Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Hujan Yang Menyakiti

Posted by freddysetiawan on February 1, 2009

Banyak hal yang membuat aku benci pada hujan. Mulai dari sepatu putihku yang berubah coklat, celana hitamku yang terciprat lumpur, harus membawa payung, suasana yang dingin, sampai dengan jemuranku yang tak kunjung kering. Ya, aku sangat benci hujan, hujan yang menyakiti. Padahal bulan-bulan seperti ini, nyaris tiap hari hujan. Beberapa tempat di Jakarta yang mulai tergenang air. Banjir lagi.. Banjir lagi.. Terkadang aku lebih senang mendekam di dalam rumah jika hujan turun.

Hujan kala itu begitu deras, menghujam tanah tanpa ampun bagaikan sebuah pisau tajam menusuk sampai ke jantung. Suasana puncak pun begitu dingin, kabut menutupi indahnya pemandangan. Aku pun melerai badai perlahan dengan usap, ratapan menggenang beku, hembusan nafas penuh dengan hawa dingin. Namun hujan masih terus membasahi sekujur tubuh, dan aku pun masih dalam gigil ini.

Ada seseorang gadis di tepi jalan persimpangan, tempat aku berhenti sejenak ketika tak mampu menahan gempuran hujan ketika menuju jalan pulang, ia tampak menengadah ke langit yang kejam, menghunus sebilah ketajaman, lidah kelu yang memaki hujan yang menyakiti, namun merapal sesuatu, tak terdengar jelas.Tangannya bergantian mengepal, memindahkan kepegalan dan mencoba menghilangkan kebekuan. Samar-samar rapalannya terdengar jelas, seperti desah.

Hujan… Kenapa kamu selalu menyakitiku“.

Hujan masih terus membasahi bumi, tak mau berhenti walau hanya sejenak. Sementara aku mulai merasa kedinginan, air hujan yang menyiramiku mulai menyerap perlahan ke dalam kulit, melalui pori kemudian memuara dan bersatu dalam darah. Membuat darahku bergejolak dan menyapa sang gadis.

Aku disampingmu wahai gadis, menemanimu di persimpangan ini, duduk termenung denganmu, menghabiskan hari yang dingin ini. Bersuara-suara lantang tanpa ada yang menghirau, gemamu membekas di persimpangan ini, persinggahan kita. Saat hujan turun, kau yang pertama menepi dan aku mengikutimu, di sudut. Kedinginan itu memaksa kita berbagi hembusan, aku senang membaginya denganmu. Dan ia tidak akan berani menyakitimu karena ada aku disini yang akan menjagamu

Sayang, itu hanya imajinasi, aku tak berani mengatakannya. Aku takut ia akan memandang sinis dan menganggap aku gila.

Hujan mulai reda, aku dan sahabat akan melanjutkan perjalanan, tapi gadis itu masih tidak bergeming, menatap langit penuh kabut, tak lama kemudian ia menatapku sejenak, setelah itu kembali memalingkan pandangannya ke langit, seolah menemukan pelangi yang indah disana dan menyuruhku untuk mempercayainya. Dan ya, aku percaya, karena aku menatapnya juga. Setelah itu aku pergi tanpa berharap dapat bertemu lagi dengan dirinya.

Masih di penghujung negeri itu, hujan kembali turun, kami mencari tempat yang tepat dan kemudian menepi pada sebuah bangunan tua, aku menatap sekeliling, memaknai keadaan. Gedung usang berkumpul menjadi satu, kami pun mengusung tepian sebuah gedung tua itu, merebah, dan terlelap dalam khayal masing-masing.

Ternyata disisi lain ada seorang kakek tua yang juga sedang berteduh, ia juga melakukan perjalanan seperti kami, aku sempat tidak menyadarinya, mungkin karena terlalu larut dalam khayalanku.

Hujan tidak mau berkompromi tampaknya” Ia memulai pembicaraan karena tak ada satupun diantara kami yang menyapanya dan hanya saling diam dalam lamunan masing-masing.

Kami hanya mengangguk setuju. Satu kata seolah terasa begitu berat untuk diucapkan.

Kalian darimana? Mau balik ke Jakarta?” Tanyanya setelah melihat plat kendaraan kami yang berasal dari Jakarta (B)

Iya, mau balik ke Jakarta kek, tadi baru sedikit jalan-jalan dan berpetualang

Setelah itu, kami saling berbicara tentang urusan kami, bercanda dan mengeluh tentang hujan yang menyakiti, sambil sekali-kali mencoba peruntungan mengabadikan setiap momen.

Aku melihat sang kakek tua, ia tampak menengadah pandangannya ke langit jauh, menghunus sebilah ketajaman, lidah kelu, namun merapal sesuatu, tak terdengar jelas. Samar-samar terdengar “Tak sesiapa pun melewati jalanmu, saat itu lenggang yang ada“.

Tangannya bergantian mengepal, dipindahkanlah kepegalan hunusan sebilah ketajaman dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia kembali mendesah, samar-samar dan tidak jelas.

Hujan… Kenapa kamu selalu menyakitiku“.

Aku mendengar bisikannya, begitu lirih. Namun aku tidak dapat berbuat apa-apa, aku masih tidak berani berkata yang tidak-tidak, aku masih takut orang-orang akan memandangku sinis dan beranggapan aku gila. Lagipula ia bukan seorang gadis yang dapat aku berikan kehangatan, mungkin lebih baik jika aku hanya berharap ia dapat melalui hujan yang menyakiti ini.

Tapi percayalah, dibalik hujan yang menyakiti ini, terdapat sebuah rahmat dan karunia dariNya untuk kita semua

One Response to “Hujan Yang Menyakiti”

  1. koleksi said

    Saya sangat suka apa yang kalian cenderung terlalu. seperti pekerjaan pintar
    dan eksposur ! Menjaga mengagumkan bekerja guys Saya sudah ditambahkan kalian blogroll.
    !
    }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: