Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Semuanya di Tangan Kita Sendiri

Posted by freddysetiawan on September 9, 2009

Keberhasilan itu hanya 1% kejeniusan. 99% -nya adalah kerja keras (Thomas Alfa Edison)

———————————————————

Seorang psikolog yang terkenal melakukan sebuah eksperimen luar biasa. Dia dan timnya memberikan sebuah tes IQ kepada seluruh murid di suatu sekolah sebelum akhir masa sekolah. Kemudian mereka memilih sepuluh siswa dan mengatakan pada setiap guru dari siswa itu, “Kesepuluh siswa ini akan berada di kelas Anda. Kami tahu dari tes mereka bahwa secara teknis mereka memang siswa yang cerdas. Anda akan melihat bahwa mereka semua akan menjadi yang teratas di dalam kelas mereka pada tahun ajaran berikutnya. Anda harus berjanji untuk tidak mengatakan hal ini kepada setiap murid, karena akibatnya akan merugikan mereka.” Para guru itu pun berjanji untuk tidak mengatakan apa pun.

Kenyataannya adalah bahwa tak satu pun siswa dari daftar tersebut benar-benar cerdas. Kesepuluh anak itu pun hanya dipilih secara acak dan kemudian diserahkan pada guru.

Setahun kemudian para psikolog itu kembali ke sekolah tersebut. Mereka menguji seluruh siswa. Beberapa dari mereka yang dikatakan cerdas tersbut nilainya naik tiga puluh enam poin. Para psikolog itu mengadakan wawancara dan bertanya kepada para guru, “Menurut Anda bagaimana murid-murid ini?” Para guru itu segera menyahut dengan menggunakan kata-kata sifat seperti “pintar”, “dinamis”, “menyenangkan”, “menarik”, dan sebagainya.

Apa yang telah terjadi pada siswa-siswa tersebut seandainya para guru tidak berpikir bahwa mereka memang cerdas di kelas? Justru guru itulah yang telah mengembangkan seluruh potensi siswa-siswa tersebut.

——————————————————–

Seseorang yang biasa sekalipun, jika ia dilatih, dimotivasi, dan dimaksimalkan, hasilnya akan seperti 10 siswa beruntung tadi. Meskipun ia dipenuhi keterbatasan. Kita lihat bagaimana seorang Thomas Alfa Edison, yang dianggap siswa lamban di kelasnya, akhirnya menjadi salah seorang penemu terbanyak di sejarah modern. Entah bagaimana jadinya jika ia diperlakukan seperti kesepuluh anak tadi, wah.. bisa-bisa bom atom muncul lebih dulu sebelum jamannya einstein.

Kita lihat juga seorang Hellen Keller yang sudah tuli, bisu, buta lagi sejak dia berumur kurang dari 2 tahun. Sebagai seorang biasa, kita mungkin akan bingung bagaimana mengatasinya, bagaimana mengajarinya. Barangkali kita akan berpikir sebaiknya ia dibiarkan hidup, dimanja, dilayani, meski ia tidak akan tahu apa-apa sampai ajalnya. Namun tidak dengan orang-orang dekatnya. Mereka menemuan suatu cara mengkomunikasikan dengan anaknya lewat indra perabanya. Ia pun tidak dimanja, justru dididik dengan keras, hingga akhirnya kita tahu bahwa hellen keller, dengan segala keterbatasannya bisa menjadi seorang pengacara tenar dan penulis ternama di masanya.

IQ kita memang boleh biasa-biasa saja, namun jangan salahkan kita apabila suatu saat kita bisa melampaui seseorang yang dianggap paling jenius di negeri ini.

Jangan pernah menganggap kita adalah seorang rakyat kecil, hanya karena kita tidak punya kekuasaan atas orang disekitar kita. Jangan pernah menganggap kita miskin hanya karena kita tidak bisa membiayai sekolah kita. Dan Jangan pernah menganggap kita bodoh, hanya karena kita kalah pintar dengan pesaing kita. Ingat kata-kata seorang Thomas Alfa Edison yang dahulu pernah dicap bodoh oleh guru-gurunya

Keberhasilan itu hanya 1% kejeniusan. 99% -nya adalah kerja keras

Anggaplah bahwa kita adalah orang yang besar (tidak harus dalam arti fisik tentu) yang mampu membawa orang disekitar kita menjadi lebih baik, orang yang sangat kaya sehingga mampu bersedekah, dan orang yang sangat pintar sehingga mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Namun tentu saja, janganlah kita sombong dan Takabur hanya karena kita menganggap semua itu secara berlebihan. However, Allah is The Greatest.

Insya Allah, itu jualah yang akan dirasakan kita dan orang-orang disekitar kita.

Kondisikanlah orang-orang disekitar kita untuk menganggap kita sebagai orang yang lebih, dan kelebihan itu kelaman akan muncul dalam diri kita dengan lebih cepat dari sebelumnya. Jika kita tidak bisa mengkondisikan orang-orang disekitar kita untuk menganggap kita seperti para guru diatas menganggap sepuluh siswa beruntung, alihkan guru itu dan siswa itu menyatu dalam diri kita. Kita adalah seorang guru yang menganggap diri kita juga sebagai murid yang pandai. Insya Allah, kepandaian itu juga akan datang asalkan kita juga belajar tentu. Semuanya di tangan kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: