Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Berjalanlah Dengan Keong

Posted by freddysetiawan on September 10, 2008

Saat kita berjalan, ada banyak hal yang terjadi di kanan dan di kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan bagi kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.

————————————————-

Dalam sebuah kisah fiksi, pada suatu ketika, Tuhan memberiku sebuah tugas sederhana, yaitu membawa keong jalan-jalan.

Mendapat tugas dari Tuhan, tanpa berani menolak dan membantah, aku pun melaksanakan perintah itu, aku membawa sang keong berjalan-jalan di sekitar taman. Tapi, sepanjang jalan aku tidak dapat berjalan terlalu cepat, mau tidak mau aku harus mengikuti gerakan keong, keong pun tampak berusaha keras merangkak dan terus merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.

Lama-kelamaan, aku pun menjadi kesal, aku mulai mendesak, menghardik dan memarahinya agar ia bergerak sedikit lebih cepat. Keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, serasa berkata : “Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!“.

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, sang keong pun menjadi terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.

Aku jadi berpikir, sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.

Ya Tuhan! Mengapa ?“Aku mencoba bertanya dan bertanya, namun tak ada seorang pun yang menjawab.

Aku mencoba menenangkan perasaan dan hatiku yang gundah ini, aku membiarkan saja keong merangkak di depan sambil sendirian berusaha menahan rasa kesal di belakang. Mempelankan langkah, menenangkan hati.

Tiba-tiba tercium aroma bunga, harum semerbak menggoda, ternyata, aku baru sadar, ini adalah sebuah taman bunga.

Aku rasakan hembusan angin sepoi-sepoi, ternyata angin senja demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku lihat langit begitu indah dengan pemandangan matahari yang hendak tenggelam. Oh? Mengapa dulu tidak aku rasakan semua ini ?

Barulah aku tersadar, mungkin aku telah salah menduga! Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman, bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk melihat dan merasakan keindahan ciptaan Tuhan ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya.

Dalam hidup, kita akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik demi detik, menit, jam, hari, pekan, minggu, bulan, tahun dan tanpa kita sadari kita telah terseret ke akhir hidup kita yang singkat ini.

Dalam hidup ini pula, kita memiliki berbagai ambisi, cita-cita dan impian yang tiada habisnya untuk kita kejar. Seringkali, kita nikmati hasil usaha kita ini sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita terus berjalan dengan cepat demi meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa akan sekeliling kita.

Saat kita berjalan, ada banyak hal yang terjadi di kanan dan di kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan bagi kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.

Allah tidak akan pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang di sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaranNya. Maka dengarkanlah firmanNya ini:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling daripadaNya, sedang kamu mendengar, dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata “Kami mendengarkan”, tapi sebenarnya mereka tidak (mau) mendengar.

Sesungguhnya seburuk-buruknya mahluk di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apapun. Mereka diberi kemampuan dan kesempatan, tapi mereka tidak pernah mau tahu dan belajar.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
(Q.S. Al-Anfal 20-24)

Sudah selaraskah hidup kita dengan hidup orang-orang di sekeliling kita? Mungkin, kita telah menjadi orang yang terbaik bagi diri kita sendiri. Namun, sudahkah kita menjadi orang yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita?

Sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Maka, janganlah kita menambah jumlah mereka.

Strongman stand for his life, but the stronger stand for others.

Orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri, yaitu orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada orang yang lebih kuat dari orang kuat, yaitu orang-orang yang mampu menanggung beban hidup orang lain.

Berjalanlah lebih lambat…! Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah swt.

Sumber: Kumpulan kisah islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: