Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Apakah Aku Mencintai Orang Yang Tepat

Posted by freddysetiawan on November 17, 2008

Kunci sukses pernikahan bukanlah menemukan orang yang tepat, namun kuncinya adalah bagaimana belajar mencintai orang yang Anda temukan, dan terus menerus..!

———————————————————————

Beberapa waktu yang lalu, aku mencoba menyempatkan diri membaca sebuah terjemahan bebas dari buku “Did I marry the right person?”. Ceritanya sangat bagus, baik buat yang masih single maupun yang sudah menikah. Buat mereka yang masih single tentu bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan buat yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani. Tidak untuk kata perceraian.

Semua bermula ketika aku mulai jengah, sebuah penyakit diriku dalam menghadapi pertualangan hidup ini, sebuah mood jelek jika kondisi dan keadaan pertempuran hanya berjalan statis tanpa tantangan, hal tersebut yang membuat aku tersandung beberapa waktu terakhir, kegagalan karena membuat aku sendiri menjadi murka dan boring tanpa pernah mau belajar dan bersyukur. Belum lagi ditambah kondisi si dia mulai berubah, dibumbui pula oleh seorang murid yang mulai tangguh dengan menggoyahkan tekad sejatiku untuk memantapkan dulu masa-masa muda yang indah, tak terulang dua kali dan penuh kenangan.

Kita semua tahu, setiap ikatan memiliki siklus. Pada saat-saat awal sebuah hubungan, saat proses pendekatan dan tantangan merebut hatinya. Kita merasakan jatuh cinta dengan pasangan. Telepon dan perjumpaan dengannya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Tidak perlu berbuat apapun makanya dikatakan “jatuh” cinta. Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta”. Bayangkan ekspersi tersebut! Seakan-akan kita sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada kita.

Jatuh cinta itu mudah, sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi, setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar, perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada semua ikatan. Perlahan tapi pasti telepon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya tidak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila kita memikirkan tentang rumah tangga kita, kita akan mendapati perbedaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat kita jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya. Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai muncul, baik dari kita atau dari pasangan kita, atau dari keduanya.. Nah lho! Dan ketika kita maupun pasangan kita mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, kita mungkin mulai berhasrat menyelami euforia-euforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas, maka masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV sampai TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Kunci sukses pernikahan bukanlah menemukan orang yang tepat, namun kuncinya adalah bagaimana belajar mencintai orang yang Anda temukan, dan terus menerus..!

Yah, jika kita berusaha mencari orang yang tepat, sempurna dengan keinginan kita, kita tidak akan pernah menemukannya, diatas langit masih ada langit. Never Perfect In The World. Cinta bukanlah hal yang pasif ataupun pengalaman yang spontan. Cinta tidak akan pernah begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa “menemukan” cinta yang selamanya? Kita harus ‘mengusahakannya” dari hari ke hari. Benar juga ungkapan “diperbudak cinta” Karena cinta itu butuh waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting cinta itu butuh sikap bijak. Kita harus tahu benar apa yang harus dilakukan agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah misteri.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan, dengan ataupun tanpa pasangan Anda agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika? (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga dapat membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa “membuat” cinta bukan “jatuh”. Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah “decision” dan bukan cuma “perasaan”..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: