Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Fadhilat Shalat Tarawih

Posted by freddysetiawan on September 28, 2008

Tentu pembahasan ini tidak untuk menafikan adanya fadhilat atau kelebihan sholat tarawih dan kedudukannya di dalam sunnah. Tetapi, yang diharapkan adalah agar ummat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan yang benar-benar dijanjikan-Nya, bukan rekaan manusia semata. Apalagi dengan tersebarnya hadith-hadith palsu ini tentu akan mencemarkan kesucian hadith dari Rasulullah SAW yang sebenarnya.

—————————————————————————————————————————

Setiap bulan Ramadhan dan ketika saatnya tarawih banyak dikerjakan di mesjid mana saja, maka hadith tentang fadhilat setiap malam sholat tarawih pun akan sering didengar. Hadith ini konon diriwayatkan oleh Sayyidina Ali r.a. yang isinya adalah seperti berikut:

Dari Ali Bin Abi Thalib RA. Sebagian sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang Kelebihan dan Fadihilat Ibadah Shalat Tarawih Malam Ramadhan. Nabi Menjawab, Kelebihan Shalat Tarawih itu sebagai berikut:

Malam ke-1:
Diampuni dosa-dosa orang yang beriman sebagaimana baru dilahirkan.

Malam ke-2:
Diampunkan dosa orang-orang yang beriman yang mengerjakan sholat Tarawih, serta dosa-dosa kedua orang tuanya.

Malam ke-3:
Para malaikat di bawah ‘Arasy menyeru kepada manusia yang mengerjakan sholat tarawih itu agar meneruskan sholatnya pada malam-malam yang lain, semoga Allah mengampunkan dosa-dosa mereka.

Malam ke-4:
Memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

Malam ke-5:
Allah SWT akan mengkaruniakan pahala seumpama pahala orang-orang yang mengerjakan sembahyang di Masjidil Haram, Masjidil Madinah dan Masjidil Aqsa.

Malam ke-6:
Allah SWT akan mengkaruniakan kepadanya pahala seumpama pahala para malaikat yang bertawaf di Baitul Makmur serta setiap batu dan tanah berdoa untuk keampunan orang yang mengerjakan sholat tarawih pada malam ini.

Malam ke-7:
Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa a.s. serta menolong Nabi itu untuk menentang musuhnya Fir’aun dan Hamman.

Malam ke-8:
Allah SWT mengkaruniakan pahala sebagaimana pahala yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim a.s.

Malam ke-9:
Allah SWT akan mengkaruniakan pahala dan dinaikan mutu ibadah hamba-Nya seperti Nabi Muhammad saw.

Malam ke-10:
Allah SWT mengkaruniakan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Malam ke-11:
Ia meninggal dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti baru dilahirkan.

Malam ke-12:
Ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka yang bercahaya.

Malam ke-13:
Ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman sentosa dari tiap-tiap kejahatan dan keburukan.

Malam ke-14:
Para malaikat akan datang menyaksikan mereka bersholat Tarawih serta Allah SWT tidak akan menyesatkan mereka.

Malam ke-15:
Semua malaikat yang memikul ‘Arasy, Kursi akan bershalawat dan mendoakan supaya Allah SWT mengampuni kita.

Malam ke-16:
Allah SWT menuliskan baginya terlepas dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga.

Malam ke-17:
Allah SWT menuliskan baginya pahala pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.

Malam ke-18:
Malaikat akan menyeru “Wahai hamba Allah sesungguhnya Allah telah ridha kepada engkau dan ibu bapak engkau (baik yang masih hidup atau yang sudah wafat)”.

Malam ke-19:
Allah akan meninggikan derajatnya di dalam syurga Firdaus.

Malam ke-20:
Allah SWT mengkaruniakan kepadanya pahala semua orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh.

Malam ke-21:
Allah SWT akan membina untuknya sebuah mahligai di dalam syurga yang dibuat dari Nur.

Malam ke-22:
Ia akan datang pada hari kiamat di dalam keadaan aman daripada duka cita dan kerisauan (di Padang Mahsyar).

Malam ke-23:
Allah SWT akan membina untuknya sebuah bandar di dalam syurga yang terbuat dari Nur.

Malam ke-24:
Allah bukakan perluang 24 doa yang mustajab bagi orang yang bertarawih pada walam ini (lebih elok dikerjakan ketika sujud).

Malam ke-25:
Allah akan mengangkat siksa kubur darinya.

Malam ke-26:
Allah akan mengkaruniakan pahala 40 tahun ibadah.

Malam ke-27:
Allah akan mengkaruniakan kepadanya kemudahan untuk melintasi titian Shiratalmustaqim seperti kilat yang menyambar.

Malam ke-28:
Allah akan menaikkan kedudukannya 1000 derajat di akhirat.

Malam ke-29:
Allah akan mengkaruniakan pahala 1000 kali haji yang mabrur.

Malam ke-30:
Allah akan memberi penghormatan kepada orang yang bertarawih pada malam terakhir dengan firman-Nya: “Wahai hamba-Ku, makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini untuk dimakan di dalam syurga dan mandilah kamu di dalam sungai yang bernama Salsabila, serta minumlah air dari telaga yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad saw yang bernama Al-Kautsar.

Bagaimanakah sebenarnya kedudukan hadith di atas?

Hadith yang juga disebut “Fadha-il Malam-Malam Tarawih Imam Ali” ini tidak dishahihkan oleh imam-imam hadith atau ahli hadith. Hadith di atas juga tidak akan ditemukan pada Kutub as Sittah (kitab hadith yang enam), yaitu: Bukhari, Muslim, atTurmudzi, Abu Daud, anNasa’iy dan Sunan Ibn Majah.

Menurut seorang ustadz dari Malaysia, hadith fadhilat tarawih ini hanya ditemukan pada kitab Durratun Nasihin, hal. 19, cetakan Darul Fikri, Beirut. Tetapi sama sekali tidak tercantum pada Kutub as Sittah.

Menurut penjelasan dari As Syaikh Mustafa as Siba’iy dalam kitabnya as Sunnah, dan Imam Jalaluddin asSyuyuti dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Khawasy Min Akazibil Qasyasy, mungkin ada 3 alasan mengapa hadith ini begitu digembor-gemborkan di bulan Ramadhan, yaitu:

– Kemungkinan hadith ini dimunculkan oleh sebuah golongan untuk menonjolkan maqam ketinggian Imam Ali r.a. yang dinyatakan oleh imam- imam mereka banyak menerima hadith-hadith khusus yang tak pernah diriwayatkan oleh sahabat-sahabat lainnya.
– Atau pun tujuan hadith ini untuk memikat golongan awam dengan berbagai kisah dan riwayat sehingga masyarakat terpukau dan asyik mendengar ceritanya, sebagaimana cerita-cerita ini banyak ditemukan di zaman Imam Ahmad Ibn Hanbal.
– Serta hadith ini juga mungkin direka oleh sebagian golongan lain dengan maksud supaya masyarakat awam giat beribadah tanpa ilmu.

Maka menurut Mufti Negeri Terengganu, hadith ini merupakan sebuah hadith yang baru atau diada-adakan. Sehingga, bahkan ulama-ulama terdahulu yang menulis tentang kitab-kitab hadith palsu (maudhu`aat) tidak mengetahui adanya hadith ini.

Demikian pula pendapat yang sama dari ahli hadith seperti Ustadz Asri Hj Yusof (Dewan Pengajian Ibn Qayyim), almarhum Ustaz Abd Ghani Hj Idris (kitab Hadith-Hadith Dha’if dan Palsu) bahwa hadith di atas adalah hadith maudhu’ (palsu).

Tentu pembahasan ini tidak untuk menafikan adanya fadhilat atau kelebihan shalat tarawih dan kedudukannya di dalam sunnah. Tetapi, yang diharapkan adalah agar ummat Islam mengerjakan amalan-amalan kebaikan yang benar-benar dijanjikan-Nya, bukan rekaan manusia semata. Apalagi dengan tersebarnya hadith-hadith palsu ini tentu akan mencemarkan kesucian hadith dari RasuluLlah SAW yang sebenarnya.

Karenanya RasuluLlah SAW bersabda,

Barang siapa yang sengaja mengadakan dusta atas namaku, maka hendaklah dia menyediakan tempatnya dalam neraka.” (H.R Bukhori-Muslim)

Kalau hadith di atas dikaitkan untuk fadhai’l a’mal, memang sebagian ulama membenarkannya, tetapi bukan secara mutlak, melainkan dengan beberapa syarat yang ketat.

Syeikh al Qardhawi dalam Kaifa Nata’amul Ma’a al Sunnah al Nabawiyyah menjelaskan, ada 3 pertimbangan yang perlu dipegang oleh setiap Muslim agar ia selamat dari penyelewengan dan takwilan yang jahil, yaitu:

Pertama:
Mempastikan kethabitan/kesahihan sebuah hadith berdasarkan timbangan ilmiah oleh para muhaddithin (ulama hadith).

Kedua:
Memastikan kefahaman yang betul terhadap maksud sebuah hadith.

Ketiga:
Memastikan sebuah hadith tidak bertentangan dengan nash yang lebih kuat darinya, yaitu dari al Qur’an dan hadith-hadith lain yang lebih kuat kedudukannya.

Karena itu, cukuplah kita mengerjakan sebuah amalan –khususnya di malam Ramadhan– dengan berdasarkan pada hadith yang shohih, sebagaimana janji dari Allah Ta’ala bahwa,

Barangsiapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ganjaran dari Allah Ta’ala, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R Al-Bukhari)

Sumber: Kumpulan kisah islami

—————————————————————————

Sebuah tulisan dari Abu Aufa

Maraji:
1. Fatwa Mufti Terengganu: http://mufti.islam.gov.my/terengganu/?subid=10&parent=06
2. Penjelasan dari Ustadz Gayat, Al-Ahkam, Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: