Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Sudahkah Kita Mengenal Sekeliling Kita?

Posted by freddysetiawan on April 15, 2009

Lihatlah, sungguh betapa seseorang akan lebih senang dan merasa dihargai bila kita dikenal, diketahui namanya, disebut dan dipanggil dengan namanya. Namun seringkali kita terlalu naif, menganggap enteng dan remeh hal-hal seperti itu, kita terlalu egois dan mementingkan kepentingan pribadi dan melupakan kehidupan sosial disekitar kita.

———————————————————-

Kisah (tulisan) ini telah kusimpan didalam email-ku sejak beberapa tahun yang lalu, kusimpan dengan baik didalam folder kisah-kisah motivasi dan inspirasi. Sebuah kisah lama seorang sahabat. Hari ini aku memutuskan untuk memosting tulisan ini disini.

Seperti biasanya, sebagai bapak dengan dua orang anak yang berumur 6 dan 2 tahun, aku sering membelikan bubur di pojok kampung. Karena buburnya yang murah dan enak, sejak pagi sudah banyak antrian yang terbentuk. Bayangkan, hanya dibutuhkan 100 rupiah untuk sepotong gorengan. Memang agak kecil, tapi bagiku sudah murah. Hanya seribu perak dapat 10 gorengan bisa ‘bakwan, tempe, sukun dan sebagainya. Sering aku & istri merasa heran. Istriku pernah bertanya padaku, “Mas, gorengan semurah ini berapa untungnya?”

Hari itu, saat mengantri bubur bersama anakku yang paling kecil, anak penjual bubur menggendong anakku yang paling kecil. Kami memang akrab, namun tidak kenal nama.

Nah, waktu itu anak penjual bubur ditanyai oleh seorang Ibu tua yang buta, seorang tetanggaku, “Azis, kamu gendong siapa?” Jawab Aziz, “Ini, anaknya pak sebelah lapangan.” Ibu buta ini menjawab, “Oh, Pak Seno…”

Hah! Teriakku dalam hati.

Aku selama ini hanya menyebut dia sebagai Ibu Buta dan anak penjual bubur sebagai Anak Tukang Bubur, namun dia tahu namaku! Bahkan aku yang sudah lama di sini tidak kenal dengannya, namun dia menyebutkan namaku hanya dengan tahu lokasi rumahku.

Anak itu mungkin “hanya” anak penjual bubur, namun hatinya jauh lebih lembut dan lebih enak dibanding bubur ayahnya. Ibu itu mungkin buta matanya, namun tidak hatinya.

Kisah ini benar-benar memberikan inspirasi, mungkin kisahnya telah berlalu beberapa tahun yang lalu, mungkin kita tidak akan lagi menemukan gorengan seharga 100 rupiah untuk saat ini, tapi kisah ini akan selalu dan tidak akan pernah berhenti memberikan inspirasi bagi kita.

Lihatlah jarak yang kita buat, banyak orang yang tinggal dalam lingkungan rumah dimana hanya sebulan sekali bertemu dengan tetangga. Tinggal di tengah kota, hidup dikelilingi pagar tinggi dan sistem pengamanan. Kebanyakan memiliki nomor telepon genggam pribadi dan satpam penjaga di pagar. Secara sadar dan sesuai harapan, hal tersebut memang mengurangi kemungkinan munculnya tamu tak diundang, namun sebenarnya hal tersebut juga memutus hubungan dengan orang-orang lain.

Lihatlah, sungguh betapa seseorang akan lebih senang dan merasa dihargai bila kita dikenal, diketahui namanya, disebut dan dipanggil dengan namanya. Namun seringkali kita terlalu naif, menganggap enteng dan remeh hal-hal seperti itu, kita terlalu egois dan mementingkan kepentingan pribadi dan melupakan kehidupan sosial disekitar kita.

Lihatlah ketika kita dipanggil oleh seseorang, apakah kita lebih nyaman jika dipanggil langsung nama atau dengan panggilan “hei”, tentu mengenal dan memanggil nama akan terasa lebih indah dan menyenangkan, bandingkan pula bila kita dipanggil nama atau diawali dengan panggilan penghormatan?, misalnya Aa, Kang, Teteh, Mas, Mba, Uda, Abang atau panggilan lainnya?

Jika kita panggil memanggil dengan teman akrab, tentunya akan saling memanggil dengan nama tanpa embel-embel sebelumnya, tetapi jika kita memanggil orang yang lebih tua, orang yang kita hormati, orang yang kurang kita kenal atau belum kita kenal sama sekali, akan terasa lebih enak didengar jika kita memanggil dengan menggunakan panggilan penghormatan tadi.

Misal ketika kita akan menanyakan arah jalan pada orang yang dipinggir jalan, tentunya akan lebih nyaman jika bertanya dengan kalimat “mas/mbak, numpang nanya, kalau jalan dago ke arah mana ya?“, dibandingkan jika kita menggunakan kalimat “Eh, saya mau numpang nanya, kalau jalan dago ke arah mana ya?

Sudahkah kita mengenal sekeliling kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: