Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Menjaring Rembulan

Posted by freddysetiawan on January 11, 2009

Bogor?
Kota ini mengingatkanku tentang perjalananku beberapa waktu lalu, sebuah perjalanan sederhana Sang Pemberontak Penuh Kontroversi Yang Tiada Pernah Berhenti Mencari Jati Diri Di Atas Kebenaran. Di kota itulah, aku menemukan sebuah kepingan rasa, mendapatkan sebuah patahan keindahan dan mencoba menjaring rembulan di siang hari, tapi akhirnya aku memutuskan untuk setia pada satu hati.

Jika kita melihat jauh ke belakang, semua berawal dari kebodohanku yang tiada pernah berhenti berusaha mencari cinta. Aku selalu mencari kemana-mana, aku berusaha menemukan cinta, apapun bentuknya. Terbilang, beberapa kali aku sukses menemukan dan menggapai cinta, dalam wujud wanita yang cantik jelita, mempesona dan indah rupawan, tetapi hanya untuk sesaat. Membuai ku dalam kelembutan diri dan kenikmatan hati. Tetapi hanya untuk beberapa waktu dan selalu berakhir dengan sebuah goresan yang meninggalkan lukisan di hati. Bosan, hilang, hancur dan gagal. Beberapa lukisan masih jelas terlihat, dan mungkin akan selalu terlihat.

Kelelahan ini membuatku mencoba istirahat untuk waktu yang tidak kutentukan, mungkin memang waktunya untuk menikmati kesendirian, menunggu bunga di ujung sana mekar. Aku pun memutuskan untuk memanfaatkan setiap masa muda dengan kebersamaan dengan para sahabat, melakukan perjalanan berharga untuk dikenang di hari tua, bernostalgia dan tertawa untuk hari yang akan datang.

Akhirnya, sambil menikmati hari-hari tanpa beban, perjalanan ke bogor itu pun dilaksanakan, tanpa banyak persiapan dan tujuan, tapi hanya bermodal keyakinan serta sasaran, kami pun menuju ke kota 1000 angkot itu. Ternyata memang hidup bakal lebih penuh dengan kejutan.

Disanalah, dari balik rimbunnya dedaunan, terbit bintang-bintang kecil pantulan cahaya matahari. Seolah mengiring takdir pertemuan dalam perjalanan singkatku ke Bogor ini dengan sang cahaya di sebuah peternakan kampus.

Dan ketika butiran-butiran embun menetes membasahi lidah tanah yang menjulur kehausan, burung-burung berkicau riang sahut menyahut menyanyikan irama cinta. Aku yang sedang beristirahat walau hanya sejenak, mencoba menegaskan cahaya itu bukanlah rembulan yang aku cari, aku belum siap untuk kembali tergelincir. “Ini masih siang hari, rembulan belum hadir“.

Sementara di ujung sana, barisan semut terlihat berbaris rapi di sela-sela rumput membawa butiran-butiran putih ke dalam lubangnya. Dari kejauhan butiran-butiran itu tampak bersinar, bagaikan cahaya yang bersinar ditengah kegelapan.

Bunga mawar pun ikut merekah, tersenyum dan mukanya memerah. “Cahaya telah datang menghiasi kegelapan dan kesuraman” bisiknya dengan lembut kepada angin yang segera berlalu melintasi samudera dan benua. “Ada cahaya yang telah menyinari sebuah hati” sapa angin kepada setiap orang yang dibelainya.

Ada sesuatu di peternakan kampus ini, aku mulai merasa nyaman walau hanya duduk sejenak bersamanya, aku mulai merasa tenang dan damai dengan dirinya, tapi sekali lagi aku belum mau menjaring rembulan. Lagi pula, aku belum terlalu yakin dengan apa yang aku nikmati.

Masih di peternakan kampus itu, bunga-bunga mekar, pohon-pohon berdiri gagah, hewan-hewan tersenyum gembira dan bintang-bintang menari ke sana ke mari mengikuti irama. “Mencintailah sebab cinta itu indah. Bernyanyilah sebab hidupmu berarti karena cinta. Tertawalah karena engkau memiliki cinta. Berjanjilah kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah menyakiti cinta” .

Mendengar kata-kata tersebut, aku tersadar dan yakin, ini bukan waktunya menjaring rembulan (lagi). Aku telah memiliki rembulan yang mampu menemani malamku, menghiasi mimpiku, menjadi pendampingku. Jika pun belum, aku yakin waktu yang telah aku rangkai adalah pilihan yang tepat bagiku.

Cinta begitu mudah terluka. Dia begitu rapuh, perlu dijaga dan dipelihara. Cinta tidak dapat berdiri sendiri sebab cinta membutuhkan pegangan. Aku bukanlah pegangan yang tepat, aku belum siap menjadi sebuah tongkat yang kokoh, aku sedang dan masih harus belajar. Lagi pula, aku tidak dapat menjadi sandaran bagi dua kemudi“. kataku kepada cinta yang telah di ujung panah cupid, hanya menunggu untuk dilepas dan menancap tepat di hati.

Cinta tahu aku telah mengambil keputusan dan siap memegang teguh pendirian, sementara ia masih harus menggenggam dua hati manusia bersamanya, ia harus merangkai jutaan kesendirian hingga sepi lenyap tak berbekas lagi. “Cinta ibarat buah, manis di mulut tetapi harus dicerna dengan benar oleh perut yang benar” bisiknya kepadaku, setelah itu ia pergi entah kemana, mungkin mencari orang-orang yang dapat disatukannya.

Peternakan kampus masih riuh oleh suasana ceria dan penuh pengharapan, tapi mereka tidak tahu, aku tidak akan menjaring rembulan kali ini, tekadku sudah sekeras baja.

Dan ketika aku pulang, ketika hujan membasahi tubuh dan raga ini, ia sama sekali tidak mampu memudarkan pilihan yang teguh ini. Sementara dibalik mata cahaya, tampak cinta itu begitu melekat pada pandangannya, hingga tiap sudutnya termakna ketulusan yang membunga jiwa. Sayang hati ini sudah milik seseorang.

One Response to “Menjaring Rembulan”

  1. justice said

    “Sayang hati ini sudah milik seseorang.”

    hwakakkakakakakaak
    milik siapa?
    sudah adakah buayawati yang mampu menaklukkan buayawan??
    hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: