Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Archive for January, 2009

Sebuah Kisah Tentang Bangunan Tua

Posted by freddysetiawan on January 31, 2009

Aku sering bermain-main ke bangunan tua itu, bangunan tua dua lantai yang bergaya klasik, baik itu untuk bermain-main dan bersilaturahmi, maupun bersembunyi dari kejaran anak-anak yang memaksa aku pergi bersama mereka dalam berbagai urusan yang bahkan terkadang tidak penting dan tidak aku sukai. Sebenarnya aku tidak suka keramaian, aku lebih suka suasana yang damai dan hening, tapi mereka tak pernah dapat mengerti. “Ada urusan” itu alasanku untuk menghindar tanpa pernah memberitahu bahwa disanalah aku bersembunyi.

Rumah tua itu milik seorang Manado yang telah sekian lama pindah ke Jakarta. Pria tua berambut putih keriting, berjanggut putih dan memelihara jambang yang tidak serasi dengan wajahnya. Ia sering mengenakan jas petani yang penuh tambalan dan berwarna kehitaman karena terkena angin dan debu. Setiap langkah harus dia selingi dengan bersandar pada tongkat kayunya.

Ia tinggal seorang diri di rumah tua itu  sejak istrinya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan Tuhan tidak memberinya garis keturunan. Istri yang telah dinikahinya 40 tahun-an yang lalu adalah orang betawi, ia pun begitu tertarik dengan budaya betawi dan kehidupan jakarta tempoe doeloe, ia sering bercerita tentang kota asalnya dulu yang tidak pernah lagi ia kunjungi, ia hanya melihat kota Manado melalui televisi dan surat kabar, ia sering menceritakan kerinduannya pada kampung halaman, tapi ia tidak punya siapa-siapa lagi di sana.

Ia juga menceritakan alasannya pindah ke Jakarta ketika berusia remaja, rasanya hidup sebagai anak tunggal, kerasnya kehidupan di ibukota, keindahan Jakarta waktu dulu, masa-masa ketika ia pertama kali pernah mengemudikan bemo yang muncul di awal era 60-an dan hasratnya untuk mengemudikan helicak, sebuah kendaraan angkutan masyarakat yang mirip antara helikopter dengan becak yang muncul di awal era 70-an yang tidak pernah tercapai olehnya.

Ia cukup senang jika aku berkunjung, itu bukan karena ia kesepian, ia cukup dihormati dan disayangi di desa itu, anak-anak di desa itu pun sering mendengar dongeng dan petuah-petuah singkat darinya, tapi itu karena aku juga adalah seorang anak rantau, ada perasaan senasib yang kami rasakan. Jika ia dari Sulawesi, aku dari ujung barat Sumatera. Bila berbicara denganku, ia tampak bersemangat sekali, seolah usianya menjadi lebih muda beberapa puluh tahun.

Celaka, kematianku telah mendekat.” Katanya beberapa waktu yang lalu, aku cukup terkejut mengingat aku mengenal dia sebagai sosok yang selalu bersemangat dan tidak pernah takut menghadapi kematian. “Aku yakin bahwa ajal akan segera menjemputku. Aku tak bisa menjelaskan darimana aku mendapatkan berita ini. Tapi sepertinya perasaanku yang mengatakan bahwasanya mati akan segera menyergapku. Dari segala arah mata angin, dari langit, dari bawah bumi, dari mana-mana kematian bisa saja segera memeluk jasadku. Oh tidak, bagaimana ini?

Tenanglah kek, kita tak bisa menolak takdir, jika ia datang, maka ia akan datang dan kita tidak dapat menunda dan menghalanginya. Ia akan datang dengan sendirinya tanpa dapat kita atur, yang paling penting persiapkan diri kita untuk menghadapainya” jawabku bijaksana.

Bukannya aku hendak menolak ajal. Aku pasrah dan rela jika memang saatnya telah tiba. Tapi aku masih ingin melakukan banyak hal. Kematian, kenapa kau harus datang begitu cepat? Tunggulah barang beberapa waktu lagi.

Sekali lagi aku sulit mempercayainya, baru kali ini aku melihat tingkahnya yang seperti ini. Aku bingung harus menjawab apa. “Memangnya kenapa kakek merasa kematian akan segera datang?

Memang tak ada yang bisa memastikan bahwa hari ini atau esok kematian akan datang. Tapi entah kenapa, sepertinya perasaanku kali ini bisa dipercaya. Aku memang akan segera mati. Jadi aku harus segera menyelesaikan yang belum terselesaikan, mengakhiri apa yang belum berakhir, serta membagikan segalanya sesuatu yang belum sempat kubagikan. Waktuku amat sempit, aku harus bergegas. Masih banyak tugas yang harus kujalankan. Baiklah, wahai sang ajal, jikalau memang kau hendak jemput aku sekarang. Beri aku kesempatan, aku butuh waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia.

Aku hanya  menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti, entah firasat apa yang didapatkannya sehingga ia benar-benar merasa hal itu akan terjadi, entah hasrat apa pula yang ingin ia kerjakan.

Pernahkah kamu mendenar kisah seorang tukang lentera?” tanyanya tiba-tiba.

Belum

“Dengarkanlah baik-baik” Ia berkata seolah-olah aku seorang anak kecil yang hendak mendengar sebuah dongeng sebelum tidur “Alkisah di sebuah desa kecil, setiap petang lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor penyulut lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling desa menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan menuju tiang lentera berikutnya. Begitu seterusnya dari satu tiang ke tiang berikutnya, makin jauh lelaki tua itu berjalan dan makin jauh dari pandangan kita hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Namun demikian, bagi siapapun yang melihatnya akan selalu tahu kemana arah perginya pak tua itu dari lentera-lentera yang dinyalakannya.

Penghargaan tertinggi adalah menjalani kehidupan sedemikian rupa sehingga pantas mendapatkan ucapan: Saya selalu tahu kemana arah perginya dari jejak-jejak yang ditinggalkannya.

Aku mengangguk mencoba meresapi kandungan cerita pendeknya, tapi aku tidak mengerti. Dan ketika aku bertanya, seperti biasa ia tidak memberikan penjelasan dan jawaban, ia hanya berkata dengan suara beratnya sambil tersenyum dengan gaya khas, “renungkanlah anak muda…

Selama beberapa hari, aku tak mendapat kesempatan untuk mengunjunginya, kesibukanku menghalangi untuk mampir walau hanya sejenak. Dan ternyata, beberapa hari kemudian, sekitar 2 minggu yang lalu, aku mendengar kabar bahwa ia telah meninggal, ia meninggal di kediamannya yang tua itu malam harinya. Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata firasatnya benar-benar tepat. Ajal benar-benar menjemputnya.

Aku bergegas kesana, aku sempat bertanya-tanya siapa yang mengurusinya, apalagi ia tidak memiliki satu orang pun sanak saudara lagi sekarang, sebuah kecemasan aneh dari diriku, syukur jenazahnya diurus oleh warga setempat, karena ia memang orang yang membina hubungan yang baik dengan tetangga dan warga desa, ia adalah sosok yang baik, ramah dan disayangi semua orang.

Di sana, di bangunan tua yang menjadi rumah duka itu suasana memang tidak terlalu ramai, ada beberapa warga desa setempat, ada kepala desa, imam mesjid dan ada pihak keluarga dari istrinya, ternyata ia memang tidak terlalu sendiri, tapi mungkin ia telah terbiasa hidup dalam kesendirian dan ketenangan.

Hari itu langit tampak mendung, hujan tampak akan segera turun. Beberapa hari terakhir hujan memang terus membasahi bumi, beberapa tempat di Jakarta telah kebanjiran. Setelah jenazahnya dimandikan dan dishalatkan, aku turut menghantarnya menuju rumah masa depan sekaligus kediamannya di masa datang.

Ia dimakamkan di belakang bangunan tua itu, tepat di sebelah makam istrinya. Aku memandang sekeliling, sekitar yang nampaknya sunyi, senyap. Kawanan burung gagak bersiul seraya bercengkerama di sudut. Ketika jenazah yang kuiring mulai diturunkan ke liang lahatnya, tanpa henti aku terus menatapnya, aku tak mau melewatkan satu momen pun. Mengedipkan kelopak pun aku enggan. Dalam hati aku ucapkan perpisahan sekaligus selamat kepadanya. Selamat jalan, semoga kau dapatkan tempat yang lebih baik disana. Semoga kau diterima di sisi-NYA.

Sang jenazah telah tertimbun tanah. Doa telah dibacakan. Semua orang termasuk keluarga istri dan tentunya juga keluarganya telah meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri. Aku mulai berpikir, merenung dan membayangkan. Ah, suatu saat nanti aku akan jadi salah satu penghuninya.

Sejenak, aku masuk ke rumah tua yang kini tidak ditinggali siapa-siapa, disana ada salah seorang dari keluarga istrinya, seorang pria berumur 50 tahun-an.

Salam kenal, Freddy, saya teman Kakek” sapaku memperkenalkan diri.

Salam kenal juga, saya keponakannya Kakek” jawabnya ramah.

Kami sedikit saling bercerita tentang seorang Kakek yang tinggal di bangunan tua ini sendirian, melalui cerita sang keponakan, aku jadi mengenal sisi lain sosoknya yang selama ini tidak aku ketahui.

Bagaimana dengan nasib rumah ini?” tanyaku tiba-tiba.

Ia tampak berpikir sejenak, “Entahlah, belum ada pembicaraan lebih lanjut, tapi tampaknya rumah ini akan dijual saja dan hasil penjualannya akan diserahkan ke panti asuhan” jawabnya.

Ada rasa kecewa dalam diriku, bukan kecewa karena hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan, tapi sebuah perasaan kecewa jika rumah ini bakal jatuh ke tangan yang tidak tepat. Rumah ini bergaya klasik, isinya disusun oleh sang Kakek seperti museum, museum kecintaannya seorang Manado kepada jakarta tempoe doeloe, ada foto-foto bemo dan kendaraan-kendaraan yang kini sulit kita jumpai di Jakarta, ada berbagai foto pergelaran acara betawi, ada foto pemandangan jakarta waktu dulu, tersusun rapi sebagai pajangan, ada beberapa alat perkakas tua yang dia simpan, sungguh sayang jika itu semua hilang.

Jika memang rumah ini kelak akan dijual, semoga rumah ini dibeli oleh orang yang tepat, dan barang kali bisa menjadikan rumah ini sebagai museum” jawabku polos penuh harapan.

Ia hanya tersenyum melihat harapanku.

Mungkin aku tidak dapat bermain-main ke sini lagi” kataku lagi sambil melihat-lihat sekeliling. Mengagumi koleksi-koleksi klasiknya. Aku mengambil beberapa foto sebagai kenanganku dengan tempat ini, pamit dan akhirnya pulang ke rumah.

Setelah itu aku terduduk lunglai di kamar. Badanku serasa lemas dan otakku terasa kosong hampa. Dalam hati aku berpikir mungkin suatu waktu nanti, sekali-kali aku akan kesana lagi, untuk melihat apakah bangunan tua itu masih ada, bangunan bergaya klasik tempat sang Kakek menghembuskan nafasnya yang terakhir, ataukah bangunan itu telah diganti dengan bangunan yang lain yang mengabaikan aspek-aspek sejarah.

Beberapa hari yang lalu, ketika aku sedang duduk terdiam di dekat jendela, menyaksikan butir-butir air yang turun dari langit. Aku teringat pada cerita sang Kakek yang terakhir, kisah tentang seorang tua pembawa lentera. Entah kenapa waktu itu aku tidak mengerti, padahal maknanya tidak terlalu sulit untuk dipahami, mungkin aku belum menemukan kunci dari cerita itu, ya kita memang hidup dengan tidak hanya melihat diri sendiri terkadang kita harus melihat apa yang kita tinggalkan kepada orang lain.

Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang membuat diri kita berubah. Seperti halnya perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera berikutnya, kemanapun kita pergi akan meninggalkan jejak. Tujuan yang jelas dan besarnya rasa tanggung jawab kita adalah jejak-jejak yang ingin diikuti oleh putera puteri kita dan dalam prosesnya akan membuat orang tua kita bangga akan jejak yang pernah mereka tinggalkan bagi kita. Setiap orang tentu ingin meninggalkan suatu jejak yang bermakna, yang akhirnya bukan hanya kehidupannya yang akan menjadi lebih baik disana tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya di alam fana ini.

Dan entah kenapa, tiba-tiba aku merasakan jejak yang ingin ditinggalkan kakek adalah bangunan tua itu, entah kenapa, aku merasa ia ingin bangunan tua itu tidak berubah, tempat ia pernah tinggal bertahun-tahun, tetap sebagai sebuah bangunan penuh kenangan,  meski mungkin ia akan difungsikan sebagai sesuatu yang lain. Entah kenapa, pendapatku itu menyelimuti perasaanku sebagai harapannya yang masih ingin dia lakukan.

Tadi pagi, akhirnya aku datang ke rumah tua yang kini tidak berpenghuni itu, rumah itu masih seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah, hanya sedikit kurang terawat, sementara kesan angker juga terlihat dari rumah itu, seolah rumah itu memiliki sejuta misteri yang tidak diketahui siapapun. Aku membayangkan jika rumah ini terus dibiarkan seperti ini, bukan tidak mungkin, beberapa tahun kedepan rumah ini kelak akan menjadi rumah hantu.

Disanalah, aku bertemu dengan keponakan sang Kakek yang kemarin, ia terlihat baru pulang dari tempat kepala desa. Setelah saling menyapa dan bercakap-cakap sejenak, ia menjelaskan bahwa dalam wasiatnya sang Kakek mengharapkan kalau bangunan tua ini tidak dijual, tapi dihibahkan untuk menjadi sebuah panti asuhan dan dipertahankan sebagaimana saat ini.

ini adalah bangunan yang bersejarah” katanya sambil tersenyum.

Ada rasa senang menyelimuti perasaanku, firasatku benar, jejak dari bangunan tua bersejarah inilah yang ingin dia tinggalkan. Sebuah bangunan tua yang kelak akan mengingatkan kita kepada dirinya. Mungkin saja, tiada penyesalan lagi yang dia tinggalkan di dunia ini. Semoga…

Advertisements

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , , , | 2 Comments »

Hakikat Yang Hilang

Posted by freddysetiawan on January 30, 2009

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hag) selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaha: 14), berdasarkan ayat tersebut maka dapat di ketahui bahwa tujuan dari ibadah shalat adalah untuk meingat Allah Swt. Selain itu, Allah juga telah menjadikan zikir sebagai penutup semua jenis ibadah, dimana jika kita telah selesai mengerjakan suatu ibadah maka tutuplah ibadah tersebut dengan berzikir kepada Allah Swt.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk, dan di waktu berbaring, kemudian apabila kamu telah merasa aman maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang di tentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (An-Nisa:103).

Kita sering mendengar dan membaca ayat-ayat tersebut dan kita mengetahui sebuah hakikat yang menyatakan bahwa tujuan dari berbagai macam ibadah adalah untuk mengingat Allah Swt. Akan tetapi, hakikat tersebut merupakan sebuah hakikat yang telah hilang dari hadapan kita, dimana setan selalu berusaha keras agar hakikat tersebut akan tetap hilang dari hadapan kita, sehingga kita akan selalu berada dalam kelalaian dan permainan dunia. Tetapi berkat karunia Allah, dan segala puji hanya milik-Nya, hakikat itu telah ditampakkan kepada kita maka mengapa kita tidak mau berzikir ?

Perumpamaan seorang yang mengingat Allahnya dengan orang yang tidak mengingat Allahnya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (H.R Bukhari).

Benar, berzikir kepada Allah Swt menunjukan hidup atau tidaknya hati seseorang. Oleh karena itu barang siapa yang tidak berzikir kepada Allah maka hatinya telah mati. Jika kita diberi pilihan untuk memilih pasti kita akan memilih hati yang hidup dan bahagia, tetapi ada beberapa rahasia yang perlu kita ketahui, apakah kita saat ini telah berzikir kepada Allah ?

Dengan berpegang teguh pada jawaban tersebut, kita akan menjadi teratur. Jadikanlah zikir sebagai nasehat yang diletakkan didepan mata kita. Berzikir kita kepada Allah Swt niscaya akhlak kita akan teratur. Berzikirlah kita kepada Allah Swt niscaya ibadah kita akan menjadi teratur.

Akhirnya, marilah kita mengelilingi taman zikir, menghirup udara segar didalamnya dan menikmati bunga-bunga yang ada didalamnya. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kita sebagai salah seorang yang ketika mendengarkan perkataan, kita akan mengikuti perkataan yang terbaik.

Sumber: Kumpulan kisah islami

Posted in Kajian Islam | Tagged: , | Leave a Comment »

Waktu Ku Kecil Dulu

Posted by freddysetiawan on January 29, 2009

Waktu ku kecil dulu, aku suka melakukan hal-hal baru, seperti:

Memecahkan batu dengan kepala ku… (Itu pertama kalinya aku berkenalan dengan cairan merah yang mengalir dari kepalaku, bernama darah)

Main basket bersama orang idiot… (Hal tersebut mengakibatkan aku di opname 1 bulan)

Mengendarai komodo…

Menjilat bibir lumba-lumba…

Menakuti macan…

Menantang polisi… (Sambil berteriak menantang “Okay, aku hanya butuh 3 menit buat membuat kalian pulang sambil menangis!“)

Memandikan peliharaan ku…

Balapan dengan mobil… (Fast and Furious, baby!)

Mencoba bermain skating…

Dan, bermain seluncur…

Haah.. Masa kecil yang menyenangkan..

kaskus posted by crossfinger

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Mencoba Tertawa | Tagged: | 6 Comments »

Kekuatan Impian

Posted by freddysetiawan on January 28, 2009

Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka.

————————————————————————————————-

Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju. Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya. Dunia ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan tehnologi yang lebih hebat itu berkat impian orang-orang besar. Orang-orang besar itu adalah para pemimpi.

Menurut Francis Ford Coppola, “It was the man’s dream, and his inspiring attempt to make them come true that remain important. – Itu mimpi manusia yang terpenting, dan upayanya yang inspiratif mengupayakan mimpi itu menjadi kenyataan.” Kemajuan kehidupan saat ini merupakan hasil impian generasi pendahulu kita.

Mereka yang tidak mempunyai impian meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan. Hasrat atau kegigihan mereka mudah sekali pudar, sehingga mereka dengan mudah mengubah impian mereka menjadi sangat sederhana. Padahal, impian yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang yang berhasil mencatat nama dalam sejarah rata-rata mempunyai ciri khas yaitu selalu mampu memperbarui impian mereka.

Impian Merupakan Sumber Motivasi.
Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar. Misalnya kita memimpikan sebuah kamera merek A, maka kita menjadi lebih jeli memperhatikan benda tersebut. Tantangan berat yang harus dihadapi bukan sesuatu yang berarti jika impian sudah menjadi nafas kita. “It may be that those who do most, dream most, – Mereka mengerjakan sesuatu dengan giat, sebab mereka sangat memimpikannya,” kata Stephen Butler Leacock.

Bahkan impian dapat menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber motivasi hingga mencapai tujuan atau menggapai tujuan selanjutnya. Dorongan motivasi itulah yang akan menggerakkan tubuh dan mengatur strategi yang harus ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi dan menjalin komunikasi maupun bekerjasama dengan orang lain.

Nelson Mandela, sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, ia harus berjuang untuk sebuah impian negara Afrika Selatan yang berdaulat. Untuk itu ia menghadapi tantangan teramat berat. Impian selalu memotivasi Nelson Mandela untuk tetap berjuang, meskipun ia harus merelakan sebagian besar waktunya dibalik terali besi. Impian merupakan sumber semangat bagi Nelson, hingga Afrika Selatan benar-benar merdeka.

Sebenarnya, kitapun dapat memperbarui nilai dan menyempurnakan jati diri dengan kekuatan impian. Jadi jangan takut untuk bermimpi akan hal-hal yang besar, sebab impian menimbulkan hasrat yang kuat untuk meraihnya. Impian mampu berperan sebagai sumber motivasi, yang membangkitkan ambisi dan optimisme, sehingga kita mampu melampaui semua rintangan dan kesulitan.

Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi.
Impian
menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian itu sendiri sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak gampang. Menurut Anais Nin, “Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan hati seseorang.” Ada 4 tips sederhana guna menjadikan impian sebagai sumber energi kita yaitu disingkat dengan kata PLUS, yaitu: Percaya, Loyalitas, Ulet dan Sikap mental positif.

Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain mengkritik atau menghalangi. Ingat, kehidupan Kita akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Kita. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Kita. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa manusia diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang kedua adalah loyalitas atau fokus untuk merealisasikan impian. Untuk mendapatkan daya dorong yang luar biasa, maka tentukan pula target waktu.

Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih lama dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif. Seseorang yang mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan pengorbanan, kerja keras dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain. Oleh sebab itu, mereka selalu bersemangat mengembangkan kemampuan tanpa henti dan mencapai kemajuan terus menerus hingga tanpa batas. Impian yang sudah menjadi nafas kehidupan merupakan daya dorong yang luar biasa.

Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani.
Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan. Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya. Para pencipta puisi Belanda atau Dutch Poet’s Society mengatakan “Nothing is difficult to those who have the will, -Tidak ada sesuatupun yang sulit selama masih ada kemauan.

Bob William mampu berlari dengan menggunakan kedua tangan. Ia tidak merasakan sakit di tangannya. Sebab sebuah tujuan yang berarti menjadikan segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan menyenangkan.

Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian. Sedangkan kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan impian. George Lucas mengatakan, “Dreams are extremely important. You can’t do it unless you imagine it, – Impian sangatlah penting. Kau tidak akan dapat melakukan apa-apa sebelum kau membayangkannya.

Jadi jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian tersebut sebagai nafas kehidupan. Sebab impian yang kuat justru menjadikan perjuangan yang berat saat menggapainya sebagai sarana latihan mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang lain, misalnya kekuatan emosi, fisik, maupun rohani.

Tapi ingat, hiduplah untuk mewujudkan impian, bukan hidup dalam impian.

Sumber: Kumpulan kisah motivasi

Posted in Motivasi dan Inspirasi | Tagged: | Leave a Comment »

Queen’s Mummy Found In 4,300-Year-Old Pyramid

Posted by freddysetiawan on January 27, 2009

Queen’s Mummy Found In 4,300-Year-Old Pyramid By Andrew Bossone in Cairo

Parts of a mummy found inside a 4,300-year-old pyramid could be Queen Seshseshet, the mother of the first pharaoh of Egypt’s 6th dynasty, archaeologists announced in January 2009.

A skull, pelvis, legs, and pieces of a torso wrapped in linen (above) were discovered inside a granite sarcophagus.

————————————————————————–

Parts of a mummy found inside a 4,300-year-old pyramid could be Queen Seshseshet, the mother of the first pharaoh of Egypt’s 6th dynasty, archaeologists have announced.

A skull, pelvis, legs, and pieces of a torso wrapped in linen lay inside a 16-foot-tall (5-meter-tall) pyramid—the third “subsidiary” tomb found next to that of the pharaoh Teti, who ruled for 22 years before he was assassinated.

Seshseshet’s pyramid was discovered last November in Saqqara, the vast burial ground near modern-day Cairo that was part of the ancient Egyptian capital of Memphis.

Two other previously known pyramids were for his principal wives, Iput I and Khuit.

Zahi Hawass, secretary general of Egypt’s Supreme Council of Antiquities (SCA), noted that there are currently no plans to run DNA tests on the mummy to confirm its identity.

“We believe the [newfound] pyramid belonged to the queen, the mother of Teti, because she is the third woman that we know in the life of the king,” Hawass said.

Motherly Love

Royal moms were revered in ancient Egypt, as they were literally considered the mothers of a god. Teti’s mother was an especially well-known figure in her day.

“Teti loved his mother so much that he named all of his [nine] daughters after her,” said Egyptologist Naguib Kanawati of Macquarie University in Australia, who was not involved in the new find.

“All of them have nicknames, but their main names were Seshseshet.”

Also, at least two funerary estates—special parcels of land that provided food for the funerary cults of high officials—were named after her, a practice Kanawati compared to naming modern cities after important historical figures.

“Washington was a famous figure in American history, and Seshseshet was an important person, certainly for the king.”

Like other royal tombs, the queen’s burial chamber was once filled with treasures that were taken by thieves centuries after her death.

But in this case, the tomb raiders actually helped current excavations by creating a path into the chamber. (Related: “Egyptian Dentists’ Tombs Found by Thieves” [October 23, 2006].)

The thieves entered through a tunnel from the top, because they couldn’t get through the main entrance, said Hawass, who is also a National Geographic Society explorer-in-residence. (The National Geographic Society owns National Geographic News.)

Fortunately, Seshseshet’s mummy was inside a granite sarcophagus with a six-ton lid, so the thieves left the body and its decorations of gold jewelry untouched.

“They didn’t open the sarcophagus; they were using their hands,” said Hawass, whose team used heavy machinery to remove the lid.

Tomb With Bare Walls

The archaeologists noted that Seshseshet’s 172-square-foot (16-square-meter) burial chamber didn’t have text inscriptions on its walls, helping to narrow the time frame for when the practice began in women’s tombs.

Tomb inscriptions for women existed during the time of Pepy I, who succeeded an unnamed usurper who reigned for two years following Teti’s assassination.

This means that Seshseshet was among the last of Egypt’s queens buried without inscriptions.

Her name and royal status remain part of history, however, in part because her description has been found on fragments of stone from Saqqara and her name was written inside the tombs of important officials of her time.

National Geographic News

Posted in English Day, Sekilas Info, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Gerhana Matahari

Posted by freddysetiawan on January 26, 2009

Mengamati Gerhana Matahari Secara Aman dan Sederhana

Sore nanti akan terjadi gerhana matahari cincin. Di Jakarta nanti pada jam 16.00-17.00 WIB, bulatan surya akan menyerupai sabit. Lebih istimewa di Lampung dan Samarinda, karena di sana matahari tampil sebagai cincin yang terang.

Peristiwa gerhana matahari sering membuat heboh, padahal itu gejala alam yang biasa meskipun tergolong agak langka. Salah satu penyebab gempar ialah kekuatiran tentang keselamatan mata, ketakutan bahwa melihat gerhana itu mengakibatkan buta.

Pupil

Seperti diafragma pada kamera, mata manusia mempunyai pupil yang dapat melebar atau menyempit untuk menakar jumlah cahaya yang memasuki mata. Pada suasana gelap, diameter pupil membesar sampai 8 mm supaya terkumpul cukup cahaya yang memungkinkan orang melihat dalam kegelapan. Di siang hari yang terik, diameternya menyusut hingga 2 mm, bahkan mampu mengecil sampai sekitar 1,6 mm jika berhadapan dengan cahaya yang menyilaukan.

Tetapi penakaran cahaya oleh pupil ada batasnya, tidak kuasa menghalangi pancaran cahaya matahari yang begitu hebat. Jika dihitung, cahaya langsung dari sang surya mesti dilemahkan 50.000 kali supaya menjadi aman bagi mata, dijadikan 0,00002 kekuatan semula. Kalau tidak, orang yang nekad menantang matahari memang berpeluang menjadi buta.

Karena itu sehari-harinya silau pancaran matahari selalu dihindari. Tetapi ketika gerhana tiba, orang bisa tertarik untuk mengamati wajah sang surya yang sedang berubah menjadi sabit. Lupa daratan pun mungkin terjadi, abai terhadap bahaya.

Soalnya pada saat gerhana, pancaran surya dihalangi sebagian oleh bulan sehingga alam menjadi redup dan pupil mata pun membesar. Tepat di saat orang mendongak ke atas menatap matahari, pupil belum sempat bereaksi, padahal kecerahan permukaan matahari tetap sama dahsyatnya dengan sehari-hari, ukurannya saja yang susut membentuk sabit. Sudah tentu luar biasa besar bahaya kebutaan yang mengancam. Lebih-lebih jika melihat melalui teropong, kamera atau instrumen optik lain yang tidak dimodifikasi, karena ada lensa di situ yang memusatkan cahaya dan sangat meningkatkan bahaya. Jangan pernah melihat gerhana matahari dengan mata telanjang, apalagi dengan teropong atau kamera yang tidak dilengkapi dengan khusus.

Kotak

Tidak usah risau, ada sejumlah cara aman untuk mengamati peristiwa yang belum tentu setahun sekali menyinggahi daerah yang sama. Prinsip yang banyak dipakai ialah bukan melihat langsung tetapi menyaksikan citra matahari pada suatu permukaan. Seperti cara yang lain, tentu dibutuhkan cuaca yang cerah. Sebuah contoh sederhana berwujud kotak karton yang dapat dibuat sendiri (lihat gambar).

Bidang atas seluas kira-kira 30cm x 30cm diberi lubang kecil (sering disebut pinhole) berdiameter sekitar 1 mm pada jarak 5cm dari tepi. Melalui lubang ini, cahaya matahari nanti menerobos untuk membentuk citra pada permukaan dalam di bidang bawah. Makin tinggi ukuran kotak, citra matahari semakin besar. Tetapi demi praktisnya, cukuplah jika tinggi kotak antara 50 sampai 80 cm.

Selanjutnya pada tepi bidang atas dibuat lubang melebar sebagai tempat secukupnya bagi kedua mata untuk mengintip ke dalam kotak. Dalam pemakaian, dengan membelakangi matahari, kotak dipegang sambil mata mengintip ke dalam. Kotak dimiring-miringkan sedikit untuk menemukan arah terbaik yang menghasilkan citra matahari pada bidang bawah.

Dua alasan yang membuat kotak ini aman. Pertama karena lubang kecil hanya membolehkan sedikit pancaran matahari yang masuk. Kedua karena kita mengamati dengan membelakangi matahari, menjauhkan mata dari sorotan sang surya.

Prinsip yang sama juga ditemui di tempat lain. Mereka yang tidak sempat membuat kotak dapat bersiap di bawah pohon yang masih meloloskan sedikit cahaya matahari, sehingga dalam keadaan biasa menampakkan bulatan-bulatan terang di tanah. Coba perhatikan bulatan-bulatan kecil itu, pada saat gerhana matahari bentuknya menjadi sabit. Apabila angin berhembus menggoyang dedaunan, sabit-sabit terang itupun bergerak lucu berkeliaran.

Melihat Secara Online

Namun, bagi Anda yang tidak sempat datang ke lokasi-lokasi pengamatan terbaik, tidak perlu ketinggalan untuk menyaksikannya karena tersedia layanan streaming di internet yang menyiarkan secara langsung momentum tersebut.

Observatorium Bosscha bekerja sama dengan sejumlah lembaga astronomi telah menyediakan situs khusus yang bisa diakses secara online. Ada delapan lokasi pengamatan yang direncanakan akan dihubungkan ke internet, yakni di Kota Agung, Kampus Unila (Universitas Lampung), Lighthouse Pantai Anyer Banten, Carita Banten, SMA 89 Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, dan Observatirum Bosscha Bandung.

Lampung dan Serang merupakan daerah utama perlintasan sehingga dapat melihat fase gerhana Matahari cincin. Daerah lainnya termasuk Bandung dan Jakarta hanya dapat melihat gerhana sebagian.

Supaya apa yang diamati bisa dilihat publik, pengamatan-pengamatan itu dihubungkan melalui internet ke server Bosscha. Dari situ diharapkan bisa diakses publik. Selain upaya dokumentasi, layanan ini juga akan lebih memuaskan keingintahuan masyarakat mengenai peristiwa astronomi.

Apalagi terjadinya gerhana Matahari kali ini pada musim hujan. Terbentuknya mendung yang menghambat pengamatan kemungkinannya besar. Dengan adanya pilihan pengamatan di banyak lokasi, peluang untuk melihat peristiwa tersebut tetap ada.

Selain layanan streaming, situs tersebut juga mendokumentasikan peristiwa-peristiwa astronomi yang telah terjadi dalam bentuk foto maupun video. Layanan streaming gerhana Matahari cincin tersedia di: http://bosscha.itb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=67&Itemid=103

Fenomena Angin Matahari Bonus Pengamatan Gerhana

Ketika peristiwa gerhana matahari sedang terjadi, pemandangan sedikit terganggu oleh beberapa kali kedatangan awan tebal yang melintas dan menghalangi pemandangan pengamatan. Namun munculnya awan saat gerhana Matahari sore ini ternyata tidak selamanya mengganggu. Bahkan masyarakat disuguhi bonus fenomena alam yang belum tentu muncul setiap kali ada peristiwa gerhana Matahari.

Namun, beberapa saat setelah puncak gerhana yang terjadi pukul 16.41 WIB, tiba-tiba awan memudar dan Matahari yang tinggal tersisa dalam bentuk sabit karena tertutup Bulan pun muncul. Uniknya bentuk sabit Matahari seolah-olah berada di tengah awan yang berlubang.

Akhirnya momentum puncak gerhana matahari cincin bisa terlihat walaupun hanya terjadi sekitar 80 persen, selain itu momentum ini juga bisa dilihat oleh masyarakat.

Fenomena tersebut terjadi akibat pengaruh angin Matahari. Pengaruh angin matahari sangat membantu agar proses gerhana matahari dapat terlihat. Ketika bulan menutup sebagian besar pancaran cahaya Matahari, terjadi perbedaan suhu tepat di bawah gerhana.

Awan yang ada di bawahnya akan mengalami suhu dingin sehingga terjadi pembekuan. Namun, akhirnya segera memudar dan menyebar untuk mengisi ruangan yang lebih hangat di sekitarnya.Sayangnya angin matahari tersebut terjadi setelah momentum puncak. Tapi, meskipun begitu, fenomena yang indah ini tetap dapat dinikmati.

Selain itu, masyarakat sebenarnya juga diuntungkan oleh mendung yang terbentuk. Awan tersebut menjadi semacam filter cahaya matahari yang sangat menyilaukan sehingga masyarakat bisa melihat langsung dengan mata telanjang.

sebagian foto di dapat dari kaskus

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Info, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , , , | 1 Comment »

Tungkop Dalam Coretan

Posted by freddysetiawan on January 25, 2009

Tungkop adalah sebuah kemukiman yang terletak di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bersama 2 kemukiman lainnya, yaitu Siem dan Lambaro Angan, ketiganya membentuk daerah seluas 76,42 Km2 dan menaungi 29 desa di Kecamatan Darussalam dengan kodepos-nya 23373.

Kemukiman Tungkop sendiri memiliki 12 Desa, yaitu:
1. Desa Lampuja
2. Desa Lam Ujung
3. Desa Lam Gawe
4. Desa Lam Keuneung
5. Desa Lam Puuk
6. Desa Lamtimpeung
7. Desa Limpok
8. Desa Barabung
9. Desa Tungkop
10. Desa Lam Duroi
11. Desa Tanjung Deah
12. Desa Tanjung Selamat (data by: http://www.acehbesarkab.go.id)

Pusat dari Kemukiman Tungkop terletak di Simpang Tungkop (The Junction of Tungkop), sebuah persimpangan tiga yang menghubungkan Kotamadya Banda Aceh, Lambaro Angan dan Cot Keu’eung, yang juga merupakan jalan akses menuju Bandara Sultan Iskandar Muda.

http://wikimapia.org/5917191/Simpang-Tungkop-The-Junction-of-Tungkop

http://en.wikipedia.org/wiki/Simpang_Tungkop

Namun di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri, nama Tungkop tidak hanya berada di Aceh Besar, masih ada Tungkob juga ada di Aceh Barat (pehatikan baik-baik Tungkop Aceh Besar [dengan P] dan Tungkob Aceh Barat [dengan B] ).

Tungkob adalah sebuah kerajaan bawahan Kesultanan Aceh (data by: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kerajaan_yang_pernah_ada_di_Nusantara). Tungkob ini terletak di Pantai Barat Aceh dan merupakan tempat kelahiran pejuang wanita Aceh Pocut Baren, putri seorang uleebalang Tungkob bernama Teuku Cut Amat (data by: http://pusaka2aceh.wordpress.com/2008/01/28/pocut-baren).

Posted in Aceh Lon Sayang, Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: | 5 Comments »

Hanya Sebatas Berbagi

Posted by freddysetiawan on January 24, 2009

Klik di SINI !

Dengan mengunjungi halaman tersebut Kita telah ikut berpartisipasi dalam membantu misi kemanusiaan di palestina. Pihak ceriagames akan menyumbangkan Rp 100 (seratus rupiah) untuk setiap klik (1 klik untuk 1 IP) yang melihat halaman ini, sampai terkumpul dana sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Ajak teman-teman dan rekan Kita untuk membantu krisis kemanusiaan di Palestina. Dukung program ini dengan menempatkan link http://ceriagames.com/support_palestine di website, blog, forum, chat, e-mail, situs jejaring sosial yang Anda miliki, dan sebagainya.

Pihak Ceria Games akan menyumbangkan dana sebesar Rp 100 juta melalui instansi yang berwenang. Jika dana sudah terkumpul sebesar Rp 100 juta dari 1 juta IP maka program tersebut akan diakhiri.

——————————————————————————————–

Ikuti juga polling berikut.

There is a vote in CNN, do you think Israel had a right to attack Gaza?
We are currently losing on the vote.
Please take part and vote visit this site please and forward Thank You.

http://www.israel-vs-palestine.com

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sekilas Info, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , , , | 2 Comments »

Masih Ada Jalan Keluar

Posted by freddysetiawan on January 23, 2009

Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan mendera rasa hati. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. Ketika semua pintu solusi terlihat buntu. Dan kepala serasa hendak meledak, tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Ketika kepedihan merujit-rujit hati. Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke dalam sanubari. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan?

Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam air mata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini?

Allah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Rasulullah bersabda, “Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu.

Ibnul Jauzi pernah berkata, “aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu. Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan. Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Maha suci Allah”.

Sungguh kita semua pasti pernah merasakan kebuntuan hati. Seolah semua jalan keluar sudah tertutup rapat. Maka saat itulah kita baru menyadari betapa lemahnya kita dan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

Menyadari kelemahan bukan berarti pasrah sebelum ikhtiar. Bukan pula pembenaran atas segala kesalahan dan kecerobohan.  Namun sebagai bentuk bersandarnya hati pada Dzat yang Maha Besar yaitu Allah SWT, manakala semua langkah ikhtiar untuk keluar dari permasalahan sudah dicoba.

Saudara-saudara, mari kita tapak jalan takwa, niscaya akan datang pertolongan Allah kepada kita. Dan segala kegelisahan pun akan segera sirna. Wallahu a’lam.

Sumber: Kumpulan kisah islami

Posted in Kajian Islam, Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Ketika Aku Dalam Masalah

Posted by freddysetiawan on January 22, 2009

Ketika berbagai permasalahan, ujian, cobaan dan kegagalan datang menghampiriku secara bertubi-tubi dan tiada pernah berhenti walau sejenak.

Ku ingin ada seseorang yang duduk disampingku…

Ku ingin ada seseorang yang menemani berjalan disisiku…

Ku ingin berbagi pemandangan yang indah ini…

Kuingin seseorang yang bisa diajak berbagi…

Kuingin seseorang menemani hidupku yang mulai terasa sepi ini…

Kuingin seseorang mengingat diriku….

Kuingin seseorang mengerti masalahku…

Kuingin seseorang…
Kuandalkan kalian keluarga tercinta…
Kuharapkan kamu wahai kekasih…
Kuinginkan kamu sahabat…
Kubutuhkan kamu teman…
Kuperlukan kau kawan…
Kuingin berbagi segala kegundahan…

Dan selalu ku mengadu kepadaMu Ya Allah…

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 5 Comments »