Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Belajar Dari Kisah Hidup Orang Lain

Posted by freddysetiawan on August 12, 2009

Setiap episode kehidupan tentu akan menghadirkan makna ataupun hikmah yang dapat dipetik

———————————————–

Berikut ini adalah sebuah tulisan yang aku kutip dari sharing salah seorang sahabat di milis, sebuah tulisan yang bersumber dari cybermq. Berikut tulisan penulis.

Setiap episode kehidupan tentu akan menghadirkan makna ataupun hikmah yang dapat dipetik. Ada satu kisah ketika saya bertemu dengan sahabat, yang sampai sekarang masih menjadi kenangan yang tak terlupakan. Dua tahun yang lalu sewaktu tinggal di Bandung, kedatangan tamu. Tamu tersebut adalah kakak kelas adik saya, yang sedang tugas belajar di Yogyakarta, Wandi namanya. Ia berasal dari Makassar atau dulu disebut Ujung Pandang. Tingkah lakunya yang sopan dan mudah bergaul, menjadikan saya sangat tertarik untuk berdiskusi dengannya.

Diawali dengan kisahnya setelah lulus sekolah, ia pun bercerita, “Mas setelah lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, sebenarnya saya juga ingin kuliah seperti teman-teman seangkatan. Akan tetapi orang tua mensyaratkan bahwa kemampuan untuk membiayai sekolah cukup sampai SLTA, karena dengan gaji bapak Wandi, Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan bawah, tentunya untuk membiayai pendidikan tinggi sangat berat, ditambah ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa, ” Tutur Wandi sambil menerawang jauh mengingat masa lalunya.”

Ketika orang tua mengatakan hal itu, Wandi pun tak lantas putus asa, ia menyadari bahwa realita kehidupan harus dijalaninya. Kemudian ia putuskan untuk mencari pekerjaan saja, dengan keahliannya yaitu mengajar ngaji. Subhanallah dengan keahliannya itu, ternyata Allah memberikan jalan untuk menjemput rejeki. Dari mengajar anak-anak di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) atau privat yang sudah remaja, dewasa, tidak ketinggalan pula orang tua, dijalaninya sebagai sarana silaturahmi. Wandi jalani semua itu dengan tabah dan tawakal, karena ia menyadari bahwa hal itu sebagai profesinya. Untuk meningkatkan keterampilan dalam bidang komputer, tidak lupa mengikuti kursus Komputer.

Hingga suatu hari sewaktu kursus komputer, ia mendapat brosur lowongan kerja dari suatu instansi pemerintah. Dengan di dorong oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup, Wandi mendaftar dan mengikuti tes penerimaan pegawai.

Sebelumnya tidak lupa ia minta ijin dan mohon doa restu kedua orang tuanya. Alhamdullilah, ia lulus tes tersebut dan akhirnya diterima menjadi pegawai. Setelah mengabdi selama dua sampai tiga tahunan, akhirnya institusi tempat Wandi bekerja, memberikan kesempatan untuk tugas belajar ke Yogya, tentunya ia tidak menyia-nyikan kesempatan itu. Dalam bersaing untuk tugas belajar di Yogya tersebut, ia harus bersaing juga dengan pegawai-pegawai lainnya dari utusan pegawai masing-masing kantor wilayah perwakilan provinsi seluruh Sulawesi. Alhamdullilah, ia lulus dan berangkat tugas belajar ke kota pendidikan. Suatu cita-cita yang telah lama dipendamnya. Cerita itu diakhirinya, karena ia harus istirahat dahulu, sembari dia berkata, “Mas besok pagi ikut ya? Wandi ajak mas ke Cianjur, bersilaturahmi ke rumah bapak asuh, tempat dulu saya menginap sewaktu Praktek Kerja Lapangan di Cianjur, sayapun mengangguk tanda setuju.

Dengan menggunakan bus antar kota, Bandung-Cianjur, kami bertiga : saya, adik bungsu, yang juga kakak kelas Wandi sewaktu pendidikan di Yogya, pergi ke Cianjur. Kurang lebih satu jam kami pun tiba di tempat yang dituju. Setiba di lokasi, Wandi agak lupa rumah bapak asuhnya, kebetulan ia menyebutnya “Bapak Haji.” Dalam hati, saya pikir rumah yang dikunjungi itu bagus dan rapih. Wandipun bertanya ke warga setempat, dengan logat Makasarnya yang tegas, akhirnya kami pun tiba di rumah “Bapak Haji“. Alhamdullilah pak haji masih mengingat Wandi, terlihat dari raut wajahnya tampak usia beliau sudah tujuh puluh hingga delapan puluh tahunan, tetapi tampak beliau masih sehat dan bugar.

Dengan logat Sundanya dia sapa Wandi, walau tetap pakai bahasa Indonesia, karena bapak haji tahu bahwa Wandi, belum faseh bahasa Sunda. “Bagaimana kabarnya, nak?“, “baik pak“, tutur Wandi. Ternyata rumah pak haji itu sederhana sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Diapun bercerita bisa berhaji, karena dengan jalan menabung, diiringi niat yang kuat dan berdoa sehingga diberikan jalan kemudahan oleh Allah Swt, tuturnya kepada kami bertiga.

Alhamdullilah keluarga pak haji menyambut kami selayaknya saudara sendiri, hingga kami dijamu masakan khas Cianjur. Setelah makan siang kami pun berpamitan pulang kembali ke Bandung, pak haji beserta keluarga, merestuinya.

Sebelum berangkat tidak lupa kami mengerjakan sholat dzuhur di salah satu masjid di kota Cianjur. Setiba di Bandung, setelah istirahat terlebih dahulu, malam harinya Wandi berpamitan kepada saya dan keluarga di Bandung, karena kebetulan beberapa hari lagi ia akan wisuda di Yogya. Saya dan keluarga pun melepas Wandi, sambil berpesan, “Jangan lupa kasih kabar ya, setelah tiba Makasar.” Wandi pun menggangguk, sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju setasiun pemberangkatan Kereta Api ke Yogya.

Cybermq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: