Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Doa Untuk Putraku

Posted by freddysetiawan on October 12, 2008

Ketika aku dalam perjalanan dari bandara menuju rumah di hari ketika aku kembali ke Jakarta. Aku mendengarkan sebuah puisi di sebuah stasiun radio, sebuah puisi yang sangat melekat di hati, sebuah puisi yang dituliskan oleh seorang jendral Mc Arthur di tengah perang pasifik, pada perang dunia kedua, ia adalah seorang Jenderal berkebangsaan Amerika Serikat yang sangat terkenal dengan strategi loncat kodoknya yang berpindah dari suatu pulau ke pulau lain, sehingga tidak dapat di deteksi oleh tentara Jepang. Puisinya itu adalah sebuah puisi yang mengisahkan kecintaan dan harapannya terhadap buah hatinya.

—————————-

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan, godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Aku mohon, Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.
Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya.
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh- sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati.
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki.
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan dan kekuatan yang sempurna.
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: