Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

I Love Tugu Tani

Posted by freddysetiawan on May 16, 2009

“I Love Tugu Tani”, Kalimat ini mungkin paling pantas aku ucapkan untuk mengenang kejadian pada selasa 12 mei lalu disekitaran Tugu Tani. Sebuah kejadian aneh nan goblok disekitaran tugu yang terletak di taman segitiga menteng.

Kala itu aku bersama 3 sahabatku dalam jazz biru seolah dikutuk di sekitaran Patung Pahlawan yang dibuat pematung kenamaan Rusia bernama Matvel Manizer dan Otto Manizer. Kami dipaksa mengenal lebih jauh jalan Muhammad Yamin, Haji Agus Salim, Hos Cokroaminoto, Sutan Syahrir, Teuku Umar, Cut Meutia dan sekitarnya.

Sedikit membahas tentang Tugu Tani ini, Patung ini dihadiahkan oleh pemerintah Uni Soviet pada saat itu kepada pemerintah Republik Indonesia sebagai manifestasi dari persahabatan kedua bangsa. Patung ini dibuat dari bahan perunggu, dibuat di Uni Soviet dan kemudian didatangkan ke Jakarta dengan kapal laut. Diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963 dengan menempelkan plakat pada voetstuk berbunyi “Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar”.

Pada kunjungan resmi Presiden Soekarno ke Uni Soviet pada akhir tahun lima puluhan, beliau sangat terkesan dengan adanya patung-patung yang ada di beberapa tempat di Moskow. Kemudian Bung Karno diperkenalkan dengan pematungnya Matvel Manizer dan anak laki-lakinya Otto Manizer. Bung Karno kemudian mengundang kedua pematung tersebut berkunjung ke Indonesia guna pembuatan sebuah patung mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, yang pada saat itu dimaksudkan untuk perjuangan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

Kedua pematung tersebut kemudian datang ke Indonesia untuk mendapatkan inspirasi untuk patung yang akan mereka buat. Mereka bertemu dengan penduduk setempat. Di suatu desa di daerah Jawa Barat mereka mendengar sebuah cerita atau kisah legenda mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak lelakinya berangkat menuju ke medan perang. Untuk mendorong semangat dan keberanian sang anak agar bertekad memenangkan perjuangan, dan juga agar selalu ingat akan orang tua dan tanah airnya, maka sang bunda memberikan bekal nasi kepada anak laki-lakinya. Begitulah kisah yang mereka dengar dari rakyat di kawasan Jawa Barat. Berdasarkan pada cerita tersebut kemudian dibuatlah patung Pahlawan.

Konon, alasan penempatan Patung Pahlawan di kawasan ini adalah karena tempatnya yang luas, memenuhi syarat untuk sebuah patung yang besar. Lokasi tempat tersebut sangat strategis karena merupakan titik pertemuan arus lalu lintas sehingga dapat terlihat dari berbagai penjuru. Tak jauh dari tempat ini terdapat Markas Korps Komando Angkatan Laut Republik Indonesia yang pada masa itu sedang berjuang membebaskan Irian Barat.

Nama-nama jalan disekitaran Tugu Tani yang aku sebutkan tadi juga adalah nama-nama pahlawan, mungkin kutukan tugu tani dan jalan-jalan dengan nama pahlawan ini mencoba mengingatkanku untuk selalu mengenang dan menghargai pahlawan-pahlawan kita, selalu meneruskan kerja–kerja besar kepahlawanan itu atau memulai kerja besar di bidang lain.

Ya. I Love Tugu Tani. Semoga jasa besar seorang pahlawan yang diberikan ke generasi selanjutnya dengan kebijaksanaan dengan tempaan pengalaman sejarahnya mampu kita hargai dengan maksimal dengan mengkonversi inspirasi itu menjadi ledakan energi kerja dan karya untuk memulai atau melanjutkan estafet kepahlawanan itu sendiri.

One Response to “I Love Tugu Tani”

  1. […] « I Love Tugu Tani […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: