Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Sebuah Kisah Tentang Bangunan Tua

Posted by freddysetiawan on January 31, 2009

Aku sering bermain-main ke bangunan tua itu, bangunan tua dua lantai yang bergaya klasik, baik itu untuk bermain-main dan bersilaturahmi, maupun bersembunyi dari kejaran anak-anak yang memaksa aku pergi bersama mereka dalam berbagai urusan yang bahkan terkadang tidak penting dan tidak aku sukai. Sebenarnya aku tidak suka keramaian, aku lebih suka suasana yang damai dan hening, tapi mereka tak pernah dapat mengerti. “Ada urusan” itu alasanku untuk menghindar tanpa pernah memberitahu bahwa disanalah aku bersembunyi.

Rumah tua itu milik seorang Manado yang telah sekian lama pindah ke Jakarta. Pria tua berambut putih keriting, berjanggut putih dan memelihara jambang yang tidak serasi dengan wajahnya. Ia sering mengenakan jas petani yang penuh tambalan dan berwarna kehitaman karena terkena angin dan debu. Setiap langkah harus dia selingi dengan bersandar pada tongkat kayunya.

Ia tinggal seorang diri di rumah tua itu  sejak istrinya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan Tuhan tidak memberinya garis keturunan. Istri yang telah dinikahinya 40 tahun-an yang lalu adalah orang betawi, ia pun begitu tertarik dengan budaya betawi dan kehidupan jakarta tempoe doeloe, ia sering bercerita tentang kota asalnya dulu yang tidak pernah lagi ia kunjungi, ia hanya melihat kota Manado melalui televisi dan surat kabar, ia sering menceritakan kerinduannya pada kampung halaman, tapi ia tidak punya siapa-siapa lagi di sana.

Ia juga menceritakan alasannya pindah ke Jakarta ketika berusia remaja, rasanya hidup sebagai anak tunggal, kerasnya kehidupan di ibukota, keindahan Jakarta waktu dulu, masa-masa ketika ia pertama kali pernah mengemudikan bemo yang muncul di awal era 60-an dan hasratnya untuk mengemudikan helicak, sebuah kendaraan angkutan masyarakat yang mirip antara helikopter dengan becak yang muncul di awal era 70-an yang tidak pernah tercapai olehnya.

Ia cukup senang jika aku berkunjung, itu bukan karena ia kesepian, ia cukup dihormati dan disayangi di desa itu, anak-anak di desa itu pun sering mendengar dongeng dan petuah-petuah singkat darinya, tapi itu karena aku juga adalah seorang anak rantau, ada perasaan senasib yang kami rasakan. Jika ia dari Sulawesi, aku dari ujung barat Sumatera. Bila berbicara denganku, ia tampak bersemangat sekali, seolah usianya menjadi lebih muda beberapa puluh tahun.

Celaka, kematianku telah mendekat.” Katanya beberapa waktu yang lalu, aku cukup terkejut mengingat aku mengenal dia sebagai sosok yang selalu bersemangat dan tidak pernah takut menghadapi kematian. “Aku yakin bahwa ajal akan segera menjemputku. Aku tak bisa menjelaskan darimana aku mendapatkan berita ini. Tapi sepertinya perasaanku yang mengatakan bahwasanya mati akan segera menyergapku. Dari segala arah mata angin, dari langit, dari bawah bumi, dari mana-mana kematian bisa saja segera memeluk jasadku. Oh tidak, bagaimana ini?

Tenanglah kek, kita tak bisa menolak takdir, jika ia datang, maka ia akan datang dan kita tidak dapat menunda dan menghalanginya. Ia akan datang dengan sendirinya tanpa dapat kita atur, yang paling penting persiapkan diri kita untuk menghadapainya” jawabku bijaksana.

Bukannya aku hendak menolak ajal. Aku pasrah dan rela jika memang saatnya telah tiba. Tapi aku masih ingin melakukan banyak hal. Kematian, kenapa kau harus datang begitu cepat? Tunggulah barang beberapa waktu lagi.

Sekali lagi aku sulit mempercayainya, baru kali ini aku melihat tingkahnya yang seperti ini. Aku bingung harus menjawab apa. “Memangnya kenapa kakek merasa kematian akan segera datang?

Memang tak ada yang bisa memastikan bahwa hari ini atau esok kematian akan datang. Tapi entah kenapa, sepertinya perasaanku kali ini bisa dipercaya. Aku memang akan segera mati. Jadi aku harus segera menyelesaikan yang belum terselesaikan, mengakhiri apa yang belum berakhir, serta membagikan segalanya sesuatu yang belum sempat kubagikan. Waktuku amat sempit, aku harus bergegas. Masih banyak tugas yang harus kujalankan. Baiklah, wahai sang ajal, jikalau memang kau hendak jemput aku sekarang. Beri aku kesempatan, aku butuh waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia.

Aku hanya  menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti, entah firasat apa yang didapatkannya sehingga ia benar-benar merasa hal itu akan terjadi, entah hasrat apa pula yang ingin ia kerjakan.

Pernahkah kamu mendenar kisah seorang tukang lentera?” tanyanya tiba-tiba.

Belum

“Dengarkanlah baik-baik” Ia berkata seolah-olah aku seorang anak kecil yang hendak mendengar sebuah dongeng sebelum tidur “Alkisah di sebuah desa kecil, setiap petang lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor penyulut lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling desa menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan menuju tiang lentera berikutnya. Begitu seterusnya dari satu tiang ke tiang berikutnya, makin jauh lelaki tua itu berjalan dan makin jauh dari pandangan kita hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Namun demikian, bagi siapapun yang melihatnya akan selalu tahu kemana arah perginya pak tua itu dari lentera-lentera yang dinyalakannya.

Penghargaan tertinggi adalah menjalani kehidupan sedemikian rupa sehingga pantas mendapatkan ucapan: Saya selalu tahu kemana arah perginya dari jejak-jejak yang ditinggalkannya.

Aku mengangguk mencoba meresapi kandungan cerita pendeknya, tapi aku tidak mengerti. Dan ketika aku bertanya, seperti biasa ia tidak memberikan penjelasan dan jawaban, ia hanya berkata dengan suara beratnya sambil tersenyum dengan gaya khas, “renungkanlah anak muda…

Selama beberapa hari, aku tak mendapat kesempatan untuk mengunjunginya, kesibukanku menghalangi untuk mampir walau hanya sejenak. Dan ternyata, beberapa hari kemudian, sekitar 2 minggu yang lalu, aku mendengar kabar bahwa ia telah meninggal, ia meninggal di kediamannya yang tua itu malam harinya. Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata firasatnya benar-benar tepat. Ajal benar-benar menjemputnya.

Aku bergegas kesana, aku sempat bertanya-tanya siapa yang mengurusinya, apalagi ia tidak memiliki satu orang pun sanak saudara lagi sekarang, sebuah kecemasan aneh dari diriku, syukur jenazahnya diurus oleh warga setempat, karena ia memang orang yang membina hubungan yang baik dengan tetangga dan warga desa, ia adalah sosok yang baik, ramah dan disayangi semua orang.

Di sana, di bangunan tua yang menjadi rumah duka itu suasana memang tidak terlalu ramai, ada beberapa warga desa setempat, ada kepala desa, imam mesjid dan ada pihak keluarga dari istrinya, ternyata ia memang tidak terlalu sendiri, tapi mungkin ia telah terbiasa hidup dalam kesendirian dan ketenangan.

Hari itu langit tampak mendung, hujan tampak akan segera turun. Beberapa hari terakhir hujan memang terus membasahi bumi, beberapa tempat di Jakarta telah kebanjiran. Setelah jenazahnya dimandikan dan dishalatkan, aku turut menghantarnya menuju rumah masa depan sekaligus kediamannya di masa datang.

Ia dimakamkan di belakang bangunan tua itu, tepat di sebelah makam istrinya. Aku memandang sekeliling, sekitar yang nampaknya sunyi, senyap. Kawanan burung gagak bersiul seraya bercengkerama di sudut. Ketika jenazah yang kuiring mulai diturunkan ke liang lahatnya, tanpa henti aku terus menatapnya, aku tak mau melewatkan satu momen pun. Mengedipkan kelopak pun aku enggan. Dalam hati aku ucapkan perpisahan sekaligus selamat kepadanya. Selamat jalan, semoga kau dapatkan tempat yang lebih baik disana. Semoga kau diterima di sisi-NYA.

Sang jenazah telah tertimbun tanah. Doa telah dibacakan. Semua orang termasuk keluarga istri dan tentunya juga keluarganya telah meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri. Aku mulai berpikir, merenung dan membayangkan. Ah, suatu saat nanti aku akan jadi salah satu penghuninya.

Sejenak, aku masuk ke rumah tua yang kini tidak ditinggali siapa-siapa, disana ada salah seorang dari keluarga istrinya, seorang pria berumur 50 tahun-an.

Salam kenal, Freddy, saya teman Kakek” sapaku memperkenalkan diri.

Salam kenal juga, saya keponakannya Kakek” jawabnya ramah.

Kami sedikit saling bercerita tentang seorang Kakek yang tinggal di bangunan tua ini sendirian, melalui cerita sang keponakan, aku jadi mengenal sisi lain sosoknya yang selama ini tidak aku ketahui.

Bagaimana dengan nasib rumah ini?” tanyaku tiba-tiba.

Ia tampak berpikir sejenak, “Entahlah, belum ada pembicaraan lebih lanjut, tapi tampaknya rumah ini akan dijual saja dan hasil penjualannya akan diserahkan ke panti asuhan” jawabnya.

Ada rasa kecewa dalam diriku, bukan kecewa karena hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan, tapi sebuah perasaan kecewa jika rumah ini bakal jatuh ke tangan yang tidak tepat. Rumah ini bergaya klasik, isinya disusun oleh sang Kakek seperti museum, museum kecintaannya seorang Manado kepada jakarta tempoe doeloe, ada foto-foto bemo dan kendaraan-kendaraan yang kini sulit kita jumpai di Jakarta, ada berbagai foto pergelaran acara betawi, ada foto pemandangan jakarta waktu dulu, tersusun rapi sebagai pajangan, ada beberapa alat perkakas tua yang dia simpan, sungguh sayang jika itu semua hilang.

Jika memang rumah ini kelak akan dijual, semoga rumah ini dibeli oleh orang yang tepat, dan barang kali bisa menjadikan rumah ini sebagai museum” jawabku polos penuh harapan.

Ia hanya tersenyum melihat harapanku.

Mungkin aku tidak dapat bermain-main ke sini lagi” kataku lagi sambil melihat-lihat sekeliling. Mengagumi koleksi-koleksi klasiknya. Aku mengambil beberapa foto sebagai kenanganku dengan tempat ini, pamit dan akhirnya pulang ke rumah.

Setelah itu aku terduduk lunglai di kamar. Badanku serasa lemas dan otakku terasa kosong hampa. Dalam hati aku berpikir mungkin suatu waktu nanti, sekali-kali aku akan kesana lagi, untuk melihat apakah bangunan tua itu masih ada, bangunan bergaya klasik tempat sang Kakek menghembuskan nafasnya yang terakhir, ataukah bangunan itu telah diganti dengan bangunan yang lain yang mengabaikan aspek-aspek sejarah.

Beberapa hari yang lalu, ketika aku sedang duduk terdiam di dekat jendela, menyaksikan butir-butir air yang turun dari langit. Aku teringat pada cerita sang Kakek yang terakhir, kisah tentang seorang tua pembawa lentera. Entah kenapa waktu itu aku tidak mengerti, padahal maknanya tidak terlalu sulit untuk dipahami, mungkin aku belum menemukan kunci dari cerita itu, ya kita memang hidup dengan tidak hanya melihat diri sendiri terkadang kita harus melihat apa yang kita tinggalkan kepada orang lain.

Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang membuat diri kita berubah. Seperti halnya perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera berikutnya, kemanapun kita pergi akan meninggalkan jejak. Tujuan yang jelas dan besarnya rasa tanggung jawab kita adalah jejak-jejak yang ingin diikuti oleh putera puteri kita dan dalam prosesnya akan membuat orang tua kita bangga akan jejak yang pernah mereka tinggalkan bagi kita. Setiap orang tentu ingin meninggalkan suatu jejak yang bermakna, yang akhirnya bukan hanya kehidupannya yang akan menjadi lebih baik disana tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya di alam fana ini.

Dan entah kenapa, tiba-tiba aku merasakan jejak yang ingin ditinggalkan kakek adalah bangunan tua itu, entah kenapa, aku merasa ia ingin bangunan tua itu tidak berubah, tempat ia pernah tinggal bertahun-tahun, tetap sebagai sebuah bangunan penuh kenangan,  meski mungkin ia akan difungsikan sebagai sesuatu yang lain. Entah kenapa, pendapatku itu menyelimuti perasaanku sebagai harapannya yang masih ingin dia lakukan.

Tadi pagi, akhirnya aku datang ke rumah tua yang kini tidak berpenghuni itu, rumah itu masih seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah, hanya sedikit kurang terawat, sementara kesan angker juga terlihat dari rumah itu, seolah rumah itu memiliki sejuta misteri yang tidak diketahui siapapun. Aku membayangkan jika rumah ini terus dibiarkan seperti ini, bukan tidak mungkin, beberapa tahun kedepan rumah ini kelak akan menjadi rumah hantu.

Disanalah, aku bertemu dengan keponakan sang Kakek yang kemarin, ia terlihat baru pulang dari tempat kepala desa. Setelah saling menyapa dan bercakap-cakap sejenak, ia menjelaskan bahwa dalam wasiatnya sang Kakek mengharapkan kalau bangunan tua ini tidak dijual, tapi dihibahkan untuk menjadi sebuah panti asuhan dan dipertahankan sebagaimana saat ini.

ini adalah bangunan yang bersejarah” katanya sambil tersenyum.

Ada rasa senang menyelimuti perasaanku, firasatku benar, jejak dari bangunan tua bersejarah inilah yang ingin dia tinggalkan. Sebuah bangunan tua yang kelak akan mengingatkan kita kepada dirinya. Mungkin saja, tiada penyesalan lagi yang dia tinggalkan di dunia ini. Semoga…

2 Responses to “Sebuah Kisah Tentang Bangunan Tua”

  1. yo, freddysetiawan.wordpress.com great name for site)))
    ————————
    internet signature: http://hixoh.ru/

  2. freddysetiawan.wordpress.com – now in my rss reader)))
    ————————
    sponsored link: http://dewat.ru/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: