Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Kisah penyemir sepatu

Posted by freddysetiawan on June 3, 2009

kejujuran itu langka. Kepuasan itu adanya di rasa syukur.

———————————————————————–

Sebuah kisah seorang sahabat, cukup menginspirasikan.

Siang itu temanku tiba-tiba nelpon. “Makan siang yuk“, ajaknya. “Oke“, jawabku. Diapun menjemputku di lobi Jakarta Stock Exchange Building.

Selepas SCBD, kami masih belum ada ide mau makan dimana. Ide ke soto Pak Sadi segera terpatahkan begitu melihat bahwa yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.

Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado di Kertanegara, bisa makan di mobil soalnya. Sampai di sana masih sepi, baru ada beberapa mobil, kami pun masih bisa memilih parkir yang enak. Mungkin karena masih pada jumatan. Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.

Kami pun memesan dua porsi gado-gado + teh botol. Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol. Tiba-tiba ada seorang pemuda lusuh nongol di jendela mobil kami, kami agak kaget. “Semir om?” tanyanya. Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri? Aku sendiri lupa. Saking lamanya. Maklum, aku kan karyawan sok sibuk. Tanpa sadar tangan ku membuka sepatu dan memberikannya pada dia. Dia menerimanya lalu membawanya ke emperan sebuah rumah. Tempat yang terlihat dari tempat kami parkir. Tempat yang cukup teduh. Mungkin supaya nyemirnya nyaman.

Pesanan kami pun datang. Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatu ku. Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu. Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah. Pandangan matanya kosong. Absent minded. Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir secara otomatis. Kadang-kadang matanya melayang ke arah mobil-mobil yang hendak parkir yang sudah mulai ramai.

Lalu pandangannya kembali kosong. Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana. Tentang kira-kira umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dan lain-lain. Kami masih makan saat dia selesai menyemir. Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju mobil-mobil yang parkir sesudah kami.

Mata kami lekat padanya. Kami melihatnya mendekati sebuah mobil. Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir. Kelihatannya dia memendam kesedihan. Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi. Melangkah lagi dengan gontai ke mobil lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi. Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu.

Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan. Tiba-tiba kami tersadar. Konyol ah. Who said life would be fair anyway. Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir? Hihihi…

Perbincangan pun bergeser ke topik lain. Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi, masih menenteng kotak semirnya di satu tangan, mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa mobil, dia juga mendapat pandangan curiga.

Akhirnya dia kembali ke bawah pohon. Duduk di atas kotak semirnya. Tertunduk lesu.

Kami pun selesai makan. Tiba-tiba aku teringat “Ah iya. Penyemir tadi belum aku bayar“. Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir. Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rupiah.

Dia berkata kalem “Kebanyakan om. Seribu aja“.

BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku. It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.

Aku masih terbengong-bengong waktu nerima uang seribu rupiah yang dia kembalikan. Seribu Rupiah. Bisa buat apa sih sekarang? But, dia merasa cukup dibayar segitu. Pikiranku tiba-tiba melayang. Tiba-tiba aku merasa ngeri. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku. Padahal keadaanku sudah sangat jauh lebih baik dari dia.

Teringat pula betapa banyak orang-orang yang terkadang mengambil yang bukan haknya, mengambil hak orang lain. Padahal mereka sudah cukup dengan kehidupan yang sekarang. Ketamakan, kerakusan yang menghinggapi membuat manusia tidak pernah puas.

Tuhan sudah sedemikian baik bagiku, tapi perilakuku belum seberapa dibandingkan dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.

Siang itu aku merasa mendapat pelajaran berharga. Siang itu aku seperti diingatkan. Bahwa kejujuran itu langka. Bahwa kepuasan itu adanya di rasa syukur.

Sumber: Kumpulan kisah motivasi

One Response to “Kisah penyemir sepatu”

  1. titis said

    aku suka dengan blok saudara….
    isinya kebanyakan tentang motivasi hidup terutama kehidupan pada intinya….
    thanks atas bacaan yang sangat berbobot ini…
    two tumbs 4 u…🙂

    1 lagi, aku menyukai blok ini sejak pertama membaca Sebuah Kisah Tentang Bangunan Tua dan aku mulai menyukainya saat membaca Tangisan Seorang Wanita.
    aku rasa aku akan terus mengikuti blok ini, jadi tetap semangat dan update terus bloknya…. aku akan mengikuti perkembangannya…🙂

    oh iya, aku juga sebelumnya sudah ngepost beberapa artikel di blok anda kedalam note FB-ku. tapi aku tetap mencantumkan link situs anda sebagai referensi agar teman2ku bisa membacanya. yah, sekalian message ini sebagai izin untuk ngerepost artikel anda.🙂

    Regard,
    Titis Arie Sasongko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: