Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Posts Tagged ‘doa’

Berdoa

Posted by freddysetiawan on December 3, 2010

Di tanah suci Mekah dan Madinah, terdapat tempat-tempat mustajab (makanul mustajab) untuk memanjatkan doa atau memohon segala sesuatu kepada Allah SWT. Tempat itu adalah Hajar Aswad, Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, sumur Zamzam (di sekitar Kabah), Shafa, dan Marwah (areal Sa’i). Selain itu, juga Jabal Rahmah, Arafah, Mudzalifah, Mina beserta ketiga Jumrah (pada musim haji dan umrah) serta Raudlah di Masjid Nabawi Madinah.

Keberadaan makanul mustajab itu, melengkapi waktu-waktu mustajab (sa’atu mustajab) untuk berdoa di mana saja, seperti pada waktu sepertiga malam, antara azan dan iqamat, setelah salat fardu, ketika berpuasa, dalam perjalanan, dan sebagainya.Orang yang berdoa pada waktu yang tepat, apalagi di tempat yang tepat, kemungkinan besar akan mustajab. Makbul. Mendapat perkenan Allah SWT. Apalagi Allah SWT memerintahkan orang-orang untuk berdoa kepada-Nya dan niscaya mendapat pengabulan. Ud’uni astajiblakum.

Read the rest of this entry »

Posted in Kajian Islam | Tagged: , | 4 Comments »

Bobot Sebuah Doa

Posted by freddysetiawan on May 29, 2009

Hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa. Kekuatan sebuah doa.

———————————————————

Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar.

Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.
John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut, “Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi“, alasannya.

Read the rest of this entry »

Posted in Kajian Islam | Tagged: | Leave a Comment »

Taubat

Posted by freddysetiawan on February 20, 2009

Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.

Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.

Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.

Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horizontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.

Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah r.a. “Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka menukar agama karena sedikit keuntungan dunia.
(HR. Muslim)

Saatnyalah seseorang merenungi diri dan mengintropeksi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.

Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama ini.

Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah mengatakan, “Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu mencintainya.

Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari.

Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.

Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.

Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. Orang model ini selalu mengatakan, “Besok saya akan taubat.” Ibnu Abas r.a. meriwayatkan, berkata Nabi saw. “Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan taubat (musawwifuun).” Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., “Iblis berkata, aku hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.

Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat.

Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.

Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa.

Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan mujahadah.

Hanya Allah-lah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban.

Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.

Sumber: Kumpulan kisah islami

Posted in Kajian Islam, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 3 Comments »

Doa Seorang Anak Manusia

Posted by freddysetiawan on December 13, 2008

Doa (By: Riaeka P)

Yaa Rabb…
Ijinkanlah aku memanjatkan permohonan kepadaMu untuk yang sekian kalinya.
Karena hanya kepadaMulah aku berharap Dan bisa meminta lebih dari segala keinginan Dan kebutuhanku.

Yaa Rabb…
Keluarkan aku dari tempat yang membuat aku lebih mudah untuk melupakan diriMu.
Jauhkan aku dari tempat dan orang-orang yang Kau benci.
Tempatkan aku di tempat yang memang kau pilihkan untukku.
Dan kumpulan aku dengan orang-orang yang kau kasihi.

Yaa Rabb…
Dikeheningan malamMu yang dulu merupakan saat terfaforitku, kini begitu sunyi.
Tak pernah lagi Kau kutemukan di sana.
Kemanakah diriMu…?
Apakah Engkau telah jauh dariku?
Ataukah aku yang menjauh dariMu dengan segala rutinitasku hingga melupakanMu?

Yaa Rabb…
Jika Engkau jauh dariku.
Bagaimana jika saat aku merindukan dan membutuhkan Mu?

Yaa Rabb…
Aku menyadari betapa aku mengingkari segala nikmat dan kemuliaan yang Kau berikan padaku.
Betapa Engkau menyayangi Dan mengasihiKu meski aku sering melupakanMu.

Yaa Rabb…
Ampunilah khilafku.
Hadirlah kembali dalam kesahduan malamMu.
Pinjamkan kembali “Pedang MalamMu” yang pernah kau pinjamkan kepadaku.

Yaa Rabb…
Hanya kepadamu aku berserah diri.
Hanya kepadaMu aku berharap Dan memohon.
Cukupkan segala kebutuhanku.
Dan tuntaskanlah segala keruwetan yang Ada di depanku.

Yaa Rabb…
Terlalu mudah bagi-Mu membalikkan dunia ini.
Terlalu mudah bagi-Mu untuk menghadirkan mentari hingga tak lagi dari ufuk timur kala terbit di Pagi Hari.
Terlalu mudah bagi-Mu untuk hadirkan sejuta azab Dan siksa atas segala kelalaian umat-Mu.
Namun satu pinta ini, sebelum semua itu terwujud dalam nyata, kembalikanlah ia yaa Rabb.
Tumbuhkan semangat untuk hanya mengharap ridha Dan kasih sayang-Mu dalam Hari-Hari yang dilalui ini.
Tumbuhkanlah rasa ikhlas dalam setiap tindak, ucap Dan langkah ini.
Jauhkanlah segala rasa yang dapat menjadikan aku terjerumus akan dosa.
Jangan sampai saat nanti jika tak ada lagi waktu untukku bersujud pada-Mu, rasa sesal ini masih setia bersama diri ini.

Yaa Rabb…
Kabulkanlah pintaku.
Karena aku masih merindu-Mu.
Amin.

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: | Leave a Comment »

Adakah Yang Mendoakan Kita

Posted by freddysetiawan on November 14, 2008

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

—————————————————————————-

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke.  Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, “Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang” kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya, dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit.

Dengan lembut si Malaikat berkata, “Manusia, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu“.

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat ksembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Kata Malaikat, “Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, “Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya, “Apakah diantara  karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?

Jawab si Malaikat, “Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah“.

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “Manusia, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00“.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan?” kata si pengusaha pelan.

Benar manusia, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.

Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan
kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah
perbuatan menyakiti orang lain. Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Posted in Kajian Islam | Tagged: | Leave a Comment »

Doa Untuk Putraku

Posted by freddysetiawan on October 12, 2008

Ketika aku dalam perjalanan dari bandara menuju rumah di hari ketika aku kembali ke Jakarta. Aku mendengarkan sebuah puisi di sebuah stasiun radio, sebuah puisi yang sangat melekat di hati, sebuah puisi yang dituliskan oleh seorang jendral Mc Arthur di tengah perang pasifik, pada perang dunia kedua, ia adalah seorang Jenderal berkebangsaan Amerika Serikat yang sangat terkenal dengan strategi loncat kodoknya yang berpindah dari suatu pulau ke pulau lain, sehingga tidak dapat di deteksi oleh tentara Jepang. Puisinya itu adalah sebuah puisi yang mengisahkan kecintaan dan harapannya terhadap buah hatinya.

—————————-

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan, godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Aku mohon, Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.
Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya.
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh- sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati.
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki.
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan dan kekuatan yang sempurna.
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia“.

Posted in Hanya Sebatas Coretan | Tagged: , , | Leave a Comment »