Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Pertemuanku dengan Peri Kecilku

Posted by freddysetiawan on November 22, 2008

Hari itu, suatu hari yang cerah, matahari bersinar dengan gagahnya, aku masih mengingatnya dengan baik, hari dimana aku menemukan seseorang yang bakal menemani setiap langkahku. Meski tidak lagi sekarang.

Semua bermula di pagi itu, ketika aku berjalan di sebuah taman antara rumahku dan rumah salah seorang sahabatku. Aku hendak menyampaikan sebuah kabar gembira kepadanya, sebuah kabar yang telah lama kami nanti-nantikan, sebuah berita kemenangan untuk dapat melangkah lebih jauh dan menggapai impian.

Tiba-tiba aku melihat perkelahian, sebuah pertempuran yang tidak berimbang. Sebuah makhluk kecil tak berdaya, hanya seukuran telapak tangan, tampak dipukuli bertubi-tubi oleh dua orang pemuda, badan mereka begitu besar dan kekar, rambutnya botak, tato menempel di tubuh mereka. Mereka terlihat seperti preman jalanan. Tiada henti-hentinya mereka memukul sambil sekali-kali berteriak memaki.

Bukannya aku berlagak sok pahlawan, aku hanya merasa iba melihat kejadian tersebut. Aku berlari cepat mendekati perkelahian. Dan mencoba melerai perkelahian tak berguna itu.

Apa-apaan nich? Pagi-pagi kok buat rusuh?

Heh, diam aja loe anak muda, gak usah ikut campur” jawab salah satu dari mereka.

Oke..oke.. Tapi dia udah gak bisa ngelawan lagi, dia udah KO. Lebih baek kalian akhiri aja

Namun mereka tetap tak bergeming dan terus memukul makhluk kecil tak berdaya itu. Tak tahan lagi melihat keadaan yang menyedihkan itu, aku pun masuk ke dalam perkelahian dan mencoba melawan dan membela.

Oi…. Beraninya main keroyok aja. Berani cuma sama yang lebih kecil. Sini lawan gue” Ujarku lantang.

Perkelahian pun berubah menjadi antara mereka dan aku. Namun aku tidak mampu berbuat banyak. Mereka lebih besar dan tangguh. Aku hanya mampu memukul beberapa kali, selanjutnya aku terus menjadi bulan-bulanan mereka.

Tak lama, mereka tampaknya sudah cukup puas melampiaskan kekesalan dan amarahnya. Tak lama kemudian mereka pun mengakhiri pengeroyokan dan pergi meninggalkan kami, sambil berteriak “Kalau masih mau hidup, jangan coba-coba ngelawan bos. Dan kau bocah, gak usah ikut campur kalau gak mau mati

Aku tidak mempedulikan mereka yang mulai hilang dari pandangan mata, aku mencoba bangkit, berdiri, agak tertatih, lalu kembali ke rumah sambil membawa makhluk kecil itu dalam saku celanaku.

Sesampai di rumah, orang di rumah yang saat itu sedang duduk-duduk santai di teras, terlihat kaget dan khawatir ketika aku pulang dengan memar diwajah.

Ada apa Fred? Kok bisa gini?

Aku pun dibaringkan di ruang tamu, lalu lukaku dikompreskan dengan handuk kecil yang dibahasi air dingin.

Kenapa sih kok bisa luka begini? kamu berkelahi?” tanya mereka.

Gak ada apa-apa kok” jawabku mencoba menghindar.

Selanjutnya aku hanya diam sedangkan mereka tiada berhenti menceramahi. “Berkelahi itu tidak ada gunanya… Jangan kamu ulangi lagi… Jangan cari musuh… Kalau sampai dibunuh gimana…

Iya…iya…tenang aja” jawabku singkat setelah semua luka-luka sudah dibersihkan dan diobati.

Aku masuk ke dalam kamarku, dan kini giliranku untuk mengkompres luka makhluk kecil yang pingsan itu. Aku melihat dia baik-baik, ia sama seperti aku, ia memiliki 2 tangan dan 2 kaki, tampak seperti manusia biasa. Hanya ukurannya yang begitu kecil, sebesar telapak tangan saja, ia memiliki sepasang sayap, mungkin untuk ia terbang, dan ia adalah sesosok wanita. Aku menyebutnya Peri Kecil.

Beberapa jam kemudian, ia terbangun. Ia tak sadar ada dimana, namun ia masih ingat aku, yang mencoba menyelamatkannya dari para “preman jalanan”.

Terima kasih” jawabnya pelan.

Aku menyuruhnya untuk tetap beristirahat, kubawakan makanan, aku pun menyuapkan makanan kepadanya yang masih tampak tak berdaya, sambil sedikit berbasa-basi menanyakan sedikit kronologi kejadian.

Sejak saat itu, dia menjadi temanku, pendampingku, ia menemani setiap langkahku. Kemana aku pergi, ia selalu ikut, kami seperti pasangan yang tidak terpisahkan. Ia dan aku adalah satu. Aku dan Peri Kecilku adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Kami saling melengkapi.

Begitulah awal pertemuanku dengan peri kecilku. Sebuah pertemuan sederhana yang memberikan luka namun melahirkan kebersamaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: