Freddy Setiawan’s Journey

Hanya Sebuah Goresan

Posts Tagged ‘Indonesia’

Negeri Ini Negeriku Sayang

Posted by freddysetiawan on July 17, 2010

Apa gunanya reformasi, jika hanya menggandakan jumlah rakyat yang melarat

————————————————-

Indonesia, itulah negeriku ini, negeriku sayang, tanah air tempatku dilahirkan, dibesarkan, tumbuh dan berkembang.

Advertisements

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan | Tagged: , | 2 Comments »

Big Size

Posted by freddysetiawan on June 4, 2009

It’s a Phyton. Pics were taken in Indonesia.

Read the rest of this entry »

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , , , | 1 Comment »

Berbicara Tentang Film Indonesia

Posted by freddysetiawan on March 16, 2009

Suatu saat di dalam kelas kesenian sedang dilangsungkan diskusi seru seputar perkembangan film Indonesia. Pak dosen memberi prolog bahwa saat ini industri film Indonesia sedang dalam gairah-gairahnya.

Yang jadi persoalan untuk didiskusikan adalah bagaimana kualitas film Indonesia saat ini diukur dari ide, kreatifitas, tawaran-tawaran barunya, tematiknya, dan lain-lain.

Maka terjadilah perdebatan seru seputar analisis, kritik dan apresiasi film Indonesia. Ada yang berpendapat bahwa banyaknya film yang diproduksi bukan indikator kemajuan film Indonesia. Ada juga yang berpendapat bahwa bagaimanapun banyaknya film yang sudah diproduksi merupakan bukti kemajuan film Indonesia.

Mahasiswa yang lain berpendapat meskipun film Indonesia saat ini banyak sekali, namun semua tak berkualitas, “masa gak ada bedanya film sama video klip,” katanya. Sungguh seru sekali perdebatan saat itu.

Namun, ada satu mahasiswa yang dari awal diskusi hingga akhir tampak bengong saja seperti enggan terlibat dalam diskusi.

Pak dosen bertanya: “Anton, dari tadi kamu kok diam saja. Apa kamu
nggak suka dengan film Indonesia?

Nggak, Pak. Saya gak pernah nonton film Indonesia
Lho, kenapa?
Nggak ada teksnya, Pak. Kalau film barat kan ada teksnya.
Satu kelas tertawa mendengar kalimat polosnya Anton

Terlepas dari joke diatas, film-film Indonesia yang sudah mulai bangkit, dengan berbagai kreasi dan ide, memang memperlihatkan prestasi yang cukup ‘membanggakan’. Tapi sungguh disayangnya, ternyata beberapa diantaranya diwarnai kegiatan plagiat / contek mencontek ide orang lain.

Coba lihat gambar-gambar poster film Indonesia dibawah ini

Bagaimana menurut anda?
Atau mungkin film luar yang menjiplak film Indonesia?

Sumber: Kumpulan kisah humor

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Mencoba Tertawa, Sebuah Perjalanan, Sekilas Info | Tagged: , | 1 Comment »

Menjadi Presiden

Posted by freddysetiawan on March 2, 2009

Jadilah pemimpin yang setegar karang, sejernih air, dan seterang matahari. Ingatlah bahwa pemimpin yang bijak itu adalah pemimpin yang didepan tidak menggurui, diatas tidak menekan, dibawah tidak menanduk. Jadilah pribadi yang sederhana, karena kesederhanaan itu adalah kemuliaan, kekurangan itu adalah kesempatan, dan keragaman itu adalah kekuatan. Dan kewajiban bagi para pemimpin untuk selalu membangun kualitas diri pribadi dan kualitas orang yang dipimpinnya, bangunlah tim dan kabinet yang solid, yang bersih, yang jujur, yang amanah, yang bekerja keras, yang beriman dan bertanggungjawab. Bangun Indonesia kita menjadi lebih baik dan sejahtera.

—————————————————————-

Tak terasa pemilu sudah di depan mata, tak lama lagi nasib bangsa Indonesia untuk beberapa tahun ke depan akan di tentukan, setelah pemilu legislatif, akan disusul pula oleh pemilu untuk penentuan presiden Republik Indonesia yang selanjutnya.

Berbagai tokoh ingin menjadi orang nomor 1 di negara tercinta ini, mulai dari muka-muka lama, sampai muka-muka baru, mulai dari yang merasa muda, sampai dengan yang dianggap tua, ada yang menjanjikan perubahan yang lebih baik sampai mempertahankan yang sudah dianggap baik.

Persaingan menuju RI-1 tampak semakin panas, berbagai tokoh merasa dirinya paling pantas untuk berada disana, berbagai koalisi dibangun, semuanya dengan tujuan sama, menjadi presiden Indonesia.

Harapanku sebagai rakyat biasa yang biasa-biasa saja tidaklah muluk-muluk, bagi pemimpin yang terpilih kelak, jadilah pemimpin yang setegar karang, sejernih air, dan seterang matahari. Ingatlah bahwa pemimpin yang bijak itu adalah pemimpin yang didepan tidak menggurui, diatas tidak menekan, dibawah tidak menanduk. Jadilah pribadi yang sederhana, karena kesederhanaan itu adalah kemuliaan, kekurangan itu adalah kesempatan, dan keragaman itu adalah kekuatan. Dan kewajiban bagi para pemimpin untuk selalu membangun kualitas diri pribadi dan kualitas orang yang dipimpinnya, bangunlah tim dan kabinet yang solid, yang bersih, yang jujur, yang amanah, yang bekerja keras, yang beriman dan bertanggungjawab. Bangun Indonesia kita menjadi lebih baik dan sejahtera.

Di berbagai milis dan forum sebelah, saya mendapati contoh pemimpin yang benar-benar menggugah hati saya. Sosok presiden yang miskin harta, namun kaya iman. Ia adalah Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad.

Berikut petikan dialognya ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:
Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?
Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:
Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran .

Selanjutnya adalah beberapa gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Read the rest of this entry »

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Dari Van Ophuijsen Hingga Ejaan Yang Disempurnakan

Posted by freddysetiawan on February 9, 2009

1. Ejaan van Ophuijsen

Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.

* Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
* Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
* Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamai’.

2. Ejaan Soewandi

Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.

* Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
* Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
* Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
* Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

3. Ejaan Melindo

Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.

* Perubahan Huruf.
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan
dj djalan, djauh j jalan, jauh
j pajung, laju y payung, layu
nj njonja, bunji ny nyonya, bunyi
sj isjarat, masjarakat sy isyarat, masyarakat
tj tjukup, tjutji c cukup, cuci
ch tarich, achir kh tarikh, akhir

* Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
f maaf, fakir
v valuta, universitas
z zeni, lezat

* Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai
a : b = p : q
Sinar-X

* Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
di- (awalan) di (kata depan)
ditulis di kampus
dibakar di rumah
dilempar di jalan
dipikirkan di sini
ketua ke kampus
kekasih ke luar negeri
kehendak ke atas

* Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat

sumber: Cermat Berbahasa Indonesia

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Info | Tagged: , , | 2 Comments »

Siapa Bilang Boikot Produk AS Pro Zionis Tak Berguna!

Posted by freddysetiawan on January 10, 2009

Kita sudah terlalu sering menulis, membaca dan mendengar tentang boikot produk Israel-AS  sebagai bentuk solidaritas kita terhadap perjuangan bangsa Palestina. Dan seruan boikot itu kembali menguat seiring dengan serangan brutal dan pembantaian Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Bersamaan dengan itu, di Indonesia marak pembukaan pendaftaran untuk berjihad ke Palestina.

Jihad untuk membantu rakyat Palestina tidak melulu harus berangkat ke Palestina untuk ikut berjuang bersama para mujahidin di sana. Di sini pun kita bisa berjihad, salah satunya adalah dengan melakukan boikot semua produk Israel-AS yang banyak bertebaran di negeri ini. Sekali kita memutuskan untuk ikut gerakan boikot ini, kita akan merasakan nikmat jihad itu.

Awal Mula Boikot Produk Israel-AS

Seruan boikot produk Israel-AS pertama kali dilontarkan oleh ulama terkenal DR. Yusuf al-Qaradhawi yang sekarang menjadi ketua Persatuan Ulama Islam Internasional dari tempat pengasingannya di negara Qatar, menyusul Intifadah kedua di Palestina, Intifadah al-Aqsa. Sekedar informasi, intifadah al-Aqsa ini pecah saat Perdana Menteri Israel yang ketika itu dijabat oleh Ariel Sharon dan sekitar 1.000 rombongannya yang bersenjata, memasuki kompleks Masjid al-Aqsa. Intifadah kedua ini berlangsung cukup panjang mulai 29 September 2000 sampai 8 Februari 2005, setelah pihak Palestina dan Israel setuju berdamai.

Ketika situasi di Palestina masih panas-panasnya oleh perlawanan intifadah kedua, pada tanggal 8 Oktober 2000, stasiun televisi Aljazeera menayangkan acara wawancara dengan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi tentang situasi di Palestina. Syaikh al-Qaradhawi adalah seorang ulama dan tokoh Muslim yang dikenal moderat dan sangat dihormati di dunia internasional karena kedalaman ilmunya. Dalam acara itulah, Syaikh al-Qaradhawi mengemukakan bahwa memboikot produk-produk buatan Israel dan Amerika adalah kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia. Ia mengatakan, uang yang kita bayarkan untuk sebotol Coca Cola misalnya, akan menjadi sebuah peluru dalam persenjataan perang Amerika dan Israel yang akan dibidikkan langsung ke arah kita.

Kita telah menyumbangkan uang kita setiap harinya ke McDonalds, KFC, Burger King dan sebagainya tanpa memikirikan akan kemana uang itu pergi. Menurut saya, setiap Muslim harus bertanggung jawab dalam hal ini, atas keluarga dan gaya hidup mereka. Lihatlah orang-orang Amerika yang telah mem-veto resolusi PBB untuk mengutuk aksi serangan tentara Israel di Palestina” kata Syaikh al-Qaradhawi dalam wawancara tersebut.

Syaikh al-Qaradhawi akhirnya mengeluarkan fatwa haram membelanjakan uang yang dimiliki kaum Muslimin untuk membeli produk-produk pro-Zionis Israel pada November 2000 yang berbunyi:

Tiap-tiap riyal, dirham dan sebagainya, yang digunakan untuk membeli produk dan barang Israel atau Amerika, dengan cepat akan menjelma menjadi peluru-peluru yang merobek dan membunuh pemuda dan bocah-bocah Palestina. Sebab itu, diharamkan bagi umat Islam membeli barang-barang atau produk musuh-musuh Islam tersebut. Membeli barang atau produk mereka, berarti ikut serta mendukung kekejaman tirani, penjajahan dan pembunuhan yang dilakukan mereka terhadap umat Islam di belahan dunia lainnya

Syaikh al-Qaradhawi bahkan dengan tegas menyatakan, siapapun yang membeli produk yang terbukti menyalurkan sebagian keuntungan perusahaannya kepada Zionis Israel dan tidak mengindahkan gerakan boikot ini, sama dengan sekutu Zionis Israel sekaligus aktif membunuh rakyat Palestina yang tak berdosa.

Gerakan boikot produk Israel-AS yang berawal dari Qatar ini akhirnya meluas ke seluruh dunia, mulai dari negara-negara Arab sampai ke Afrika, Eropa, Amerika, Asia. Dan dalam dalam jangka waktu kurang dari dua tahun, gerakan boikot ini berhasil memukul perekonomian Zionis Israel.

Dampak Gerakan Boikot di Israel

Tahun 2002, wartawati Totally Jewish, Daniella Peled menulis tentang runtuhnya bisnis restoran Eucalyptus milik pengusaha Yahudi Israel Moshe Bason setelah seruan boikot dari dunia Islam. Restoran yang berlokasi di Yerusalem dan paling tersohor di Israel itu akhirnya kolaps setelah 15 tahun berdiri. Selama dua tahun itu, tingkat penjualannya turun drastis hingga 90 persen karena pengunjungnya makin berkurang.

Tanggal 3 Juli 2002 mantan perdana menteri Israel yang kini menjadi menteri pertahanan Israel, Ehud Barak menyatakan bahwa perekonomian Israel sedang dalam masa kritis. Hal tersebut juga diakui oleh Ariel Sharon -PM Israel saat itu- dan Menteri Keuangan Israel Silvan Shalom. “Investor luar negeri kehilangan kepercayaannya untuk menanamkan modal di wilayah Israel” kata Shalom ketika itu.

Sejak seruan boikot Israel, data statistik resmi menunjukkan jumlah turis yang datang ke Israel menurun cukup signifikan. Dalam satu musim kunjungan di tahun 2002, jumlah turis hanya 33.000 orang, padahal pada kurun waktu sama pada tahun 2001, jumlah turis ke Israel mencapai 116.000 orang. Turunnya jumlah turis, menimbulkan efek berantai dengan menurunnya tingkat hunian hotel di Israel dan penerbangan ke Israel.

Di harian Jerusalem Post, penulis Haim Saphiro mengutip laporan Asosiasi Perhotelan Israel yang menyebutkan bahwa menurunnya tingkat hunian hotel setelah seruan aksi boikot merupakan periode terburuk sepanjang sejarah Israel. Dari laporan itu misalnya diketahui, tingkat hunian hotel di Eilat cuma 10 persen, di Laut Mati cuma 4 persen, di Herzliya cuma 5 persen dan di Haifa cuma 4 persen. Perusahaan penerbangan Israel El Al, menurut CEO-nya Yitzchak Amitai juga terpaksa mengurangi jumlah penerbangan ke Eropa dan AS hingga 10-30 persen.

Karena makin menurunnya jumlah turis, biro-biro wisata Israel sampai menggelar kampanye “Solidarity Tour” untuk mengajak para turis datang ke Israel dan tidak takut akan ancaman boikot itu.

Kerugian juga dialami industri militer Israel akibat intifadah dan gerakan boikot. Akhirnya, pimpinan  Israel Military Industries  (IMI) Arieh Mizrahi dalam rapat resmi dengan Federasi Pekerja Histadrust mengumumkan PHK sekitar 800 hingga 1.000 pekerjanya, menutup sekitar lima unit pabrik senjatanya dan melakukan merger sebagai upaya efisiensi.

Itu cuma beberapa contoh dampak gerakan boikot produk AS-Israel terhadap perekonomian Israel, belum lagi perusahaan-perusaha an Israel yang terpaksa tutup. Sejak gerakan boikot itu dilakukan secara serempak hampir di seluruh belahan dunia, bukan hanya dunia Arab saja, Israel harus menelan pil pahit atas kekejian yang dilakukannya terhadap bangsa Palestina.

Ketika hampir kolaps, AS langsung memberikan bantuan dana jutaan dollar pada Israel. Tahun 2004 dibawah pemerintahan Presiden George W. Bush, AS menjalankan program bantuan dana setiap tahunnya untuk sektor keuangan dan militer Israel,  yang jumlahnya mencapai 20 persen dari total bantuan AS ke luar negeri. Bantuan itu masih disalurkan sampai sekarang. Selain Bush, ada Paul Wolfowitz mantan Presiden Bank Dunia dan pernah menjadi dubes AS di Indonesia, seorang Yahudi garis keras di AS yang memelopori seruan untuk memberikan bantuan pada Israel lewat kampanyenya “Stand With Israel” sehingga hingga saat ini, Israel masih tegak berdiri dan terus menerus membantai rakyat Palestina.

Melihat dampaknya yang cukup besar bagi Israel, gerakan boikot ini terus meluas bukan hanya bidang ekonomi tapi juga pendidikan dan olahraga.
Informasi lebih lengkap tentang gerakan boikot ini bisa dilihat di situs www.inminds.co.uk atau www.boycottisraelnow.com di situs ini terdapat daftar lengkap apa saja produk-produk AS pendukung Israel yang harus diboikot dan informasi gerakan boikot antara lain boikot Israel yang dilakukan para akademisi di Inggris dan seorang atlet Iran.

Boikot Merugikan Indonesia?

Dalam beberapa wawancara di televisi, ada beberapa pengamat di Indonesia yang menyarankan agar masyarakat Indonesia tidak melakukan aksi boikot terhadap produk AS pro Zionis yang ada di Indonesia, dengan alasan akan menyebabkan pengangguran karena yang bekerja disana adalah orang Indonesia juga.

Sungguh amat menyayangkan pendapat yang dangkal dan hanya berpikir pendek. Kalau para pengamat itu cerdas dan melihatnya untuk kepentingan jangka panjang, aksi boikot produk AS pro Zionis ini justru akan menguntungkan Indonesia sendiri. Kalau produk-produk AS pro Zionis itu
tidak laku, akan membuka kesempatan bagi para pengusaha di negeri kita untuk menciptakan produk sendiri dan klop dengan gerakan Cintailah Produk Indonesia, dan itu akan membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas. Kalau menciptakan produk sendiri, pengusaha kita juga akan mendapatkan keuntungan penuh, beda dengan kalau mereka membuka perusahaan franchise asing yang harus membayar iuran franchise-nya
ke perusahaan induknya. Jadi siapa bilang boikot produk AS pro Zionis
akan merugikan Indonesia?

Kembali mengutip pernyataan Syaikh al-Qaradhawi dalam wawancaranya dengan al-Jazeera:

Wahai manusia, tidakkan kalian berpikir? Tidakkan kalian memiliki perasaan lagi?  Persenjataan perang mereka didanai oleh uang kita dan gaya hidup konsumerisme yang mereka paksakan pada kita. Saya bertanya pada kalian semua dengan nama Allah, atas nama ribuan orang yang mati di tangan teroris-teroris itu pada tahun 1948 (saat berdirinya negara ilegal Israel), pada tahun 1967 (perang Arab-Israel) , pada tahun 1973 di Qana, di Dir Yassin, di Bahr al-Bakar, di Jalur Gaza dan di Al-Quds. Mereka telah menjadikan kita sebagai konsumen-konsumen yang buta, yang rela membayarkan uangnya untuk mendanai persenjataan mereka. Boikot mereka sekarang atau takkan pernah selamanya. Dunia Arab dan Islam harus bersatu. Kembalilah dan siapkan persenjataan kita, bangunlah ekonomi agar dapat menghancurkan mereka!

Teman-teman dan saudara-saudara sekalian, sudah saatnya kita membuka mata hati . Boikot produk AS pro Zionis, bukan hanya untuk menunjukkan solidaritas kita terhadap bangsa Palestina, tapi untuk kepentingan dan kemajuan negara kita sendiri. Untuk menjadi negara yang mandiri dan tidak selalu bergantung dan bangga pada produk-produk asing. Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan tindakan yang kita lakukan. Amiin.

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , | 7 Comments »

Ngapain Juga Kita Mikirin Palestina

Posted by freddysetiawan on January 10, 2009

Ngapain Juga Kita Mikirin Palestina
(By: Shofwan Al-Banna Choiiruzzad)

———————————————————-

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

———————————————————————-

Surabaya, 1945

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah atau hancur”.

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

Saudara-saudara rakyat Surabaya. Bersiaplah! Keadaan genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak. Maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati. Dan kita yakin, Saudara-saudara. Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah Saudara-saudara! Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai
tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini
tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza, peralihan tahun 2008-2009

Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul “Cast Lead” ini akan memakan
waktu lama. Hingga kemarin, lebih diatas 800 orang telah meninggal dunia (data pelayanan darurat Gaza: 9 januari 2009, belum termasuk yang tidak diketahui) dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

***

Hati ini sungguh sakit saat ada yang berkata: “Ngapain kita ngurusin Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul“.

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. “Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia” adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati ini lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan “Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!”

Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew.org .

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini. Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: “Ini dadaku, mana dadamu!

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. “Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.

Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif “Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai“.

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina.

Kemanusiaan, keindonesiaan, Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang keadilan, lemah dan tertindas

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , | 5 Comments »

Dukung Indonesia

Posted by freddysetiawan on December 7, 2008

Ada sesuatu disana hari itu.

Dimana?
Di tempat biasa. Dari tempat biasa, ke tempat yang biasa juga. Namun lokasi yang tentu berbeda, tapi biasa-biasa saja bagiku, karena tidak ada yang luar biasa selain tempat yang paling ingin aku kunjungi.

Kapan?
Hari jumat itu, 5 Desember 2008. Hari dimana Indonesia Melawan Myanmar di AFF Suzuki Cup 2008 dan Indonesia dengan permainan cantiknya menggulung myanmar 3-0 tanpa balas.

Ada Apa?
Hmm..Aku masih mengingatnya dengan baik, hari itu, hari dimana 2 kubu berbeda aliran bersatu untuk satu tujuan. Dukung Indonesia. Hari dimana aku mengenal orang yang belum aku kenal, hari dimana aku mengenal orang-orang baru, hari dimana aku berpetualang hingga titik keringat dan batas suara penghabisan, hari dimana aku berjalan lepas dan bebas, hari dimana aku mencari jati diri, hari yang tentunya selalu berbeda dengan hari-hari biasa, hari dimana aku tidak mampu mengungkapkan semuanya dengan kata-kata dan tulisan.  Yang dapat dituliskan hanya 2 kata. Dukung Indonesia.

Mungkin terlalu banyak yang bisa aku tulis dan ceritakan disini, tapi aku tidak ingin merusaknya lewat tulisan ini. Sebenarnya ada sesuatu disana hari itu, tapi biarlah… biarlah ia cukup menjadi sebuah semangat nasionalisme dan terus Dukung Indonesia.

Posted in Sebuah Perjalanan | Tagged: , | Leave a Comment »

Sumpah Pemuda

Posted by freddysetiawan on October 28, 2008

28 Oktober adalah peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang mana Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia hasil rumusan kerapatan pemuda-pemudi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Yang mana tanggal ini ditetapkan sebagai “Hari Sumpah Pemuda

Sedikit mengulas tentang Sejarah Sumpah Pemuda yang aku unduh dari wikipedia

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo (lihat Sugondo Djojopuspito) berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (dimainkan dengan biola saja atas saran Sugondo kepada Supratman, lihat juga Sugondo Djojopuspito). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia. berbunyi :

PERTAMA.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah-darah yang satu : tanah Indonesia.

KEDUA.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu : bangsa Indonesia.

KETIGA.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa yang satu : bahasa Indonesia.

Ketika beraneka-ragam kecenderungan permusuhan atau perpecahan mulai nampak membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita, tatkala suara-suara negatif sebagai akibat kesalahan tentang sebuah persepsi sudah cukup mengkhianati jiwa Sumpah Pemuda, seperti yang kita lihat sekarang ini, maka mengisi Hari Sumpah Pemuda dengan jiwa aslinya adalah amat penting.

Perlulah kiranya selalu kita ingat bersama-sama bahwa Sumpah Pemuda adalah manifestasi yang gemilang dari hasrat kuat kalangan muda Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan agama, untuk menggalang persatuan bangsa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Mereka ini adalah wakil-wakil angkatan muda yang tergabung dalam berbagai perkumpulan.

Lihat saja dalam sejarah bangsa Indonesia, sudah terjadi banyak perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, yang dilakukan oleh berbagai suku di berbagai daerah, baik di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau lainnya. Namun, karena perjuangan itu sebagian besar bersifat lokal dan kesukuan, maka telah mengalami banyak kegagalan. Berbagai angkatan muda dari macam-macam suku dan agama telah menyatukan diri dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda lewat Sumpah Pemuda. Hingga membuahkan keberhasilan mewujudkan negara Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ragam, budaya dan agama, yang terrangkum indah dalam Persatuan dan Kesatuan.

Jadi, jelaslah bahwa Sumpah Pemuda adalah semacam kontrak-politik berbagai suku bangsa Indonesia, yang diwujudkan secara kongkrit oleh wakil-wakil angkatan muda mereka. Sumpah Pemuda adalah fondasi penting kebangkitan bangsa Indonesia dan landasan utama bagi pembentukan negara Republik Indonesia.

Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua bahwa Indonesia ini adalah milik kita bersama, tidak peduli dari kalangan agama atau suku yang mana pun, atau dari kalangan aliran politik yang bagaimana pun. Sumpah Pemuda telah meng-ikrarkan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Tetapi, Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul dihayati atau dipatuhi, kalau semua merasa mendapat perlakuan yang adil. Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul diakui atau ditaati secara bersama dengan sepenuh hati, kalau semua merasa dihargai setara. Adalah pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda, kalau ada golongan yang mau memaksakan secara sewenang-wenang faham keagamaannya atau aliran politiknya. Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua, bahwa di Indonesia tidak boleh ada golongan yang merasa ditindas, dianak-tirikan, dikucilkan, atau diabaikan. Kita semua adalah satu.

Dengan semangat dan jiwa asli Sumpah Pemuda yang dicetuskan dalam tahun 1928, kita perlu berusaha bersama-sama untuk menjadikan Indonesia ini sebagai milik kita bersama. Indonesia adalah untuk semua golongan, yang merupakan berbagai komponen bangsa. Dengan mengibarkan panjji-panji Sumpah Pemuda, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila kita perlu berjuang terus bersama-sama demi kepentingan seluruh rakyat, demi kesejahteraan dan kedamaian berbagai golongan suku, keturunan, agama, dan aliran politik.

Posted in Hanya Sebatas Coretan, Sebuah Perjalanan, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , | Leave a Comment »

Asian Beach Games, Bali 2008

Posted by freddysetiawan on October 26, 2008

Ajang Asian Beach Games (ABG), Bali 2008 hari ini resmi ditutup. Even yang diikuti 45 negara dan berlangsung sejak Sabtu (18 Oktober) lalu itu resmi ditutup di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ungasan, Bali. Dan yang paling membanggakan Tuan rumah Indonesia mengukir sejarah sebagai tuan rumah dan juara umum. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah penutupan yang sangat baik dari tim Indonesia dengan sukses sebagai penyelenggara dan sukses untuk meraih kampiun serta menjadi juara umum di ajang multi event kali ini. Apalagi sudah cukup lama Indonesia tidak menjadi juara umum di ajang multi event, bahkan untuk di tingkat Asia Tenggara saja, SEA GAMES, Indonesia terakhir kali menjadi juara umum di SEA GAMES Jakarta 1997.

Tentu saja predikat juara umum kali ini sangat membanggakan dan diharapkan dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia ke depannya. Dengan raihan 23 emas, 8 perak, dan 20 perunggu membawa kontingen Indonesia keluar sebagai juara umum di ajang ABG edisi pertama.

Upacara penutupan berlangsung megah. Acara diawali dengan instrumen musik dari negara Timur Tengah yang merupakan penyambutan kepada Kota Muchat, Oman, sebagai tuan rumah ABG 2010 mendatang.

Setelah itu, dilanjutkan tari-tarian dari enam pulau besar di Indonesia. Yakni, tari seudati mewakili Pulau Sumatera, tari papatai dari Kalimantan, tari pagelu representasi Pulau Sulawesi, tari reog yang mewakili Jawa, tari pancang pedang melambangkan Papua, serta tari rejon yang merupakan lambang dari Pulau Bali.

Upacara penutupan berlangsung megah. Acara diawali dengan instrumen musik dari negara Timur Tengah yang merupakan penyambutan kepada Kota Muchat, Oman, sebagai tuan rumah ABG 2010 mendatang.

Setelah itu, dilanjutkan tari-tarian dari enam pulau besar di Indonesia. Yakni, tari sedati mewakili Pulau Sumatera, tari papatai dari Kalimantan, tari pagelu representasi Pulau Sulawesi, tari reog yang mewakili Jawa, tari pancang pedang melambangkan Papua, serta tari rejon yang merupakan lambang dari Pulau Bali.

Penutupan Asian Beach Games turut disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla. Memkokesra Aburizal Bakrie, Mennegpora Adhyaksa Dault, dan Ketua Umum KONI Rita Subowo juga turut menyaksikan penutupan Asian Beach Games.

Dalam pidato penutupan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, ABG merupakan bukti bahwa Indonesia sanggup menjadi tuan rumah even berskala internasional. Selain itu, sukses yang diraih Indonesia sebagai juara umum membuktikan bahwa Indonesia bisa berbicara di dunia internasional. Sebuah kepuasan yang sudah lama tidak dirasakan Indonesia di even Internasional. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua negara yang sudah berpartisipasi dalam even ABG tersebut.

Dia juga memberikan apresiasi bagi perjuangan keras para atlet Indonesia sehingga mampu mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional. Sukses sebagai juara umum ABG diharapkan berlanjut di even-even internasional selanjutnya. Tak lupa ucapan terima kasih dan selamat untuk Pemerintah Bali atas kerja sama yang baik dan kesuksesan dalam menyelenggarakan acara ini.

Sementara itu, Timothy Fox, wakil presiden Olympic Council of Asia (OCA), mengungkapkan rasa salutnya atas antusiasme publik terhadap even tersebut. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Rita Subowo, direktur ABG, dan Aburizal Bakrie, chairman ABG.

Selamat bagi kontingen Indonesia telah meraih predikat juara umum di ajang ABG 2008 !!

Posted in Sebuah Perjalanan, Sekilas Info, Sekilas Tentang Dunia | Tagged: , , | Leave a Comment »