Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Makna Olahraga 17 Agustusan

Posted by freddysetiawan on August 17, 2009

Hari ini 17 Agustus, jika tahun lalu aku menulis makna proklamasi, hari ini aku mencoba mengangkat makna olahraga 17 agustusan, tulisan ini sedikit lebih umum daripada rahasia dibalik perlombaan 17 agustus.

Pada setiap kali perayaan HUT RI dipergelarkan, seluruh anggota masyarakat negeri ini mengekspresikan kegembiraannya dalam aneka bentuk dan cara, seperti menggelar panggung hiburan dengan aneka macam bentuk atraksi seni. Namun yang paling mencolok bahkan sudah mentradisi, yakni melakukan kegiatan olahraga macam sepak bola, futsal, voli, bulu tangkis, tenis meja, biliar, lomba lari, balap karung, panjat pinang dan tarik tambang. Mengapa olahraga selalu menjadi salah satu bentuk kegiatan yang diprioritaskan pada perayaan HUT RI? Tentu banyak jawaban yang diberikan. Namun yang paling utama, disamping memiliki nilai hiburan, karena olahraga juga memiliki nilai, kebersamaan, gotong royong, persaudaraan dan persahabatan yang kental.

Aktifitas olahraga yang dipertandingkan, bukan hanya untuk mencapai kemenangan dan mengingkatkan prestise pribadi atau kelompok, tetapi lebih memupukkan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Dengan demikian, kegiatan olahraga pada acara tujuhbelasan dapat dikatakan sebagai arena sosial yang membawa pesan persahabatan yang bermuara pada pesan perdamaian, bahkan rekonsiliasi.

Dan semua aktifitas olahraga yang dipergelarkan, tidak lain merupakan metafor perjuangan dan persaudaraan hidup itu sendiri. Dalam bahasa Yunani, kompetisi atau pertandingan adalah agon, yang berarti perjuangan, akar kata agoni dalam bahasa inggris sama dengan penderitaan. Artinya, perjuangan atau dinamika hidup yang saling mengalahkan perlawanan, keperwiraan untuk mencari keagungan-kesatria, pahlawanan.

Untuk itu, tatkala olahraga diselenggarakan sebagai salah satu bentuk aktivitas untuk merayakan HUT RI, maka menjadi sesuatu yang sangat tepat. Mengapa? Karena ia juga dapat mengidentifikasikan dirinya sebagai pertandingan atau perjuangan kehidupan, yang beridentik pula dengan perjuangan bangsa, baik pada saat mengusir penjajah dan memperebutkan kemerdekaan maupun pada saat mengisi kemerdekaan.

Barangkali juga, karena karakter dari olahraga itu sendiri sebagai sistem yang artifisial, serentak aspek simboliknya yang eksistensial seperti perjuangan dan persahabatan, bahkan juga keindahan dan religiusitas. Semua inilah, yang meskipun tidak disadari, menyebabkan kompetisi-kompetisi olahraga selalu menarik minat masyarakat dan menimbulkan fanatisme serta memupuk semangat nasionalisme.

Di samping itu, olahraga juga memiliki karakter permainan. Dalam bahasa filsuf Immanuel Kant sebagai “sarana”, takni sarana untuk mendapatkan penghasilan hidup dan menjadi kaya, demi pemenuhan kebutuhan hidup. Olahraga sebagai permainan, adalah perbuatan yang dilakukan demi perbuatan itu sendiri, karena bernilai pada dirinya sendiri dan menjadi tujuan bagi dirinya sendiri juga. Dan perjuangan adalah nilai yang menjadi warna-warni dari olahraga, yang memang tidak lain adalah mengalahkan perlawanan yang dibangun, disusun dan diperagakan lawan.

Olahraga secara kiasan atau simbolik yang diperagakan dalam rangka tujuan atau merayakan apapun, kerap dianggap sebagai antisipasi dari tujuan besar atau akhir seluruh semesta kehidupan-eskaton, dimana manusia hidup dan mengaktivisasikan kehidupan hanya untuk merayakan kehidupan itu sendiri, termasuk merayakan perhelatan kebangsaan.

Olahraga dalam memeriahkan HUT kemerdekaan RI adalah menjadikan olahraga sebagai arena permainan, rekonsiliasi, persahabatan dan persaudaraan. Ini semakin penting dan istimewa serta semakin tinggi nilainya karena semua ini berlangsung di saat-saat bangsa ini sedang menapaki ujung penyelesaian krisis multidimensi. Olahraga dapat menyatukan kembali persaudaraan antarwarga, tetangga, lingkungan rumah, sekolah, perusahaan dan organisasi yang selama ini masing-masing dengan kesibukan sendiri, yang terperangkap dalam sebuah paradigma sosial yang kehidupan masyarakat terpusat pada ego dan diri masing-masing.

Inilah momentum untuk bisa membangun kembali tali silaturahmi, sebab tanpa tali silaturahmi dalam suatu masyarakat, maka dalam masyarakat itu akan tumbuh subur fenomena yang sangat mengerikan, yang biasa disebut kematian sosial (the death of social)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: