Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

10000 Meter Dekat Ya

Posted by freddysetiawan on November 9, 2008

Kali ini, aku hendak menuliskan sesuatu dalam perjalananku yang kontroversi dalam mencari jati diri di atas kebenaran, dan kali ini perjalanan menuju kematian ini mampir sejenak dalam olimpiade UI 2008 yang bernama ASTEROID (Art and Sport Olympiad).

Untuk pertama kalinya UI menyelengarakan olimpiade internal UI ini menjadi dua bagian yakni Olimpiade Ilmiah-Seni dan Olahraga. Namun yang hendak kutuliskan bukanlah tentang olimpiade ini, namun mengenai perjalananku, karena ini adalah catatan kegundahanku.

Iseng-iseng, setelah lama tidak mengeluarkan kemampuanku, aku mencoba kembali, aku mencoba ambil bagian, yaitu cabang atletik. Nomor yang dipertandingkan ada 100 m, 200 m, 1500 m, marathon  10000 m (untuk putra) 5000 m (untuk putri), dan lari estafet. Beberapa sahabat menyarankan untuk ikut nomor 100 meter atau 200 meter saja, tapi aku menolak, “terlalu sebentar, cuma sampe finish yang segitu doank, udah.. selesai..” itu alasanku .

Melirik ke nomor lain, kalau untuk estafet jelas aku tidak berminat, sebuah cabang dengan tim, tidak cocok untuk kondisiku saat ini. Kini aku dilema oleh 2 pilihan yang tersisa, 1500 m atau maraton 10000 m. Sebenarnya aku lebih tertarik nomor 5000 m, sayang itu hanya dipertandingankan untuk kaum hawa. Kenapa dengan 10000 m? aku merasa kejauhan, takut tidak mampu , dan kalau 1500 m nanggung.

Dan setelah berpikir untuk beberapa waktu, akhirnya pilihanku jatuh pada nomor 10000 m, sejenak merenung kalau 10000 m itu adalah 10 km , aku pun menjawab dengan mantap pada diriku sendiri. “Ya.. Aku bisa

Ternyata 10000 meter itu dekat ya. Karena memang ternyata jarak itu tidak terlalu jauh kalau kita lalui dengan penuh keyakinan dan rasa optimis . Bahkan tidak sampai satuan jam. Aku memang tidak mencapai 3 besar untuk mendapatkan medali. “Yah.. Lawan terlalu tangguh” kilahku, lagian aku juga gak pernah latihan, hanya beberapa hari yang lalu aku beradu cepat dengan beberapa orang sahabatku dalam rangka uji coba dan pemanasan. Namun pertempuran kali ini cukuplah untuk mengasah kemampuanku yang telah terpendam dan sekedar mengeluarkan keringat .

Tiba-tiba aku jadi teringat, beberapa hari yang lalu salah seorang sahabat juga bertanya mengapa susah payah harus lari sejauh itu. Bagiku itu bukan hanya sebuah sarana melepas keringat, tapi juga suatu tantangan. Di sana kita bukan saja untuk dapat menyelesaikan sampai di garis akhir, tetapi tantangan dalam ketekunan untuk berlatih, konsentrasi, disiplin, mengasah semangat untuk tidak mudah putus asa, kesadaran akan sekitarnya waktu sedang berlari jarak jauh dan pembuktian diri .

Jika kita lihat lebih dalam, pelari maraton, mungkin bisa disamakan seperti pendaki gunung. Mungkin orang akan bertanya buat apa jauh-jauh mendaki gunung Himalaya. Mulai perjalanan hingga mendaki ke gunung, hanya melelahkan badan dan tidak ada apa-apa disana. Palingan enaknya cuma waktu mencapai puncak gunung, itu pun kalau bisa mencapai puncak. Pemandangan indah, bangga pernah mencapai puncak gunung himalaya.

Disitulah seninya, disana bukan hanya sekedar APA? Apa yang kita ingin capai? KAPAN? Kapan kita melakukan itu? DIMANA? Dimana kita melakukan itu. Tapi disana ada BAGAIMANA? Bagaimana Perjalanan kita mencapai itu? Sebuah proses, sebuah kenangan perjalanan. Tantangan, keberanian dan nyali kita diuji di sana. Dan disitulah nikmatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: