Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Sebuah Salam Kecelakaan

Posted by freddysetiawan on October 13, 2008

Hari yang baik atau buruk, tergantung bagaimana kita menjalaninya

——————————————————

Awalnya, hari ini berjalan begitu indah dan nyaman , tanpa ada satu apapun yang mengusik ketenangannya. Aku pun menjalankan segala sesuatunya seperti biasa, tidak ada yang spesial di hari ini, bahkan butiran debu perasaan yang menyelimuti kegalauanku beberapa hari ini telah usai seiring dengan masih diterimanya tugas Review Tool Knowledge Management oleh Dosenku, padahal aku telah melewati tenggat waktu deadline-nya seminggu. Bukan maksud hati untuk menyepelekan tugas dosen, hanya saja, seminggu yang lalu aku masih berada di Banda Aceh, maka dengan ketulusan hati, permohonan maaf dan penuh pengharapan, aku mengumpulkan tugas tersebut, dan kenyataannya tidak ada masalah .

Namun semuanya berubah di sore yang cerah itu, sore yang keindahannya tidak secemerlang semangat sang langit, ketika itu, aku dalam perjalanan pulang dari sebuah pencarian jati diri yang sedang aku rilis ulang sekarang. Dan disitulah, di kala sepi tanpa siapapun disana, tepat di antara jalan-jalan yang sangat ramai hanya dikala tertentu. Tanpa sengaja aku membuat sebuah salam kecelakaan.

Aku berjalan bebas, lepas, tanpa beban. Seolah jalanan adalah milikku, tanpa seorangpun dapat menghalangi kecepatan dan tekadku yang kokoh . Disitulah semua itu berubah, ketika seekor makhluk mungil terlihat di depanku, hendak melintas dan menggapai tujuannya yang tak kalah lebih penting, aku pun memperlambat diri, memberi izin kepada kucing tak bersalah itu untuk bergerak lebih dulu, membiarku kembali pada jalur dan kebebasanku.

Ia sempat tampak ragu-ragu ketika melihatku, melaju bagaikan pengembara, meski sudah memperlambat dan memberi izin kepadanya. Ia pun berhenti, tepat di trotoar, melihatku dengan penuh harap dan senyum, sambil menyampaikan pesan yang tersirat “silakan mas, duluan saja

Melihat kebaikan dan niatnya yang mulia, aku pun kembali melaju, memacu sang motor untuk kembali maksimal, namun tiba-tiba ia justru kembali berlari, melewati jalanan yang tidak ada siapa-siapa selain aku dan dirinya. Dan disitulah sebuah salam kecelakaan itu terjadi. Benturan itu pun tak terelakkan. Kartu merah buatku .

Aku berhenti, mencoba melihat ke belakang, mencari tahu bagaimana nasibnya, apakah ia mati, menemui ajalnya dan harus ku kubur di pemakaman umum dengan membawa iring-iringan layaknya seorang raja mangkat ataukah ia hanya tertawa atas ulahnya yang nakal . Disana ia masih berdiri, seolah tanpa dosa, lalu berlari menyebrangi jalanan yang seharusnya bisa dilewati dengan mudah. Hatiku masih merasa was-was dan penuh rasa bersalah, apakah sang kucing baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja, apakah ia terluka, apakah ada tulangnya yang patah. Namun ia sudah pergi, ke tempat tujuannya yang tak aku ketahui ada dimana. Ia pergi meninggalkanku dengan rasa penasaran dan sebuah salam kecelakaan.

Aku pun bertanya pada diriku yang lain , Benarkah jika kita menabrak kucing, kita bisa sial dan menjalani hari yang buruk? Mungkin bisa dikatakan iya, jika kucing itu mati dan kucing itu adalah seekor kucing peliharaan seseorang. Bisa jadi kita akan mendapat ungkapan kemarahan dan kekesalan, apalagi jika diikuti tangisan histeris yang menyayat, belum lagi jika ia meminta ganti. Namun jika kita melihat dari sudut lain pun, kecelakaan itu sendiri sudah menjadi kesialan. Mitos-mitos… Tapi sungguh, Hari yang baik atau buruk, tergantung bagaimana kita menjalaninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: