi orang baik bila kita memaafkan secara total, kita juga tak perlu menjadi jahat bila tak bisa melakukannya. Kita hanya dapat memberi apa yang mampu kita berikan dan apa yang orang lain peroleh.

Fakta 2. Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan karena melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan/dendam”, suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu.

Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta.

Bila kita memaafkan, kebencian kita tetap ada, tetapi diimbangi dengan kenyataan orang yang menyakiti tidaklah begitu buruk ataupun kita yang telah sangat naif.

Fakta 3. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti kita mengingkari kesalahan pelaku atau ketidakadilan yang telah terjadi, tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi (retribusi).

Fakta 4. Beberapa orang tak mau memaafkan karena berpikir, ”Mengapa saya harus membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki kesalahannya?

Padahal, dengan memaafkan tidak berarti kita lemah atau harus membuat orang lain jadi tidak bertanggung jawab. Bila tujuan kita berekonsiliasi, memaafkan memerlukan penebusan dari pelaku. Pemaafan yang sesungguhnya tak bisa diberikan sampai pelaku membayarnya melalui pengakuan, penyesalan, dan penebusan.

Fakta 5. Yang benar, bagaimanapun orang yang disakiti tak pernah akan lupa seperti apa kita telah diperdaya atau dikhianati, apakah kita memaafkan atau tidak.

Setelah bertahun-tahun berlalu, kita akan tetap bisa mengingatnya, tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran/potret yang juga melibatkan masa-masa kebersamaan lain yang lebih positif dengan pelaku.

kompas

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Sebuah Coretan Sahabat

Posted by freddysetiawan on September 21, 2008

Iseng-iseng, gak ada kerjaan, aku mencoba menelusuri beberapa buah tulisan milik beberapa orang sahabat. Kali ini aku mengumpulkan beberapa tulisan yang cukup unik.

————————————–

Terdiamku di sudut ke hampaan
Kau berada tepat di depan
Tapi dekat jarak ini menjadi dinding penghalang
Karena tak pernah bisa ku ungkap rasa yang hilang.

Wahai kau wanita yang meluluhkan hatiku
Kau cairkan hati begitu cepat
Mengapa hanya hati yang bicara
Kau buat hilang logika yang kupunya.

Kau membuatku tak karuan
Dalam kehidupan yang telah kususun dengan indah
Kau datang dengan impian
Dan kau bermain didalam perasaan.

Tapi tak sedetikpun kau hiraukan
Hati ini yang terus mengharapkan
Impian, rasa ini terlalu indah
Kenyataan terlalu pahit kenyataan.

Kau yang terus kupuja
Tak adakah sedikit rasa
Untuk diriku yang sedang merana
Menanti kasih yang tak kunjung tiba.

————————————–

Cahaya malam mencari dalam kegelapan
Tapi aku tersesat tanpa sentuhan
Pagi telah datang
Namun matahari masih pula tertutup awan
Dan Aku pun melayang tanpa pijakan.

Inilah mimpi
Tetapi lilin meleleh perlahan-lahan
Menghapus semua kenangan
Menyisakan satu bayangan

Kau
Bayangan itu
Menjauhlah dariku
Tinggalkanlah diriku

————————————–

Akhirnya kau pergi
Meskipun menyakitkan, tapi aku terima
Selama kau kan bahagia
Aku pun bahagia untukmu
Aku akan mencoba tuk melupakanmu
Melupakan semua kenangan indah bersamamu
Meskipun kusadar, itu suatu hal yg mustahil
Kini ku akan pergi jauh
Pergi dari semua angan dan kenangan yg membutakan
Selamat tinggal cinta sejatiku
Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku
Terima kasih pernah menyayangiku
Terima kasih telah membuat hari-hariku bahagia
Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu
Kenanglah aku, walau hanya sebagai sampah dihatimu

————————————–

Hehe… Membaca tulisan-tulisan ini membuat aku tersenyum sendiri. Lebay. Itulah satu kata yang langsung tersirat dalam benakku usai membaca tulisan-tulisan tersebut. Hal ini juga jadi mengingatkan ucapan beberapa sahabatku beberapa waktu terakhir ini.

Ini bukan tulisanku lho, cuma tulisan beberapa seorang sahabat.

Posted in Hanya Sebatas Coretan | Tagged: | 1 Comment »