Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Posts Tagged ‘aku’

Aku dan Hari Itu

Posted by freddysetiawan on July 3, 2010

Kemarin, Jumat 2 Juli 2010.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 1 Comment »

Aku Dan Engkau

Posted by freddysetiawan on March 29, 2009

Aku (By: Kamalia)

Aku…
Jangan kau tanya mengapa aku begini
Jika kau mahu mendampingiku
Terimalah aku
Sebagaimana aku telah menerima engkau

Aku…
Aku memang begini
Bukan begitu
Terimalah aku dalam keadaan begini
Sebagaimana aku mahu menerima engkau
Dalam keadaan begitu

Aku…
Aku adalah engkau
Jika kau mahu aku menjadi engkau
Tapi sayang seribu kali sayang
Kau bukan aku
Aku bukan engkau…

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Sebuah Pesan Dari Peri Kecilku

Posted by freddysetiawan on November 29, 2008

Perjalananku dengan Peri Kecilku tidaklah panjang, hanya sebuah perjalanan singkat penuh cerita dan makna. Kisah singkat itu belum mampu berlari, hanya berjalan lambat, ia baru melewati tahapan merangkak. Jika kita menghitung dan melihat baik-baik, ia bahkan tidaklah mencapai satuan tahun, disebut berbulan-bulan pun masih terlalu besar. Aku menyebutnya hanya beberapa saat.

Tidak banyak yang ingin aku bagi dalam Perjalananku dengan Peri Kecilku. Cukup sebuah saja. Hanya sebuah pesan dari peri kecilku. Karena ia adalah kisah klasik sederhana yang memberiku banyak pandangan kepada dunia. Bukan cerita milik bersama. Sebuah pesan dari bagian perjalanan singkat yang menjadi salah satu bagian terpenting yang membuat ia tak terlupakan.

Sejak tadi malam sebelum tidur, pagi ini setelah sarapan dan sekarang aku hanya berkutat di dalam garasi. Aku sibuk mengutak atik motor yang akan kupakai untuk balapan yang lusa aku ikuti. Mataku terus terpaku, tanganku tak berhenti bergerak dengan cekatan. Aku berusaha menghasilkan motor yang performanya maksimal.

Tiba-tiba aku terusik oleh ketukan pintu garasi yang kudengar beberapa kali.

Siapa?” tanyaku pada si pengetuk pintu.

Aku” jawab seseorang dari balik pintu. Dia adalah peri kecilku.

Masuk saja” jawabku.

Tak lama pintu terbuka perlahan dan kulihat seorang wanita begitu indah dan mempesona, ia terbang dengan sayapnya yang mungil, mengangkat tubuhnya yang hanya sebesar telapak tanganku. Terbang ke arahku.

Kamu belum makan siang kan? Yuk makan dulu

Aku tersenyum.

Lusa perlombaan itu dimulai. Pusing

Tapi jangan sampe lupa makan juga” Jawabnya sambil tersenyum. “Kalau kamu sakit, nanti malah gak bisa ikutan

Kali ini aku harus juara, aku harus meraih kemenangan” gumamku. Aku sudah bergerak cukup jauh, mulai dari penyisihan, babak kualifikasi dan kali ini aku sudah berada di partai final. Aku tidak mau perjuanganku sejauh ini menjadi sia-sia. Apalagi hadiah hanya diberikan kepada 5 besar. Sedangkan jika gagal memasuki 5 besar, sama saja tersingkir dari awal.

Insya Allah” jawabnya sambil tersenyum.

***

Aku sedang bersiap-siap di atas motor andalanku. Menyalakan mesin yang kini mulai terdengar deruannya meraung-raung. Tatapannya tertuju ke depan. Tampak beberapa dari pembalap saling bertatapan, penuh benci dan sinis, optimis untuk menang. Ada pula yang tidak mempedulikan lawan-lawannya, hanya fokus sambil membacakan doa.

Dalam hitungan ketiga, diikuti bunyi dentuman pistol dan panitia yang mengayunkan bendera menandakan balapan dimulai. Motor-motor langsung melesat cepat dengan suara mesin yang menderu-deru. Ban-ban motor bergesekkan dengan jalan, menimbulkan bunyi decitan saat berbelok.

Beberapa motor tampak saling susul-menyusul. Mereka menggunakan kecepatan penuh. Jarak yang terpaut hanya sedikit. Aku tak tahu berada di posisi berapa, aku berada di tengah, di depanku ada beberapa orang, begitu juga di belakangku. Suara deru mesin makin meraung kencang, tampak beberapa motor saling mendahului.

Aku mulai mendapatkan feel dan merasa panas, semakin kupacu gas untuk mengejar para pembalap yang didepanku. Saling salib-menyalib terjadi, namun akhirnya berhasil kulalui. Tak terasa, hanya tersisa 1 orang didepanku. Kami cukup dekat, situasi cukup tegang, beberapa kali kami bergantian posisi dalam memimpin, meski hanya terpaut sedikit.

Namun pada sebuah tikungan, aku berhasil mengambil celah sempit dan melaluinya, kini aku memimpin di depan. Rasa optimis untuk menjadi pemenang mulai mendatangiku. Rasa sombong pun mulai menghampiriku. Ia tampak mendengus kesal, ia tidak terima. Belum bisa menyusul, ia mencoba terus menempelku. Pada trek lurus ia tampak mendempetku dari samping, membuat motorku oleng sesaat, tapi kemudian berhasil kembali stabil dan tetap memimpin.

Pohon-pohon di pinggir jalan melesat bagai kilatan cahaya. Kabut mulai menipis dengan semakin beranjaknya hari. Untunglah tidak turun hujan, kalau saja itu terjadi, akan semakin sulit medan yang mereka lalui, licin.

Sebuah tikungan tajam berjarak beberapa meter lagi, berada di depan. Mungkin ini tikungan paling tajam dari balapan ini. Jalanan pun makin menyempit. Sementara di kedua sisi terdapat dinding tebing yang tinggi dan kokoh.

Saatnya berbelok. Motor sainganku menjajari tepat di sisiku, membuat motorku sulit untuk mendahului. Jalan yang sangat sempit. Lalu, tiba-tiba ia menyalip cepat dan sempat menyenggolku, aku sempat kehilangan keseimbangan,aku mengendurkan injakan gasnya agar motorku melambat, untung tidak jatuh. Sungguh skill yang luar biasa diperlihatkan olehnya.

Perlahan, aku langsung menginjak gas dalam-dalam, sampai jarum di speedometer menunjukkan kecepatan maksimum. Namun, sesuatu terjadi! Ban motorku tampak menggilas sesuatu yang tajam dan membuat ban kempes. Aku tidak dapat mengendalikan motorku, ia bergerak liar tak tentu arah, ke kiri dan ke kanan jalanan licin dengan tidak terkendali. Aku coba melepas gas dan mengerem, namun motor sedang melaju cukup kencang. Aku pun terhempas dan terjatuh.

Aku jatuh dari motor, reflek tanganku melindungi tubuhku, aku terseret beberapa meter dan terguling, pandanganku mulai gelap, ku dengar suara motor melaju, tampaknya mereka mendahuluiku, semangatku untuk melanjutkan balapan telah sirna, aku kalah, badanku pun sakit semua. Aku masih sanggup berdiri, meskipun agak kelimpungan, kulepas helm dan duduk. Tak lama kemudian ambulance datang. Tim medis pun melakukan pemeriksaan dan mengobati luka-lukaku.

***

Aku terdiam sendiri. Ingin berteriak. Aku gagal. Aku malu. Aku merasa menjadi manusia yang gagal.

Fred…

Suara itu. Aku mengenalnya. Aku sangat mengenalnya. Kudongakkan kepalaku yang sejak tadi kubiarkan tertunduk kaku.

Peri Kecilku…” jawabku lemas.

Suara itu milik peri kecilku, kini ia berdiri di atas pahaku.

Maaf…” aku berusaha mengeluarkan kata pahit itu. “Aku gagal…” kukatakan juga walaupun terasa getir lidah ini mengucapkannya.

Fred, kamu sudah melakukan yang terbaik. Percuma kamu menang kalau yang kamu dapatkan hanya kesombongan dan keujuban diri. Percuma menjadi juara tapi nilai kamu merah di kehidupan nyata, kamu akan angkuh dan takabur. Lebih baik kamu gagal tapi kamu menjadi yang terbaik diantara mereka daripada kamu menjadi yang terbaik tapi dangkal diantara mereka. Toh Tuhan bukan menilai semuanya dari hasil yang kita dapatkan melainkan dari usaha yang telah kita lakukan untuk meraihnya” nasehat peri kecilku.

Ya… Mungkin” jawabku yang masih belum menerima kenyataan

Kenapa kamu sedih?

Aku terdiam.

Kamu sedih karena kamu malu. Takut menerima ‘apa kata orang nanti’, bukan karena kegagalan usahamu. Fred, satu pintu belum terbuka untukmu tapi pintu yang lain telah siap menyambutmu

Entahlah…Aku sedikit kecewa, jauh-jauh sampai ke final, malah kandas tanpa mendapat apapun

Lebih baik pernah berada di final tapi gagal daripada tidak pernah mencicipinya sama sekali.Kamu juga harusnya bersyukur masih diberikan umur panjang, tidak cacat, bahkan tidak luka serius. Kamu juga cukup tangguh dan mampu memimpin kok. Kamu hanya kurang beruntung. Kekalahan hari ini adalah cambuk untuk menang lain kali. Aku yakin kamu pasti bisa“.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya.Tuhan memang tidak pernah melihat hasilnya tapi Tuhan selalu melihat dari usaha yang telah kita lakukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Itulah salah satu dari perjalananku dengan peri kecilku. Aku menyebutnya sebuah pesan dari peri kecilku.

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Pertemuanku dengan Peri Kecilku

Posted by freddysetiawan on November 22, 2008

Hari itu, suatu hari yang cerah, matahari bersinar dengan gagahnya, aku masih mengingatnya dengan baik, hari dimana aku menemukan seseorang yang bakal menemani setiap langkahku. Meski tidak lagi sekarang.

Semua bermula di pagi itu, ketika aku berjalan di sebuah taman antara rumahku dan rumah salah seorang sahabatku. Aku hendak menyampaikan sebuah kabar gembira kepadanya, sebuah kabar yang telah lama kami nanti-nantikan, sebuah berita kemenangan untuk dapat melangkah lebih jauh dan menggapai impian.

Tiba-tiba aku melihat perkelahian, sebuah pertempuran yang tidak berimbang. Sebuah makhluk kecil tak berdaya, hanya seukuran telapak tangan, tampak dipukuli bertubi-tubi oleh dua orang pemuda, badan mereka begitu besar dan kekar, rambutnya botak, tato menempel di tubuh mereka. Mereka terlihat seperti preman jalanan. Tiada henti-hentinya mereka memukul sambil sekali-kali berteriak memaki.

Bukannya aku berlagak sok pahlawan, aku hanya merasa iba melihat kejadian tersebut. Aku berlari cepat mendekati perkelahian. Dan mencoba melerai perkelahian tak berguna itu.

Apa-apaan nich? Pagi-pagi kok buat rusuh?

Heh, diam aja loe anak muda, gak usah ikut campur” jawab salah satu dari mereka.

Oke..oke.. Tapi dia udah gak bisa ngelawan lagi, dia udah KO. Lebih baek kalian akhiri aja

Namun mereka tetap tak bergeming dan terus memukul makhluk kecil tak berdaya itu. Tak tahan lagi melihat keadaan yang menyedihkan itu, aku pun masuk ke dalam perkelahian dan mencoba melawan dan membela.

Oi…. Beraninya main keroyok aja. Berani cuma sama yang lebih kecil. Sini lawan gue” Ujarku lantang.

Perkelahian pun berubah menjadi antara mereka dan aku. Namun aku tidak mampu berbuat banyak. Mereka lebih besar dan tangguh. Aku hanya mampu memukul beberapa kali, selanjutnya aku terus menjadi bulan-bulanan mereka.

Tak lama, mereka tampaknya sudah cukup puas melampiaskan kekesalan dan amarahnya. Tak lama kemudian mereka pun mengakhiri pengeroyokan dan pergi meninggalkan kami, sambil berteriak “Kalau masih mau hidup, jangan coba-coba ngelawan bos. Dan kau bocah, gak usah ikut campur kalau gak mau mati

Aku tidak mempedulikan mereka yang mulai hilang dari pandangan mata, aku mencoba bangkit, berdiri, agak tertatih, lalu kembali ke rumah sambil membawa makhluk kecil itu dalam saku celanaku.

Sesampai di rumah, orang di rumah yang saat itu sedang duduk-duduk santai di teras, terlihat kaget dan khawatir ketika aku pulang dengan memar diwajah.

Ada apa Fred? Kok bisa gini?

Aku pun dibaringkan di ruang tamu, lalu lukaku dikompreskan dengan handuk kecil yang dibahasi air dingin.

Kenapa sih kok bisa luka begini? kamu berkelahi?” tanya mereka.

Gak ada apa-apa kok” jawabku mencoba menghindar.

Selanjutnya aku hanya diam sedangkan mereka tiada berhenti menceramahi. “Berkelahi itu tidak ada gunanya… Jangan kamu ulangi lagi… Jangan cari musuh… Kalau sampai dibunuh gimana…

Iya…iya…tenang aja” jawabku singkat setelah semua luka-luka sudah dibersihkan dan diobati.

Aku masuk ke dalam kamarku, dan kini giliranku untuk mengkompres luka makhluk kecil yang pingsan itu. Aku melihat dia baik-baik, ia sama seperti aku, ia memiliki 2 tangan dan 2 kaki, tampak seperti manusia biasa. Hanya ukurannya yang begitu kecil, sebesar telapak tangan saja, ia memiliki sepasang sayap, mungkin untuk ia terbang, dan ia adalah sesosok wanita. Aku menyebutnya Peri Kecil.

Beberapa jam kemudian, ia terbangun. Ia tak sadar ada dimana, namun ia masih ingat aku, yang mencoba menyelamatkannya dari para “preman jalanan”.

Terima kasih” jawabnya pelan.

Aku menyuruhnya untuk tetap beristirahat, kubawakan makanan, aku pun menyuapkan makanan kepadanya yang masih tampak tak berdaya, sambil sedikit berbasa-basi menanyakan sedikit kronologi kejadian.

Sejak saat itu, dia menjadi temanku, pendampingku, ia menemani setiap langkahku. Kemana aku pergi, ia selalu ikut, kami seperti pasangan yang tidak terpisahkan. Ia dan aku adalah satu. Aku dan Peri Kecilku adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Kami saling melengkapi.

Begitulah awal pertemuanku dengan peri kecilku. Sebuah pertemuan sederhana yang memberikan luka namun melahirkan kebersamaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »