Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Leo Tolstoy dan Islam

Posted by freddysetiawan on January 12, 2009

Leo Tolstoy dan Islam (By: H. Usep Romli H.M.)

Siapa tak kenal Leo Tolstoy? Ia adalah salah seorang sastrawan terbesar Rusia abad 19. Bahkan paling unik dan paling menonjol di antara sastrawan-sastrawan terbesar Rusia pada zaman itu, dan zaman-zaman sesudahnya, berkat karya-karya dan perjalanan hidup pribadinya. Khazanah sastra dunia mencatat karya-karya Leo Tolstoy dengan tinta emas. Terutama “Perang dan Damai”, “Anna Karenina”, dan “Sonata Kreutzer”.

Tolstoy lahir di Yasnaya Polyana, sebelah selatan Moskow, 9 September 1828. Setelah gagal menyelesaikan kuliahnya di Universitas Krazan, pada usia 19 tahun, ia merambah berbagai bidang kehidupan. Antara lain menjadi tentara di Kaukasus. Selama ikut bertempur melawan suku-suku pegunungan, ia menyelesaikan novel otobiografi “Masa Kanak-Kanak” (1852), diikuti “Masa Remaja” (1854), dan “Masa Muda” (1856). Melalui tiga karyanya ini, Tolstoy mulai terkenal sebagai sastrawan.

Pada usia 34 tahun, Tolstoy menikah dengan Sonya Andreyevna Bers, gadis cantik dari kalangan elite Moskow. Namun dia memilih tetap hidup di perdesaan, mengelola tanah pertanian, serta memberi pendidikan gratis bagi anak-anak penduduk setempat. Pada masa inilah ia menulis roman besar yang amat spektakuler “Perang dan Damai” (1863), kemudian “Anna Karenina” (1873), dan “Sonata Kreutzer” (1878).

Belakangan, karena merasa tidak bahagia dengan kehidupannya, ia menulis buku “Sebuah Pengakuan” berisi paparan yang menunjukkan sikap seorang moralis ekstrem yang mengecam segala bentuk kesenangan duniawi. Ia juga menulis cerita pendek dan artikel-artikel bercorak keagamaan. Hingga pada suatu hari, Tolstoy meninggalkan rumah, tanpa pamit kepada istri dan anak-anaknya. Beberapa hari kemudian, 7 November 1910, ia jatuh sakit dan meninggal dunia di sebuah stasiun kereta api.

Para pengamat sastra Rusia klasik memperkirakan, kematian Tolstoy akibat kekecewaan lahir batin. Keinginannya untuk menghibahkan semua kekayaannya kepada kaum miskin, tak disetujui istrinya. Juga usahanya menerbitkan buku-buku tipis yang akan dibagikan secara gratis agar semua kalangan masyarakat kelas bawah dapat menikmati sastra, tak mendapat dukungan dari siapa pun.

Lebih parah lagi, Tolstoy mendapat kecaman dari pemerintah dan gereja Rusia karena ketertarikannya pada mistik dan moralitas. Padahal ketika namanya menjulang tinggi berkat karya-karya besarnya, Tolstoy dianggap “tiga serangkai” terpenting di Rusia, bersama Tsar (Kaisar) dan Gereja Ortodoks.

Belum ada yang meneliti secara detail dan mendalam, apa yang memengaruhi jiwa Tolstoy. Apa sumber mistik dan moralitas yang menjadikan dirinya berubah seratus delapan puluh derajat.

Ada yang menduga, kemungkinan besar Tolstoy sudah mengalami guncangan mental sejak menjadi tentara di Kaukasus. Ketika itu, pasukan Rusia berhadapan dengan rakyat Dagestan dan Checenia (Chechnya) yang mayoritas penduduknya bergama Islam.

Rakyat Dagestan dan Checenia dipimpin oleh Imam Syamil, tokoh sufi aliran Naqsabandiyah. Untuk menangkap Imam Syamil Rusia menggunakan taktik licik: perundingan dan penyergapan. Setelah tertangkap, Imam Syamil dibuang ke Saudi Arabia, hingga wafat 4 Februari 1871 di Madinah.

Sejak peperangan itu, Leo Tolstoy jadi sering berinteraksi dengan umat Islam. Corak Islam di pelosok Rusia dan Asia Tengah, semasa Tolstoy hidup, cenderung sufistik. Banyak aliran tarekat sufi lahir di sana. Antara lain Naqsabandiyah yang dianut Imam Syamil di Kaukasus Utara. Leo Tolstoy yang punya pengalaman langsung menyaksikan penindasan umat Islam oleh pemerintah Rusia di Kaukasus, juga punya pengalaman langsung dengan kehidupan umat Islam dan para “darwis”, kemungkinan terpengaruh. Walaupun secara de facto ia tetap menganut ajaran Gereja Ortodoks Rusia, namun secara de jure ia seorang Muslim. Bahkan Muslim sufistik yang mengutamakan pengalaman mistik-spiritual.

Paling tidak, ada beberapa pendapat yang menunjukkan kecenderungan kemusliman Tolstoy. Menurut Muhammad Azzat Ismail ath Thahthawi, dalam bukunya “At Tabsyir wal Istisyraq Ahqad wa Hamlat” (1974), hlm. 59-62, Tolstoy tersentuh hatinya tatkala menyaksikan perlakuan aniaya terhadap umat Islam. Ia menyatakan, Islam adalah ajaran yang sempurna. Menyuruh umatnya beribadah untuk kepentingan akhirat serta beramal saleh untuk kepentingan dunia. Melarang umatnya melakukan kerusakan di muka bumi. Ia mengagumi sosok Nabi Muhammad saw yang dianggapnya sebagai juru damai, penegak nilai-nilai kemanusiaan, dan penjunjung tinggi nilai-nilai keilahian. Tolstoy memuji Nabi Muhammad sebagai sosok yang bijak dan patut menjadi contoh terbaik bagi umat manusia, karena memerintahkan pencarian ilmu tanpa henti, penyucian jiwa, dan kekuatan ikhtiar fisik untuk menunjang perjuangan batin melalui doa kepada Allah.

“Perang dan Damai”, “Anna Karenina”, dan “Sonata Kreutzer” merupakan potret asli kehidupan masyarakat Rusia abad 19, yang didominasi kekuasaan Tsar dan Gereja Ortodoks. Tapi setelah menulis “Sebuah Pengakuan”, tema dan visi karya-karya Tolstoy menjadi sangat sufistik. Walaupun masih menggunakan setting bernuansa gereja, unsur-unsur sufisme Islam mulai masuk. Bahkan pada beberapa cerpennya, tampak jadi semacam adaptasi dari kisah-kisah sufisme.

Cerpen “Ziarah”, misalnya (terdapat dalam kumpulan cerpen Leo Tolstoy, berjudul “Ziarah”, terjemahan Anton Kurnia, Jalasutra Yogyakarta, September 2002). Di sana dikisahkan dua petani tua, Efim Sechevelof dan Eliyah Bodroff, berziarah ke kota suci Jerusalem. Di tengah perjalanan, mereka terpisah. Eliyah berhenti di sebuah kampung yang penduduknya sedang menderita kelaparan. Eliyah segera membantu mereka. Memberikan roti bekalnya yang tak banyak kepada setiap mereka, hingga sedikit kenyang. Kemudian membantu mengobati yang sakit. Bahkan keesokan harinya, membantu mengerjakan sawah dan ladang yang terlantar. Sementara Efim terus saja menuju Jerusalem dan berhasil tiba di kota suci itu tepat pada puncak musim ziarah.

Karena sibuk membantu penduduk desa, Eliyah tak dapat meneruskan perjalanan. Eliyah baru berhasil memperbaiki kondisi kehidupan penduduk desa setelah para peziarah pulang kampung. Ketika Eliyah pamitan pulang setelah melepaskan niat ziarah ke Jerusalem, karena sudah lewat masa, penduduk desa yang sudah makmur dan sehat melepasnya dengan berat hati.

Efim punya pengalaman lain. Selama ziarah dan berdoa di Bukit Golgota, ia melihat Eliyah sedang berdoa pula di arah lain. Bukan sekali saja, namun setiap Efim datang ke sana, Eliyah pasti terlihat. Hanya saja Efim selalu gagal mendekatinya karena terdesak terus oleh kerumunan para peziarah lain.

Setelah berada di kampungnya kembali, dan bertemu Eliyah di sana, Efim mencoba bertanya tentang kehadiran Eliyah di Bukit Golgota. Aneh, karena Eliyah sebetulnya tertahan di desa yang mereka singgahi hingga musim ziarah usai. Setiap Efim akan menanyakan soal itu, Eliyah selalu menghindar.

Kisah ini sangat mirip dengan kisah “Ziarah” lain yang sangat terkenal dalam literatur sufi. Yaitu kisah Abdullah bin Mubarak (hidup abad 10) dengan Ali al Muwaffak yang dituturkan kembali oleh Fariuddin Attar (abad 13) dalam buku “Tazkiratul Aulia”, Abu Nuaim (abad 11) dalam “Hilyatul Aulia”, dan penulis-penulis kisah sufi lainnya. Kita ambil versi Attar. Diceritakan, Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Suatu hari ketika ia berdoa di Multazam (bagian terpenting dari bangunan Kakbah), mendengar suara dua malaikat memperbincangkan jemaah haji. Kata malaikat yang satu, dari 600 ribu jemaah haji tahun ini, tak ada seorang pun yang mabrur (diterima hajinya oleh Allah SWT). Malaikat lainnya mengatakan, hanya seorang yang mabrur. Itu pun tidak datang ke Mekkah, tidak melakukan tawaf, sai, wukuf, jumroh, dan tahallul. Orang itu adalah Ali al Muwafak, tukang sepatu yang miskin di Damaskus.

Penasaran, ingin tahu mengapa seseorang yang tak berangkat haji mendapat pahala haji mabrur, sedangkan yang berhaji semuanya mardud (tertolak), berangkatlah Abdullah bin Mubarak ke Damaskus. Begitu sampai, ia langsung mencari Ali al Muwaffak. Setelah bertemu, segera bertanya tentang rahasia kemabrurannya.

Mula-mula Ali menolak, karena tak tahu. Namun akhirnya ia mengira-ngira, mungkin pahala haji mabrur itu karena ia menyerahkan semua uang yang tadinya akan digunakannya pergi ke Mekkah kepada tetangganya, seorang janda tua miskin yang kelaparan. Ali al Muwaffak menemukan janda tua dengan anak-anaknya hendak memakan bangkai, karena sudah benar-benar kelaparan tiga hari tak menemukan makanan halal. Karena kehabisan uang, Ali batal naik haji.

Pengalaman Ali al Muwaffak yang dikisahkan Attar dan para penulis sufi lainnya, persis seperti pengalaman Eliyah dalam cerpen “Ziarah” Tolstoy. Pada cerpen-cerpen lainnya yang terkumpul dalam “Ziarah” tampak sekali kecenderungan sufistik Tolstoy. Banyak tokoh-tokoh yang dilukiskan berwatak “zuhud” (sederhana) dan “wara” (apik) dalam bicara, makan-minum, dan bertingkah laku.

Nasib tragis Tolstoy pada akhir hayatnya mungkin akibat konflik batin berkepanjangan. Ia tak mampu melepaskan diri dari kungkungan lingkungan Gereja Ortodoks dan sistem feodalistik-tirani kekaisaran Rusia. Padahal hasrat dan semangat hidupnya dipenuhi gagasan-gasan sufistik dan mistik Islam yang bebas dan terbuka. Ia sangat mencintai manusia dan kemanusiaan, di tengah kekerasan serdadu Rusia, dengan restu gereja, membunuhi orang-orang Muslim Kaukasus Utara.

Terlepas dari apakah Tolstoy seorang Muslim atau bukan, yang jelas ia telah mengakui misi kenabian Muhammad saw. Ia juga sangat mengutamakan nilai-nilai kebenaran, pahala, dan siksa serta kekuasaan Allah SWT di segala bidang kehidupan.

Berbuatlah kejahatan sesuka hatimu, kelak Tuhan akan menghukummu sesuka hati-Nya,” demikian salah satu kalimat dalam sebuah cerpen Tolstoy.

3 Responses to “Leo Tolstoy dan Islam”

  1. Nasyaruddin said

    Menarik sekali saya membaca sedikit perjalanan Leo Tolstoy. Saya juga penggemar Leo Tolstoy. Tapi ada satu Cerita yang belum diungkapkan yaitu novel “Haji Murat” karya Leo Tolstoy. Leo Tolstoy Sebagai pengagum nilai2 Kemanusiaan, Perjuangan melawan Perbudakan dan Penjajahan serta etika yang santun terlihat dengan novel Haji Murat-nya yang fenomenal…

  2. […] about convertion leo tolstoy dan islam […]

  3. nanda said

    Aulia Rizki Ananda,SMK SITI BANUN

    Sangat mengagumkan sekali biografi leo tolstoy ini…dia adalah tokoh yang patut dicontoh akan semua keimanan dan kecerdasannya terhadap ajaran islam… 🙂
    you’re give us learn and motivate life…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: